post

Current Affairs

Gejala COVID-19 Bisa Mirip DBD, Awas Salah Diagnosis

Permata Adinda, 18 Maret 2020

Berbarengan dengan peningkatan jumlah pasien positif COVID-19 di Indonesia, masyarakat pun meningkatkan kewaspadaannya. Tetapi COVID-19 bukanlah satu-satunya ancaman. DBD atau demam berdarah dengue juga datang kembali. Artikel-artikel bertajuk “Bukan Hanya Coronavirus, Demam Berdarah Juga Perlu Diwaspadai” hingga “Indonesia Ribut Coronavirus, Tak Sadar DBD Perlahan Makan Korban” pun bermunculan untuk mengingatkan bahwa virus Corona bukan satu-satunya sumber penyakit berbahaya di Indonesia.

Namun, hasil studi gabungan lembaga-lembaga kesehatan di Singapura mengungkapkan bahwa wabah demam berdarah di Asia Tenggara membuat penyebaran virus Corona seperti musuh dalam selimut. Dengan gejala awal yang mirip, seseorang bisa saja salah diagnosis terinfeksi DBD, padahal sebenarnya ia terjangkit COVID-19.

Hal ini telah terjadi di Singapura pada awal Februari lalu. Seorang warga laki-laki berusia 57 tahun dirawat di rumah sakit setelah demam dan batuk-batuk selama tiga hari. Warga lainnya, perempuan, juga berusia 57 tahun, mengalami demam, nyeri otot, batuk ringan selama 4 hari, dan diare selama 2 hari. Hasil tes keduanya positif demam berdarah dengue (DBD). Namun, setelah perawatan, kondisi keduanya terus memburuk.

Mereka lantas melakukan tes SARS-CoV-2 lewat metode swab test, dan diketahui positif COVID-19. Setelah dites lebih lanjut, mereka diketahui tidak terinfeksi virus Dengue, dan hasil tes di awal disebut sebagai false positive. “Untuk virus Dengue dan Corona, keduanya punya beberapa kemiripan sehingga seseorang bisa mendapatkan hasil tes false positive,” kata Jeremy Lim, partner konsultan Oliver Wyman di bagian kesehatan dan ilmu hayati, dikutip dari SCMP.

Sejak awal tahun ini, Kementerian Kesehatan mencatat telah terdapat lebih dari 17.000 kasus DBD di seluruh Indonesia, dengan 104 di antaranya meninggal dunia. Penyakit DBD diketahui mewabah di Nusa Tenggara Timur, Lampung, Riau, Sumatera Selatan, dan Jawa Barat sejak Januari lalu. Negara-negara lain di Asia Tenggara yang punya risiko besar terpapar wabah DBD adalah Filipina, Laos, Kamboja, Malaysia, Vietnam, Singapura, dan Thailand. Pada 2019, misalnya, lebih dari 400.000 warga Filipina terinfeksi virus Dengue, dan 1.000 di antaranya meninggal dunia.

Sementara itu, di saat yang hampir bersamaan, virus Corona juga menyebar ke wilayah Asia Tenggara. Hingga saat ini, terdapat lebih dari 600 kasus COVID-19 di Malaysia, lebih dari 200 di Thailand, lebih dari 190 di Filipina, dan lebih dari 170 di Indonesia.

DBD dan COVID-19 punya gejala awal yang serupa, seperti demam dan batuk-batuk. “Penyakit dengue dan virus Corona 2019 (COVID-19) sulit untuk dibedakan karena keduanya punya ciri-ciri gejala dan hasil laboratorium yang mirip,” tulis tim penulis “Covert COVID-19 and false-positive dengue serology in Singapore” (2020) yang dipublikasikan di The Lancet pada 4 Maret lalu. Ahli penyakit menular pun mengkonfirmasi hal ini, dan menyatakan bahwa penyakit yang disebabkan oleh virus seringkali memiliki gejala awal umum yang serupa.

COVID-19 disebabkan oleh virus SARS-CoV-2019 yang termasuk dalam famili Coronavirus. Sementara itu, demam berdarah disebabkan oleh virus Dengue yang termasuk dalam famili Flavivirus. Menurut WHO, walaupun ada kemiripan gejala di awal, tetapi virus akan semakin mudah dibedakan seiring dengan perkembangan gejala.

Orang yang dengan penyakit DBD biasanya menderita demam dan ruam di kulit, tetapi tak disertai dengan batuk-batuk atau sakit tenggorokan—tak seperti orang yang terinfeksi COVID-19. Gejala-gejala lain penyakit DBD termasuk sakit kepala, sakit di belakang mata, pegal-pegal, mual, muntah-muntah, dan pendarahan ringan seperti mimisan. Sementara itu, gejala umum COVID-19 menurut WHO termasuk demam, batuk-batuk, dan sesak napas. Dalam kasus yang lebih parah, infeksi SARS-CoV-2 juga dapat menyebabkan pneumonia, masalah pernapasan, gagal ginjal, dan kematian.

Selain demam berdarah, orang yang terinfeksi virus Corona juga rentan salah didiagnosis penyakit lain, seperti dua kasus pertama COVID-19 di Indonesia yang awalnya didiagnosis penyakit bronkitis, dan menyebabkan 73 petugas medis di Depok yang berinteraksi dengan mereka mesti dikarantina. “Gagal mendeteksi COVID-19 karena hasil tes dengue yang posiitif punya implikasi serius, tak hanya kepada pasien tetapi juga kesehatan publik,” tegas tim penulis.

Kedua pasien asal Singapura yang positif COVID-19 diketahui tidak punya riwayat bepergian ke wilayah terdampak Corona atau berkontakan dengan orang yang positif. Dengan tes virus Corona di Indonesia yang diprioritaskan bagi orang dengan catatan perjalanan ke wilayah terdampak atau pernah berkontak dekat dengan orang yang positif COVID-19, ada risiko besar banyak kasus virus Corona yang tidak terdeteksi atau salah periksa sebagai demam berdarah.

DPR pun telah mendesak pemerintah untuk membuka akses pemeriksaan virus Corona lebih luas, dengan hasil yang lebih cepat keluar. “Selama ini dikatakan kalau merasa tidak pernah kontak dengan orang dari luar negeri atau tidak pernah ke luar negeri, mereka tidak perlu dites. Tapi menurut saya sebenarnya seluruh masyarakat harus melakukan tes untuk mendeteksi dan mencegah penyebaran,” ujar Wakil Ketua IX DPR RI Nikhayatul Wafiroh, dikutip dari CNBC Indonesia.

Tim penulis studi soal hasil tes dengue yang false positive itu pun telah menekankan pentingnya melakukan uji SARS-CoV-2 secara massal. “Kami menekankan pentingnya terdapat tes SARS-CoV-2 yang cepat, sensitif, mudah diakses, dan akurat demi melindungi kesehatan publik,” tulis mereka.