Gejala Misterius Mirip Sindrom Kawasaki Menyerang Anak-Anak di Kawasan Padat Infeksi COVID-19

COVID-19 yang disebabkan virus SARS-CoV-2 bisa menyerang anak-anak. Namun, tak seperti orang dewasa atau berusia lanjut, menurut banyak pakar, tubuh anak-anak lebih resistan terhadap COVID-19. Kalaupun positif terjangkit, mereka cenderung tidak bergejala.

Berry Juliandi, Sekjen Akademi Ilmuwan Muda Indonesia mengatakan, “Kalau ada anak yang positif itu wajar. Kalau ada anak yang positif dengan gejala berat mungkin ini unik,” kata Berry saat dihubungi Asumsi.co, Rabu (6/5). "Kemungkinan besar karena faktor imun dan rendahnya kemungkinan penyakit bawaan pada anak-anak."

Hal senada juga disampaikan Ahmad Rusjdan Utomo, Principal Investigator Stem Cell and Cancer Research Institute (SCI) Jakarta. Kata Ahmad kepada Asumsi.co, Rabu (6/5), data dari Cina menunjukkan bahwa banyak anak tak menunjukkan gejala meskipun positif COVID-19 berdasarkan pemeriksaan PCR.

Namun, dalam beberapa pekan terakhir, sebuah sindrom misterius yang belum sepenuhnya dipahami para dokter telah muncul pada anak-anak di New York, Amerika Serikat. Menurut analisis sementara, penyakit itu berkaitan dengan COVID-19 meski tak semua korbannya positif. Dalam pemberitaan The New York Times, Selasa (5/5), Rumah Sakit Anak Cohen Children's Medical Center di New Hyde Park, New York, telah menerima lima pasien kritis dalam dua hari terakhir, berusia empat hingga 12 tahun, dengan gejala mulai dari lidah memerah hingga arteri koroner yang membesar. 

Gejala COVID-19 Anak-anak di New York Mirip Penyakit Kawasaki

Otoritas Kesehatan Kota New York menyatakan bahwa anak-anak berusia antara dua hingga 15 tahun yang dirawat di beberapa rumah sakit menunjukkan gejala seperti sindrom Kawasaki, penyakit langka pada anak-anak yang menyebabkan radang pembuluh darah, termasuk arteri koroner.

CNN Health melaporkan bahwa di Rumah Sakit Anak Stanford terdapat satu kasus sindrom Kawasaki pada bayi enam bulan. Bayi itu rewel, demam, dan tidak mau makan. Pada hari kedua, ia mengalami demam dan ruam bernoda. Hasil x-ray menunjukkan bercak putih kecil di paru-parunya sehingga dokter mengirimnya ke ruang gawat darurat. 

Bayi itu positif COVID-19, tetapi dua minggu setelah keluar dari rumah sakit, ia malah tidak memiliki masalah pernapasan dan dalam kondisi baik-baik saja.

Komisioner Kesehatan Negara Bagian New York Dr. Howard A. Zucker mengatakan bahwa para ahli masih mendalami sindrom baru ini. Dari 15 pasien anak di New York, sebagian besarnya mengalami demam, muntah, dan diare. Lima pasien membutuhkan ventilator untuk membantu pernapasan. Sebagian besar anak juga harus menggunakan alat bantu tekanan darah. Sejauh ini, belum ada yang meninggal dunia.

Penyakit ini menjadi pembicaraan dalam beberapa pekan terakhir, terutama ketika kasusnya mulai muncul di negara-negara Eropa, yang notabene memiliki kasus COVID-19 dengan jumlah tinggi. "Ada beberapa deskripsi langka pada anak-anak di beberapa negara Eropa yang memiliki sindrom peradangan ini, mirip dengan sindrom Kawasaki, tapi tampaknya sangat langka,” kata Dr. Maria Van Kerkhove, ilmuwan WHO.

Sindrom Kawasaki yang tidak terdiagnosis dan tidak diobati dapat menyebabkan kondisi jantung yang serius, seperti aneurisma koroner. Namun, bila ditangani, umumnya pasien dapat sembuh tanpa masalah serius. Beberapa penelitian menyatakan sindrom Kawasaki disebabkan infeksi bakteri atau virus sekitar dua minggu sampai satu bulan sebelum gejalanya muncul.

Sejumlah dokter di New York mencatat bahwa kasus-kasus sindrom baru ini muncul sekitar sebulan setelah jumlah kasus COVID-19 di wilayah tersebut melonjak.

Dr. Leonard Krilov, Kepala Pediatri di NYU Winthrop Hospital di Mineola, New York, mengaku baru-baru ini telah merawat seorang anak lelaki empat tahun yang keluarganya terjangkit COVID-19. Anak itu tak tertular, tetapi menderita demam tinggi, ruam dan masalah ginjal, maka ia memperoleh perawatan standar untuk penyakit Kawasaki: imunoglobulin intravena. Dr. Krilov menyebut demam anak tersebut turun dan kondisi ginjalnya kembali normal dalam sehari.

Para dokter mengatakan bahwa meskipun ada beberapa anak yang mengalami sindrom baru ini, secara umum mereka lebih resistan terhadap COVID-19 daripada orang dewasa, sebagaimana hasil penelitian-penelitian awal. 

"Sindrom ini sangat jarang dan sebagian besar anak baik-baik saja," kata Dr. Jennifer Lighter, spesialis penyakit menular anak di NYU Langone Medical Center.

Related Article