post

Budaya Pop

Gal Gadot Terpilih Memerankan Cleopatra, Netizen Tak Berbahagia

Raka Ibrahim, 13 Oktober 2020

Aktris asal Israel, Gal Gadot, belum lama ini terpilih untuk memerankan ratu legendaris Mesir, Cleopatra. Film kolosal ini akan mempertemukannya kembali dengan Patty Jenkins, sutradara film Wonder Woman yang pertama melejitkan namanya. Tetapi, tak semua pihak bersorak mendengar kabar ini. Banyak yang menuding Hollywood memberikan peranan ikonik tersebut pada orang yang tak tepat. Memangnya apa salah Gal Gadot?

Persoalannya sekilas tidak ribet-ribet amat: Gadot seorang kulit putih, warga negara Israel pula. Jurnalis, kritikus film, dan penggemar film di AS silih berganti mempertanyakan kenapa seorang orang Israel terpilih untuk memerankan ratu Mesir. Seyogyanya, kata mereka, aktris keturunan Arab dari Afrika Utara atau malah kulit hitam lebih tepat untuk memerankan sang ratu. Kalau bukan soal kepatutan politis, setidaknya supaya akurat dengan kenyataan sejarah.

Tak sedikit pula yang mempermasalahkan pandangan politik aktris yang pernah menjalani wajib militer dengan rekor gemilang ini. Gadot dikritik pada 2014 lalu karena bikin pernyataan “panas” mendukung pendudukan Israel terhadap Gaza. “Negaramu mencuri tanah Arab, dan sekarang kamu mencuri peran dalam film mereka,” kata jurnalis Sameera Khan.

Namun, pihak yang terlibat dalam produksi film tersebut bersikeras Gadot merupakan pilihan yang tepat. Contohnya Laeta Kalogridis, penulis naskah yang keturunan Yunani. Ia bersikeras bahwa seorang kulit putih selayaknya memerankan Cleopatra, sebab menurut rekaman sejarah, sang ratu adalah perempuan keturunan Makedonia-Yunani berkulit putih.

Di sinilah perdebatan mulai menarik. Latar belakang etnis Cleopatra memang telah lama jadi perdebatan. Ia sendiri adalah bagian dari dinasti Ptolemaik, keturunan dari Ptolemy I Soter, jenderal kesayangan Alexander Agung saat menaklukkan Timur Tengah. Baik Alexander maupun Ptolemy berasal dari Makedonia, sehingga mayoritas peneliti percaya Cleopatra pun seorang kulit putih seperti leluhurnya.

Namun, temuan ini belakangan mulai dipertanyakan. Hampir semua peneliti sepakat bahwa bapak Cleopatra pastilah seorang bule totok keturunan Ptolemy, tetapi tak sedikit yang mempertanyakan siapa sebenarnya ibunya. Betsy M. Bryan, profesor kesenian dan arkeologi Mesir di Johns Hopkins University, menyatakan bahwa ada dugaan kuat Ibu Cleopatra merupakan keturunan keluarga rohaniwan di Memphis, kota lama Mesir Kuno. Artinya, Cleopatra bukan kulit putih totok, melainkan blasteran kulit putih-Mesir.

Persoalan semakin runyam setelah jasad Putri Arsinoe, adik Cleopatra, ditemukan pada 2009 di Turki. Arkeolog asal Austria yang meneliti jasad tersebut mendapati bahwa Arsinoe rupanya memiliki ibu berkulit hitam asal Afrika. Temuan ini amat menarik sebab hampir semua catatan mengkonfirmasi bahwa ibunda Arsinoe dan Cleopatra sama, dan etnis Arab belum mendominasi Mesir serta Afrika Utara pada masa kehidupan Cleopatra. Maka, ada dugaan kuat bahwa Cleopatra sendiri merupakan blasteran kulit putih-kulit hitam.

Dr. Sally-Ann Ashton, pakar sejarah Mesir dan salah satu peneliti yang paling fasih urusan Cleopatra, menyatakan bahwa hampir pasti Cleopatra memiliki darah kulit hitam Afrika.

“Jika keluarga Ibunya adalah warga lokal Mesir, mereka keturunan Afrika, sebab etnis Arab belum banyak menjamahi Afrika Utara,” ujar Dr. Ashton. “Ketika kita menampilkan Cleopatra di film dan medium visual lainnya, fakta ini harus tercerminkan.”

Oleh karena itu, meski Gadot berkulit putih selayaknya keluarga bapak Cleopatra, ia tak mencerminkan darah Afrika dari sisi ibu Cleopatra. “Menurut saya, seharusnya pembuat film ini mempertimbangkan aktris blasteran untuk memainkan Cleopatra,” kata Dr. Ashton. “Secara kesejarahan, itu pilihan yang paling tepat.”