Gagal Jadi Cawapres, Ini 4 Kesibukan yang Bisa Dilakukan AHY

Satu hari setelah Prabowo mengumumkan siapa pendampingnya untuk maju Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) melakukan pidato di rumah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Mega Kuningan, Jakarta Selatan. Hal ini disebabkan mimpi AHY untuk menjadi calon wakil presiden (cawapres) dari Prabowo Subianto yang harus dikuburkan. Dalam pidato tersebut, AHY mengungkapkan bahwa beliau sudah berusaha maksimal agar bisa maju sebagai cawapres. 

"Saya menangkap ada rasa sedih, kecewa, bahkan marah melihat situasi ini. Tapi saya mengajak agar kita semua dapat menerima takdir Allah SWT, menerima realitas ini dengan baik dan ikhlas,” ujar AHY. Bagaimana tidak, dalam setahun terakhir ini beliau sudah berkeliling ke sejumlah wilayah di tanah air untuk menyerap berbagai aspirasi rakyat, kampanye lewat baliho, hingga orasi terbuka.

Perjuangan AHY ini memang tidak main-main. Bayangkan saja, berdasarkan konsultan riset dan analisa iklan luar ruang Medialinks, Jumat, 10 Agustus 2018, dalam sebulan terakhir tercatat sudah ada 63 titik iklan media luar ruang yang digunakan AHY untuk kampanye politik. Dari 63 titik tersebut, CEO Medialinks Paul Lek memperkirakan biaya yang sudah dikeluarkan oleh AHY untuk kampanye politiknya tersebut adalah sekitar Rp78,75 miliar per satu bulan. Padahal menurut hitung-hitungan kotornya, harga kotor iklan media luar ruang paling murah Rp2,5 miliar dan paling mahal Rp3 miliar tergantung kota dan lokasi berdasarkan tingkat keramaiannya. Jadi, ada harga mahal yang harus dibayarkan.

Meski nasi sudah menjadi bubur, namun setidaknya AHY sudah berinvestasi besar untuk masa depan dirinya. Citra dan identitas dirinya mungkin sudah mulai terbentuk di mata warga Indonesia. Tapi beliau juga harus tetap melanjutkan hidup dan berkarya. Maka dari itu, mungkin AHY bisa mulai melakukan berbagai hal produktif seperti di bawah ini:

Pergi Haji

Bersamaan dengan kesempatan berpidato Jumat kemarin itu, AHY memang menginformasikan bahwa dirinya memutuskan untuk pergi menunaikan ibadah haji pada 15 Agustus 2018. Hal itu diambil usai AHY batal dipinang partai koalisi Prabowo untuk jadi cawapres di 2019. "Saya melalui kesempatan ini mohon doa restu saya akan tunaikan ibadah haji 15 Agustus 2018 bersama istri," ucap AHY.

"Jadi ini bukan mendadak dan kami sudah niatkan dan di usia ke-40, saya bisa berangkat ke Tanah Suci," ujarnya.

Niat yang mulia untuk menjalankan salah satu rukun agama Islam pastinya dilancarkan. Semoga perjalanannya lancar dan berkah.

Bergabung dengan Tim Sukses Prabowo-Sandi

Meski gagal jadi cawapres, bukan berarti peran AHY untuk membantu pasangan Prabowo dan Sandi jadi tertutup. Pria kelahiran 10 Agustus 1978 ini malah punya potensi jadi juru kampanye pasangan tersebut. Kelihaiannya berpidato dan membangun citra bagus di masyarakat sejauh ini memang sudah teruji. Seperti yang sudah dilakukannya selama ini, sosok berusia 40 tahun tersebut memang sering berkeliling ke daerah-daerah untuk bertemu masyarakat.

Bermodalkan skill tersebut dan mengingat Demokrat yang sudah mendeklarasikan diri untuk bergabung dengan koalisi De Facto, AHY memiliki peluang sangat besar untuk menjadi juru kampanye pasangan Prabowo-Sandi. Bahkan, Sandiaga Uno memang mengharapkan AHY untuk menjadi juru kampanye mereka. "Banyak yang minta Pak AHY sebagai magnet," ucap AHY. Sebab, figur AHY saat ini juga bisa menjadi salah satu daya tarik pemilih.

Sandi juga berharap SBY akan turun tangan membantu mereka kampanye. "Pak SBY kami harapkan kebijaksanaan beliau, leadership beliau, pengalaman beliau selama ini mampu menghadirkan pemerintahan yang kuat, lapangan kerja yang terbuka, harga-harga yang terjangkau," kata Sandi dilansir dari Jawa Pos, Senin, 13 Agustus. 

Jadi Menteri dan Fokus Persiapan 2024

Meski batal jadi cawapres Prabowo, bukan berarti AHY enggak bisa ikut Pemilu di masa yang akan datang. Ia bisa mempersiapkan diri lebih matang demi menyongsong Pemilu 2024 mendatang. Bahkan, AHY sendiri mengaku bakal mempersiapkan dirinya sebaik mungkin agar bisa ikut serta dalam Pilpres 2024. Periode waktu lima tahun ke depan jika dimanfaatkan sebaik mungkin pasti dapat membentuk AHY menjadi pribadi yang lebih baik untuk maju pilpres. 

"Jika lima tahun mendatang terbuka peluang lain bagi saya di 2024 maka tugas dan kewajiban saya adalah menyiapkan diri sebaik-baiknya," kata AHY.

Sembari menunggu Pilpres 2024, AHY mungkin juga berpeluang menjadi menteri di kabinet Prabowo-Sandi (jika terpilih). Dengan mengambil kesempatan menjadi menteri lebih dulu, setidaknya AHY bisa memahami seluk beluk pemerintahan dengan detail. 

Menjadi Dosen

Salah satu profesi atau kesibukan lain yang layak diambil AHY adalah menjadi dosen. Dengan pengalaman pendidikan dan militer yang cukup baik, AHY punya kesempatan untuk membagi pengetahuannya di perguruan tinggi. Mungkin, salah satu perguruan tinggi yang bisa menerima dan jadi wadah AHY untuk menjadi dosen adalah Universitas Pertahanan. Diihat dari latar belakang kampus tersebut, kelihatannya memang bakal cocok banget untuk AHY mengajar di sana. 

Sekadar informasi, AHY berhasil menyelesaikan studi magisternya dan memperoleh gelar Master of Science in Strategic Studies dari Rajaratnam School of International Studies, Nanyang Technological University, pada 2005 lalu. Kemudian, pada tahun 2015, AHY juga sukses lulus dari US Army Command and General Staff College (CGSC), Fort Leavenworth, Kansas, Amerika Serikat usai menempuh pendidikan satu tahun dengan IPK 4. Ia memperoleh lencana internasional dari Deputi Komandan CGSC Mayor Jenderal Hughes. Selain itu, pada tahun yang sama, AHY juga meraih gelar Master of Public Administration pada John F. Kennedy School of Government, Harvard University, Massachusetts AS.

 

Related Article