Evi Apita Maya, Yang Cantik dan Diberi Mandat oleh Rakyat

Cermin ajaib, siapakah yang tercantik di antara para politikus ini? Evi Apita Maya mungkin salah satu jawabannya. Sosoknya mendadak viral di jagat maya setelah dipastikan memperoleh suara tertinggi sebagai calon anggota DPD RI daerah pemilihan NTB, dengan perolehan 283.932 suara. Kemenangan calon wakil rakyat nomor urut 26 ini di luar prediksi para pengamat politik. Mengingat ia adalah pendatang baru dengan sepak terjang yang masih jarang terdengar, tak sedikit yang berspekulasi bahwa paras cantiknyalah yang mengantarkan ia kepada kesuksesan tersebut.

Menggunakan tudung coklat dan setelan hijau, foto Evi yang tercetak pada kertas suara dipercaya berhasil memikat pemilih. Petahana yang kalah suara darinya lantas protes, mengatakan foto itu sebagai hasil rekayasa. Orang-orang itu serius. Buktinya: mereka berencana mengadukan kasus pemalsuan dokumen ke Bawaslu.

Ini bukanlah kali pertama kesuksesan politikus dikaitkan dengan parasnya. Pertanyaannya, seberapa jauh wajah rupawan bisa menguntungkan dalam perolehan suara Pemilu? Penampilan fisik seorang politisi bisa jadi penting. Terutama bagi uninformed voters atau pemilih yang tidak memiliki informasi cukup mengenai para kandidat.

Pencarian informasi jelas menuntut upaya ekstra. Tak sulit. Namun, hari-hari ini, informasi yang kita dapatkan belum tentu yang kita butuhkan, dan sebaliknya.

Dalam konteks pemilu serentak tahun ini, fokus para pemilih jelas terbagi dalam mengakses informasi. Mereka harus mengenali calon presiden, calon anggota DPR RI, calon anggota DPRD Provinsi, calon anggota DPRD Kabupaten/Kota, dan calon anggota DPD RI yang akan mereka pilih. Menggali informasi sebanyak itu bukanlah perkara sepele. Beberapa pemilih hanya tertarik atau fokus pada capres saja, atau caleg DPRD kabupaten/kota saja dengan mengenyampingkan informasi mengenai calon-calon lainnya.

Dari pengalaman saya berbincang dengan beberapa pemilik hak suara setelah pencoblosan, banyak yang mengaku bingung ketika berada di dalam bilik. Bukan saja karena kertas suaranya yang berukuran besar, tetapi karena mereka tidak tahu siapa yang harus dipilih. Khususnya untuk calon DPD RI. Banyak yang mengaku tak mengenal satu pun wajah-wajah yang ada di atas kertas suara. Bahkan petahana DPD RI wilayah NTB banyak yang berguguran Pemilu tahun ini.

Ini perlu menjadi catatan penting terhadap kinerja DPD RI pada masa mendatang. Para senator di pusat harus tetap mengakar ke daerah agar figur mereka lebih dikenali dan kinerja mereka sebagai wakil rakyat benar-benar terasa manfaatnya. Sudah menjadi  pengetahuan umum bahwa tugas, fungsi ataupun kinerja DPD RI selama ini belum banyak diketahui masyarakat. Alhasil, saat pemilu serantak yang lalu pun, pemilih kurang termotivasi untuk meluangkan diri mencari informasi mendalam seputar para kandidat DPD RI.

Di tengah keterbatasan informasi mengenai para kandidat tersebut, tampilan fisiklah yang paling mudah dan cepat diobservasi. Paras yang rupawan biasanya diidentikan dengan jiwa kompeten, berdedikasi, wibawa, dan hal-hal positif lainnya.

Bukanlah hal yang mengejutkan jika penampilan memiliki peran penting dalam politik. Bahkan, bisa dibilang penampilan lebih besar perannya dalam politik dari pada dalam ranah profesi lain secara umum. Pada profesi lain, seorang interviewer atau bagian HRD akan benar-benar menggali kompetensi calon pekerja untuk menentukkan kelayakannya. Sebaliknya, dalam politik, hanya sebagian kecil pemilih yang memiliki kesempatan bertemu dan berbicara langsung untuk menggali kompetensi para kandidat atau politikus. Alhasil, banyak yang membuat terkaan berdasarkan penilaian penampilan fisik atau foto semata.

Ini menjadi catatan penting bagi perbaikan pendidikan politik kita di kemudian hari. Kita tidak menginginkan politisi yang hanya bermodalkan paras jatmika menggantikan orang-orang kompeten tetapi kurang sedap dipandang. Masyarakat harus benar-benar diajak mengenali visi-misi dan sepak terjang calon wakilnya.

Bagi politikus, memperhatikan penampilan atau foto mereka di atas kertas suara memang menjadi strategi yang baik. Namun, menjaga performa dan kinerjanya agar dikenal baik di mata masyarakat jauh lebih penting. Sebab pada akhirnya, masyarakat akan tetap lebih menjatuhkan pilihannya pada wakil rakyat yang dinilai mampu membawa perubahan.

Catatan lain dari viralnya foto Evi Apita Maya adalah performa perempuan di ranah politik yang masih dipandang sebelah mata. Masyarakat dan media masih sibuk menyoroti parasnya, sehingga luput akan banyak informasi lain seputar kinerjanya. Ini menjadi cerminan bahwa kehadiran perempuan di ranah politik masih dianggap hanya sebagai pemanis, di mana orang-orang lebih berminat merayakan tampilan luarnya ketimbang memeriksa kompetensinya.

Rahmatul Furqan adalah alumni Melbourne University, program Master of Global Media and Communication. Sebelumnya, penulis sempat bekerja sebagai jurnalis di Lombok Post.

Related Article