Anies Baswedan: Kasus Positif di Jakarta Bisa Mencapai 30 Ribu

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyatakan jumlah kasus positif COVID-19 di Jakarta sebenarnya bisa mencapai 30 ribu.

Meski hingga Senin (11/5) pengumuman resmi menunjukkan kasus di Indonesia berjumlah 14.265 dan 5.276 di antaranya terdapat di Jakarta, Anies meragukan dan tidak ingin mengandalkan data tersebut. Pasalnya, sejak awal ia mengaku frustrasi terhadap komunikasi Kementerian Kesehatan yang kurang transparan.

"Dari pihak kami, bersikap transparan dan memberitahu masyarakat apa yang harus dilakukan untuk memberikan rasa aman. Tetapi, Kementerian Kesehatan beranggapan sebaliknya, bahwa transparansi akan membuat panik," jelas Anies kepada The Sydney Morning Herald.

Menindaklanjuti ketidakpuasannya terhadap data pemerintah pusat, Anies mengacu jumlah pemakaman DKI Jakarta yang terus naik per April 2020 menjadi 4.590 pemakaman, meningkat dari bulan Maret yang berjumlah 4.377 pemakaman. Tanpa pandemi, hanya ada sekitar 3.000 pemakaman tiap bulannya di Jakarta.

"Peningkatan kematian ini kemungkinan besar karena kasus COVID, dan jika [angka kematian] 5 sampai 10 persen, mungkin di luar sana ada sekitar 15 hingga 30 ribu orang yang terinfeksi [di Jakarta]. Kami pikir jumlah (kematian dan infeksi) jauh lebih tinggi dari apa yang dilaporkan oleh Kemenkes," ujarnya.

Selain itu, rencana pelonggaran PSBB dan lampu hijau bagi warga di bawah 45 tahun untuk bekerja seperti sediakala bikin usaha menekan laju penularan COVID-19 makin runyam. Padahal menurut para ahli dan epidemiolog, Indonesia dinilai belum mempunyai alat ukur yang dapat diandalkan, misalnya, kurva untuk mengetahui peningkatan atau penurunan kasus.

Meski optimistis dengan pergerakan pemerintah Indonesia saat ini, yang tengah berupaya meningkatkan daya uji laboratorium serta kapasitas tes, Anies tidak mau gegabah menyatakan bahwa kehidupan masyarakat akan kembali normal di bulan Juli, sebagaimana kasus positif diprediksi menurun pada bulan Juni.

"Kenapa saya tidak mau memprediksi? Karena saya melihat data, itu tidak mencerminkan akan segera berakhir. Itu yang dikatakan oleh epidemiolog. Ini adalah saatnya para pembuat kebijakan harus mempercayai sains," ujar Anies.

Berkat kesigapan dan polemiknya tentang kebijakan dengan pemerintah pusat, Anies kerap disandingkan dengan Gubernur New York Andrew Cuomo. Walau banyak diremehkan pada awal masa jabatannya, kini Cuomo banyak menuai pujian atas kesigapannya dalam mengatasi pandemi. Seperti Anies, Cuomo tidak serta-merta sepakat dengan kebijakan pemerintah pusat yang kerap kali bertentangan dengan anjuran sains.

Related Article