post

Current Affairs

Gender Reveal Party Berujung Malapetaka: dari Kebakaran Hutan sampai Kecelakaan Pesawat

Permata Adinda, 15 September 2020

Warga California dikagetkan dengan warna langit oranye tua yang menyapa mereka di pagi hari. Abu berjatuhan dari langit dan menempel di pepohonan, atap rumah, dan jalanan. Burung-burung yang biasanya berkicau di pagi hari tidak lagi terdengar. Suasana pagi yang seperti diambil langsung dari adegan film post-apocalyptic ini hingga dibandingkan dengan film Blade Runner 2049.

Sepanjang 2020, kebakaran hutan di California memang telah memecahkan rekornya sendiri, dengan enam kejadian di antaranya masuk ke dalam 20 besar kebakaran terparah sepanjang sejarah. Hingga kini, tercatat lebih dari 1 juta hektar wilayah hutan telah terbakar dan menyebabkan lebih dari 5.000 bangunan hancur, 37 orang luka-luka, dan 12 orang meninggal dunia.

Ada banyak faktor penyebab kebakaran, seperti gelombang panas dan angin pembawa udara panas dan kering yang intensitasnya semakin diperparah oleh krisis iklim. Namun, ada satu penyebab yang terlampau konyol: gender reveal party atau pesta pengungkapan gender yang telah menyebabkan lebih dari 5.000 hektar hutan California terbakar dan 16 bangunan hancur atau rusak (hingga 10/9).

Seperti namanya, pesta ini diselenggarakan pasangan atau seseorang untuk mengumumkan jenis kelamin bayi yang masih ada di dalam kandungan. Biasanya, tamu-tamu akan diminta untuk menebak terlebih dahulu jenis kelamin bayi untuk kemudian diumumkan di akhir acara. Namun, penyelenggara acara kerap kelewat kreatif hingga acara bisa jadi tak terkontrol.

Dalam kasus pesta yang menyebabkan kebakaran di timur San Bernardino, kemunculan api dipantik oleh “perangkat piroteknik yang menghasilkan asap”. Lebih dari 500 petugas pemadam kebakaran dan empat helikopter dikerahkan untuk memerangi kobaran api ini, dan dikabarkan baru 10% dari wilayah terbakar yang berhasil dipadamkan.

Ini bukan pertama kali sebuah gender reveal party berujung malapetaka. Tiga tahun yang lalu, pesta serupa telah menyebabkan lebih dari 19 ribu hektar hutan Arizona terbakar dan menyebabkan kerugian hingga US$8 juta. Insiden ini dimulai ketika sebuah target bertuliskan “laki-laki” dan “perempuan” yang telah berisi bahan peledak ditembakkan—menghasilkan ledakan awan berwarna biru yang kemudian menjalarkan api hingga jadi tidak terkendali.

April lalu, gender reveal party yang menggunakan bahan peledak sama juga mengakibatkan empat hektar hutan di Florida terbakar.

Budaya pesta yang semakin lama semakin populer di Amerika Serikat dan berbagai negara lain ini pun telah memantik kecelakaan lain hingga orang yang pertama kali mengadakannya menyerukan agar pesta serupa tak lagi diadakan. Pada 2008, ketika blogger Jenna Karvunidis mengadakan pesta ini untuk pertama kalinya, ia hanya memotong kue untuk memperlihatkan frosting di dalamnya yang berwarna merah muda—menandakan bahwa anaknya perempuan.

Kini, bukan hanya bahan peledak, berbagai macam perangkat berbahaya pun dimanfaatkan untuk membikin acara lebih meriah. Pada November 2019, pesta ini berujung pada kecelakaan pesawat. Pesawat diterbangkan supaya 1.300 liter air berwarna merah muda dapat ditumpahkan dari atas ke tanah. Terbang terlalu lambat, pesawat ini berhenti di tengah udara dan akhirnya jatuh ke tanah—menyebabkan seorang penumpang luka-luka.

Ada pula perayaan yang berakhir membuat sebuah mobil meledak. Terjadi di Australia pada Juli 2019, mobil yang sedang melaju menyemprotkan asap berwarna biru untuk menunjukkan si calon anak berkelamin laki-laki. Acara ini awalnya berjalan tanpa insiden—tetapi api langsung menyembur keluar ketika mobil berhenti. Sebelumnya, perayaan yang juga semakin populer di Australia ini juga telah menyebabkan kecelakaan-kecelakaan serupa—hingga pihak otoritas mengeluarkan peringatan bahaya “burnouts”.

Ada pula acara yang melibatkan seekor buaya: sebuah balon dikaitkan ke tongkat dan diumpankan ke buaya. Balon yang kemudian meledak itu pun mengeluarkan serbuk berwarna merah muda. Dalam perayaan lain, umpannya adalah buah semangka: ketika semangka itu digigit oleh si buaya, isinya menyembur keluar--mengeluarkan jeli berwarna biru. Hal ini bukan hanya berbahaya, tetapi juga adalah bentuk kekerasan terhadap hewan. Acara ini memantik protes dari komunitas peduli hewan yang menyerukan agar orang-orang “berhenti memanfaatkan dan melakukan kekerasan terhadap hewan untuk kesenangan diri.”

Bahkan, telah ada korban jiwa dari perayaan semacam ini. Seorang perempuan terbunuh setelah pipa sengaja dimanfaatkan untuk membuat “pipe-bomb”. Apa yang terjadi tidak sesuai rencana: alih-alih mengeluarkan asap dari bagian pipa yang sudah dilubangi, pipa malah meledak dan pecahannya melesat ke kepala dan membuat si perempuan tewas seketika.

Kasus-kasus semacam ini mestinya membuat orang berpikir ratusan kali sebelum mengadakan pesta pengungkapan gender lagi. Terlebih, pesta ini bertumpu pada kepercayaan gender yang biner—mengabaikan fakta bahwa gender adalah spektrum, tak selalu sesuai dengan alat kelamin seseorang saat lahir, dan berpotensi untuk semakin memojokkan kelompok transpuan ataupun orang-orang non-biner.

“Berhenti mengadakan pesta bodoh ini. Demi Tuhan, berhenti membakar sesuatu hanya demi menunjukkan penis anakmu. Tidak ada orang yang peduli,” kata Karvunidis, menyesali tren yang telah ia sendiri ciptakan.