Farhat Abbas dan Buni Yani, Dua Sosok Kontroversial di Kubu Jokowi dan Prabowo

Pasangan bakal capres-cawapres Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno kabarnya memiliki sejumlah tokoh penting yang jadi bagian tim jelang Pilpres 2019. Namun, kedua pasangan juga didukung sosok-sosok kontroversial.

Di kubu Jokowi-Ma’ruf ada sosok pengacara yang juga calon anggota legislatif dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Farhat Abbas yang ditunjuk sebagai juru bicara. Sudah bukan rahasia umum lagi, bahwa Farhat merupakan sosok kontroversi.

Bahkan, Farhat sendiri sudah melakukan blunder di media sosial yang jadi sorotan banyak pihak baru-baru ini. Ia diketahui mengunggah foto dirinya, yang kemudian diberi keterangan yang justru membuat heboh.

“Pak Jokowi adalah Presiden yang menuntun Indonesia masuk surga". Selain itu, dia pun memberikan keterangan: "Yang Pilih Pak Jokowi Masuk Surga ! Yang Gak Pilih Pak Jokowi dan Yang Menghina, Fitnah & Nyinyirin Pak Jokowi! Bakal Masuk Neraka ! ( jubir-Indonesia),” tulis Farhat di akun Instagramnya.

Lalu di kubu Prabowo-Sandi, ada satu sosok yang mendukung penuh pasangan ini yakni Buni Yani. Meski belum resmi masuk ke dalam tim sukses Prabowo-Sandi, namun Buni Yani menyatakan kesiapannya jika nanti diminta bergabung.

Baca Juga: Ketika Prabowo, Jokowi, dan Sandiaga Berebut Perhatian Istri Gusdur

Namun, anggota Dewan Pembina Partai Gerindra Djoko Santoso bahkan memastikan Buni Yani bakal masuk ke dalam tim sukses Prabowo-Sandi. Buni Yani akan memperkuat tim media sosial (medsos)

"Iya. Masuk. Tim medsos dia," kata Djoko di kediamannya, Jalan Bambu Apus Raya Nomor 100, Jakarta Timur, Jumat, 14 September.

Tak jauh berbeda dengan Farhat, Buni Yani sendiri berstatus terpidana kasus informasi dan transaksi elektronik (ITE). Ia menjadi terpidana terkait pemotongan video Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Kepulauan Seribu.

Buni Yani mengunggah potongan video mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut pada 27 September 2016, yang akhirnya juga menyebabkan Ahok dipidana dua tahun penjara atas penistaan agama.

Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Developing Countries Studies Center (DCSC), Zaenal A. Budiyono, mengatakan bahwa keberadaan orang-orang seperti Farhat Abbas dan Buni Yani di lingkaran tim Jokowi dan Prabowo memang jadi daya tarik, meski tetap saja kontroversi.

Baca Juga: Misi di Balik Politik Dua Kaki Demokrat Pada Pilpres 2019 dan Dampaknya

“Kedua kubu berangkat dari asumsi bahwa pembangunan opini melalui media dan new media (termasuk medsos) penting untuk dimenangkan. Faktanya memang pengguna internet di Indonesia sudah melebihi 120 juta jiwa, tren yang sama berlaku bagi sosmed,” kata Zaenal kepada Asumsi.co, Sabtu, 15 September.

Menurut Zaenal, keberadaan Farhat dan Buni Yani justru jadi ceruk pasar yang besar dan tidak mungkin dilewatkan. Hanya saja, lanjut Zaenal, publik tetap saja berharap terbukanya saluran informasi dan seharusnya diisi dengan narasi-narasi positif yang produktif dan mendidik. 

“Jika sebaliknya (media dijejali dengan sensasi dan black propaganda), maka ini justru bisa jadi ancaman bagi demokrasi kita,” ucap Dosen FISIP di Universitas Al-Azhar Indonesia tersebut.

Zaenal pun menyarankan bahwa akan lebih baik (jika harus menyerang kompetitor), kedua kubu menggunakan opsi negative campaign yang berbasis data. Hal itu misalnya terkait track record calon dan tentu tidak masuk ranah private seperti personal, keluarga, dan SARA. 

“Sebab di banyak kasus, bila kita menyinggung isu-isu seperti ini pasti akan ada konsekuensi munculnya resiko yang besar, termasuk mengancam kohesi sosial di masyarakat,” ujarnya.

Related Article