Film Dokumenter Ibu Bumi Menyoroti Partisipasi Generasi Muda Petani Kendeng Melawan Pabrik Semen

“Serakah sekali, hanya memikirkan perut sendiri.”

Bagus (20 tahun), anak muda yang tinggal tak jauh dari pegunungan Kendeng, melihat bagaimana tanah di sekitar pegunungan itu diledakkan dalam rangka ekspansi pabrik semen. Tak jauh dari lokasi itu, sebuah pabrik semen sudah berdiri dengan truk-truk berlalu lalang menebarkan debu ke mana-mana. Para petani mengeluhkan tanah mereka yang jadi kurang subur dan daya serap air yang berkurang.

Film pendek dokumenter karya Chairun Nissa yang berjudul Ibu Bumi (2020) itu tayang perdana secara online pada 25 Juli. Film ini mengikuti kehidupan Bagus, anak keluarga petani yang mengamati perjuangan orang-orang tua di sekitarnya untuk melawan pembangunan pabrik semen di Kendeng, dan mencoba merespons kegelisahan dan sikapnya itu dengan bermusik.

Dengan menjadikan Bagus sebagai subjek utama film, ada upaya untuk memperlihatkan bagaimana anak muda bisa jadi bagian dari aktivisme dengan cara masing-masing. Bahwa alam yang telah rusak akibat eksploitasi sumber daya besar-besaran tak hanya berdampak pada satu generasi, tetapi juga generasi-generasi selanjutnya. Kesadaran dan partisipasi anak-anak muda dalam gerakan perjuangan pun menjadi penting.

Bersama grup musik bernama Kendeng Squad, Bagus membuat lagu yang mengekspresikan perlawanannya terhadap pembangunan pabrik. Lagu berjudul Berani Bertani itu menyatakan, “Kendeng lumbung petani, akan kujaga sampai mati” dan “bertani, bertani untuk kehidupan”, dengan video klip yang memperlihatkan lahan yang diledakkan dan aksi-aksi damai yang dilakukan para petani kendeng untuk menolak ekspansi pabrik. Bagus juga merekam bunyi-bunyian alam, seperti aliran sungai, yang kemudian dikontraskan dengan suara ledakan tambang.

Dalam film, Chairun Nissa memperlihatkan bagaimana keputusan Bagus untuk membikin lagu itu tak datang secara serta merta. Ada proses yang Bagus lalui sebelum kemudian ia memutuskan untuk mengekspresikan sikapnya.

Bagus melihat bagaimana bapaknya, Kang Gun, senantiasa mengorganisir dan berpartisipasi dalam serangkaian aksi protes, hingga turut menuntut keadilan lewat ranah hukum. Bagus mendengarkan keresahan-keresahan penduduk lainnya: bagaimana bebatuan di gunung kapur telah membantu warga sekitar untuk menyuling air laut menjadi air tawar, dan bagaimana keberadaan pabrik telah mengancam sumber kehidupan dan mata pencaharian mereka. Bagus pun melihat sendiri bagaimana tanah menjadi kering kerontang setelah pembangunan pabrik.

Chairun Nissa menyampaikan bagaimana anak muda adalah generasi penerus yang punya cara sendiri dalam merespons bentuk-bentuk ketidakadilan. “Kalau kita ngomongin perjuangan, pasti kita ngomongin generasi-generasi berikutnya. Jadi, nggak hanya generasi ini, tapi juga jadi tanggung jawab generasi muda. Masa depan ada di generasi berikutnya,” ujar Chairun Nissa dalam diskusi setelah pemutaran perdana.

Perjuangan Petani Kendeng Menolak Pabrik Semen

Berbagai aksi protes telah dilakukan masyarakat Kendeng untuk menuntut keadilan. Sejak 2016, para petani melakukan aksi demo, menyemen kaki di depan Istana Negara, melaksanakan long march, menduduki tapak pabrik, hingga menggugat secara hukum. Namun, perjuangan panjang ini tak kunjung melahirkan kebijakan yang berpihak pada mereka.

Setelah aksi protes dilancarkan berulang kali di depan istana negara, Presiden Joko Widodo bersedia untuk menemui para petani pada Agustus 2016. Dalam pertemuan tersebut, muncul kesepakatan bahwa seluruh aktivitas pertambangan dan izin proyek pembangunan akan dihentikan hingga Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) selesai dilakukan.

Oktober 2016, para petani juga memenangkan gugatan hukum di Mahkamah Agung. Mereka menggugat Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan PT Semen Indonesia terkait izin lingkungan kegiatan penambangan dan pembangunan pabrik semen milik PT Semen Indonesia di sekitar pegunungan Kendeng. Gugatan mereka berbuah: Mahkamah Agung mengabulkan hasil gugatan dan izin lingkungan yang dikeluarkan oleh Ganjar itu mesti dibatalkan. Namun, hasil gugatan itu diabaikan oleh gubernur yang kembali memperbarui izin lingkungan bagi PT Semen Indonesia pada 2017 untuk menambang dan membangun pabrik.

Keluarnya izin itu kembali memantik aksi protes. Para petani menyemen kaki di depan istana negara demi meminta Presiden Jokowi mencabut izin lingkungan PT Semen Indonesia dan menghentikan kegiatan penambangan pada 20 Maret 2017.

Salah satu peserta aksi, Patmi, meninggal dunia tak lama setelah aksi tersebut (21/03/17). Patmi mengalami serangan jantung dan meninggal dalam perjalanan dari kantor LBH Jakarta menuju Rumah Sakit St Carolus, Jakarta Pusat. Ia sempat mengeluh badannya tidak nyaman, kemudian mengalami kejang-kejang dan muntah setelah mandi. Pada hari sebelumnya, tim dokter telah memantau kondisi kesehatan para petani sebelum mereka melakukan aksi, dan Patmi dinyatakan sehat.

Perjuangan para petani Kendeng terus berlanjut. Mereka memperingati Hari Bumi pada 22 April lalu dengan mendatangi lokasi pertambangan dan mendesak aktivitas pertambangan dihentikan. Para petani yang tergabung dalam Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng ini membawa poster-poster bertuliskan “Kembalikan Kerugian Lingkungan Akibat Penambangan”, “Hentikan Pertambangan Sekarang Juga”, “Hentikan Pertambangan = Memutus Penyebaran Corona”, dan lainnya. Mereka juga mengeluh bagaimana aktivitas pertambangan telah membuat daerah mereka terkena banjir di saat musim hujan dan dilanda kekeringan di saat musim kemarau.

Anak-anak muda senantiasa turut terlibat dalam aktivisme para petani Kendeng. Mereka kerap ikut ke aksi protes sembari membawa poster hingga melakukan aksi diam. Hal inilah yang dipotret lebih dekat oleh film Ibu Bumi.

“Film ini kami coba untuk memotret lebih dekat bagaimana sosok-sosok perjuangan, seperti Kang Gun (bapak Bagus), meneruskan perjuangan kepada generasi berikutnya. Bagaimana mereka yang senior ini mendukung generasi berikutnya,” ujar produser film Ibu Bumi, Wini Angraeni.

Related Article