Habis Lebaran Terbitlah Urbanisasi

Mudik adalah tradisi besar yang dirayakan bangsa Indonesia setiap tahun. Dalam benak kita, mudik berarti pulang ke kampung halaman, sembari liburan dan bertemu sanak saudara, terutama orang tua. Berbondong-bondong anak muda yang bekerja di kota kembali ke desa. Walaupun sudah ada kecanggihan teknologi komunikasi murah seperti videofon, tidak menyurutkan rindu untuk kembali ke asal.

Momentum mudik menunjukan kepada kita bahwa pembangunan kota-kota besar sejatinya ditopang oleh para  anak muda “pendatang” dari berbagai daerah. Dapat dikatakan, mudik memiliki makna yang unik di kalangan anak muda masa kini, berbeda dari generasi baby boomers, orang-orang tua kita, yang mudik untuk secara rutin membuktikan atau menegaskan “kesuksesan” mereka di kota besar terhadap komunal daerah asal masing-masing.

Juga lain dari generasi sebelumnya yang rentan mendapatkan saksi sosial jika tidak mudik oleh keluarga hingga sanak saudara, sekarang, anak muda yang tidak mudik lebih mudah mendapatkan toleransi sosial karena penjelasan rasional seperti pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan dan mahalnya biaya transportasi. 

Karena bagi generasi milenial dan generasi Z, mudik terutama merupakan sarana rekreasi bersama keluarga dan kerangka penguatan modal sosial-ekonomi, tidak lagi terkait erat dengan nilai-nilai tradisional yang hanya mengutamakan silaturami, tetapi sudah menjadi cara “penyelamatan ekonomi”  pemuda desa dari jebakan kemiskinan, dengan cara membawa kerabat untuk merantau dari desa ke kota-kota besar, pada momentum arus balik.

Urbanisasi dan defisit lapangan kerja

Kebiasaan para pemudik membawa sanak-saudara, terutama yang masih muda, untuk hijrah ke kota-kota besar memiliki kompleksitas tersendiri. Salah satunya, bertambahnya kaum muda yang mengganggur di perkotaan dan kurangnya SDM berkualitas di perdesaan. Ini merupakan tantangan bagi pembuat kebijakan di tingkat pusat hingga daerah.

Pembangunan infrastruktur dan konsentrasi modal di perkotaan yang saat ini gencar dilakukan pemerintah Jokowi-JK, membuat kota semakin menjadi pilihan anak muda untuk hidup dan bekerja.

Akibatnya, terjadi ledakan populasi di perkotaan yang dibarengi dengan defisit lapangan pekerjaan, membuat banyak anak muda menganggur atau memilih bekerja di sektor informal untuk bertahan hidup dengan berbagai resiko yang terkandung di dalamnya.

Maka, arus urbanisasi anak muda, bila tidak disikapi serius, cepat dan memadai, negara ini akan menerima kerugian yang cukup signifikan yang timbul dari anak muda yang menganggur di perkotaan dan telantar di perdesaan.

Situasi ini akan semakin parah bila pemerintah dan swasta tidak mampu menyediakan lapangan pekerjaan dan tidak berhasil menempa kapasitas anak muda agar dapat beradaptasi dengan laju industri 4.0. Bukan hal yang tidak mungkin, jika kondisi tersebut akan membuahkan depresi massal, konflik sosial, hingga anomie politik yang memiliki daya rusak serius.

Kenapa anak muda meninggalkan desa?

Sepanjang sejarah urbanisasi di Indonesia, kota masih menjadi tempat impian bagi para pemuda desa untuk belajar, bekerja, atau berbisnis. Meskipun karakter kota berbeda-beda, harus diakui layanan sosial di kota masih jauh lebih baik dari pada di desa. Walaupun, di sisi lain, masih banyak kota yang kelabakan menyerap, melayani, atau memanfaatkan ledakan populasi anak muda.

Kurangnya keterampilan anak muda untuk bekerja masih menjadi isu sentral bagi dunia usaha. Hal ini disebabkan kemampuan teknis dan teknologi yang dipelajari di sekolah, khususnya di daerah, tidak kompatibel dengan kebutuhan di tempat-tempat kerja saat ini. Ketidakcocokan antara permintaan dan penawaran di pasar tenaga kerja menunjukan bahwa lembaga pendidikan atau Balai Latihan Kerja (BLK) yang diselenggarakan pemerintah maupun pihak swasta belum mampu menyelaraskan kualifikasi anak muda dengan kebutuhan industri di tingkat lokal.

Akibatnya, kesenjangan pendidikan antara daerah perkotaan dan perdesaan menjadi faktor pemicu kesenjangan pertumbuhan ekonomi antara desa dengan kota. Hal ini yang mendorong anak muda meninggalkan desanya menuju kota, untuk mendapatkan peluang belajar dan bekerja yang lebih baik. Menariknya, semakin tinggi pendidikan yang diakses kaum muda, semakin membuat mereka memilih meninggalkan desanya dan menetap di kota.

Pada saat bersamaan, interaksi media sosial dan banjir informasi gaya hidup urban mulai menyusup ke dalam benak anak-anak muda rural, yang ikut merubah paradigma mereka untuk memilih bekerja di sektor industri ketimbang mengembangkan pertanian.

Kecenderungan tersebut juga ditopang oleh infrastuktur transportasi yang dapat menunjang mobilitas anak muda untuk berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain. Bagi generasi muda, urbanisasi dianggap sebagai jalan utama untuk keluar dari “jebakan kemiskinan” dan membantu keluarga di desa untuk mendapatkan pemasukan tambahan. 

Namun pada kenyataanya, anak muda yang melakukan urbanisasi sulit mendapatkan lapangan pekerjaan layak di kota, terutama mereka yang hanya lulusan SMA atau yang bahkan tidak menyelesaikan pendidikan SMP. Mereka akan mengalami masa menganggur yang lebih lama daripada yang mereka bayangkan untuk mendapatkan pekerjaan di kota.

Upaya mencari pekerjaan seringkali membuat anak muda putus asa, yang akhirnya membuat mereka semakin rentan dieksploitasi, bahkan dimanipulasi, oleh perusahaan atau oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Untuk bertahan hidup mereka terpaksa “berdagang seadanya”, tinggal di tempat-tempat kumuh, atau malah terlibat tindak kejahatan. Alih-alih ingin meninggalkan kemiskinan dengan pergi ke kota, banyak anak muda malah tersekap lingkaran setan kemiskinan (the vicious circle of poverty).

Yang dapat kita lakukan

Anak muda dapat mendorong pemerintah untuk menyediakan lapangan kerja, promosi kewirausahaan, pembangunan infrastrukur, dan partipasi pemuda di tingkat desa. Dengan menyediakan pelatihan yang relevan dengan perkembangan zaman yang berorientasi pada pembangunan desa dan kapasitas kepemudaan.

Tanpa adanya pertumbuhan dan peluang ekonomi di desa, anak muda akan terus merantau ke kota, dan kota tidak akan pernah mampu untuk menyerap seluruh tenaga kerja anak muda. Dengan demikian kita perlu berkolaborasi dengan pemerintah daerah, swasta, dan elemen masyarakat lainnya untuk menciptakan dan memastikan ekosistem penciptaan lapangan kerja atau peluang usaha berbasis pada potensi sumber daya (kultural maupun material) desa yang dipadukan dengan inovasi teknologi.

Semua upaya positif tersebut harus bermuara pada peningkatan partisipasi pemuda dan  layanan yang representatif, komperhensif, inklusif, sekaligus mudah diadopsi secara berlanjut di tingkat desa. Karena, secara umum, pemuda desa belum efektif terlibat dalam proses dan keputusan perencanaan desa. Keputusan strategis desa selalu diputuskan oleh para sesepuh yang bahkan belum sadar bahwa dunia sudah berubah.

Padahal di era ini, kebutuhan pemerintah desa terhadap partisipasi pemuda dalam proses pengambikan keputusan pada Musyawarah Perencanaan dan Pembangunan (Musrenbang) Desa adalah hal yang sangat penting bagi kemakmuran desa dan kemajuan pemuda. Ada kebutuhan rill bagi anak muda untuk terlibat dalam pembangunan desa di masa kini untuk mencapai masa depan yang gemilang, tanpa perlu lagi “berjudi” ke kota.

Related Article