Gempa dan Tsunami Sulawesi Tengah: Dari ISPA Sampai Operasi di Atas Kapal

Memasuki pekan ke-tiga pasca gempa bumi dan tsunami di Palu, Sigi, dan Donggala, Sulawesi Tengah, pembenahan masih harus dilakukan dan masih banyak korban yang membutuhkan bantuan. Karena evaluasi sudah ditutup, dicatat ada 2.045 korban tewas. Tapi masih ditemukan korban-korban yang terluka ataupun terjangkit penyakit ketika berada di pengungsian. 

Makanya masih banyak bantuan dan relawan yang masih dikirimkan ke sana untuk mengatasi hal tersebut. Selain obat-obatan, dokter pun turun tangan untuk membantu korban yang membutuhkan bantuan medis. Salah satu dokter yang turut datang dan menjadi relawan untuk membantu menangani para korban adalah dr. Kukuh Pandu Bhirowo. Dalam kesempatannya mengkontribusikan keahliannya sebagai dokter untuk membantu sesama di lokasi kejadian, dr. Kukuh bercerita kepada Asumsi.co bahwa beliau mendapatkan banyak pengalaman. Pengalaman itu pun tak lepas dari bermacam-macam tindak medis yang ia harus lakukan. Tak hanya itu, ia pun berkesempatan bekerja dengan dokter-dokter lain dari banyak daerah di Indonesia yang datang dengan bantuan akomodasi dari pemerintah daerah mereka masing-masing ataupun dengan biaya sendiri.

Jumlah Penyakit ISPA Meningkat, Rumah Sakit dan Puskesmas Dapat Beroperasi Seperti Biasa

Setibanya di lokasi, dr. Kukuh menceritakan bahwa saat itu ia tidak menemukan satu jenis penyakit yang secara khusus mewabah di sana. Sejauh pengamatannya, hal yang paling dibutuhkan para korban adalah tempat tinggal baru untuk menggantikan rumah-rumah mereka yang hancur akibat gempa bumi dan tsunami yang terjadi 28 September lalu. Karena mereka masih harus tinggal di lokasi pengungsian, akhirnya penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas) pun menjangkit para korban. “Yang saya tahu, secara umum tidak ada penyakit khusus yang menjadi wabah pasca benacana alam di Palu, untuk ISPA memang meningkat seiring masih banyaknya masyarakat yang belum mendapatkan tempat tinggal secara layak (di camp pengungsian),” ungkap dokter yang selama pengabdiannya di sana tinggal di tenda pengungsian ini.

Terkait penyakit ISPA yang menyerang banyak orang, pastinya dibutuhkan tenaga medis yang banyak. Untungnya, sudah banyak tenaga medis yang datang dari berbagai daerah untuk membantu pengobatan. Para tenaga medis ini pun tak perlu khawatir karena rumah sakit dan puskesmas di sana dapat beroperasi dengan normal. “Untuk fasilitas kesehatan seperti rumah sakit dan puskesmas yang masih layak kondisi bangunannya, beroperasi seperti biasa, dibantu oleh tenaga-tenaga kesehatan dari berbagai daerah untuk menangani pengungsi,” ungkap dr. Kukuh.

Tim medis dan fasilitas rumah sakit dan puskesmas yang masih dapat berjalan normal membuat seluruh korban di ragam lokasi dapat terjangkau tim medis. Pemeriksaan kesehatan yang diikuti dengan pemberian obat dan suplai obat-obatan pun bisa dibilang sudah tersebar secara merata. Itu pun menjadi kelegaan tersendiri bagi dr. Kukuh. “Saat ini alhamdulillah semua lokasi sudah bisa terjangkau oleh tim medis, sehingga pemeriksaan dan pengobatan dapat dilakukan secara merata, suplai obat-obatan juga sudah mencukupi dan lancar,” lanjutnya.

Melakukan Tindakan Operasi di Atas Kapal

Walau rumah sakit dan puskesmas masih bisa beroperasi dengan normal dan masih dapat melakukan beberapa tindakan medis, namun masih ditemukan beberapa peralatan yang rusak. Misalnya, ada beberapa alat untuk tindakan operasi yang tidak dapat bekerja. Untuk mengatasi hal ini, KRI Soeharso yang memang merupakan kapal jenis Bantu Rumah Sakit didatangkan khusus untuk memberikan penanganan medis secara khusus.

Di kapal milik TNI ini lah dilakukan banyak tindakan operasi dengan tim yang terdiri dari beberapa dokter berasal dari berbagai daerah. “Peralatan untuk tindakan operasi yang rusak akibat bencana alam, saat ini tindakan operasi juga dibantu oleh tim dokter bedah dari banyak daerah yang melakukan operasi di KRI Soeharso”.

Selain melakukan tindakan operasi, dr. Kukuh juga menceritakan pengalamannya berkeliling dari satu tempat ke tempat lain di sana. Bersama dokter-dokter lain yang tergabung dalam tim medis keliling, ia bisa menangani sekitar 100 pasien per pos pengungsian. Jumlah pasien dengan angka tersebut di tiap pos pengungsian pun ternyata masih seimbang dengan rasio tenaga medis yang ada. Bukan cuma itu, dr. Kukuh juga menyatakan kalau keadaan sekarang itu lebih baik daripada seminggu pertama pasca bencana. "Untuk rasio tenaga medis dan pasien saat ini menurut saya masih ideal, berbeda dengan saat seminggu pertama pasca bencana alam,” tutup beliau yang sudah tiba di sana sejak 30 September lalu.

Related Article