Enggak Dibahas di Pilpres, Padahal Sampah Plastik Sudah Mengancam!

Dalam debat Pilpres putaran kedua yang dilaksanakan di Hotel Sultan, Jakarta, tanggal 17 Februari 2019 kemarin, salah satu tema yang diangkat adalah mengenai lingkungan hidup. Meski membahas topik tersebut, penggunaan sampah plastik tidak dibahas sama sekali. Padahal, Indonesia menempati peringkat kedua penghasil sampah terbanyak di dunia setelah Tiongkok. Tiap menitnya, penggunaan kantong plastik di Indonesia melebihi angka satu juta.

Baca Juga: Mengapa Indonesia Bisa Menjadi Penghasil Sampah Terbesar Kedua di Dunia? 

Tak Mudah Terurai, Plastik Mengancam Lingkungan Hidup

Lantas, mengapa plastik begitu berbahaya bagi lingkungan hidup? Plastik adalah salah satu benda yang sulit terurai. Berdasarkan informasi dari CNN Indonesia, kantong plastik membutuhkan waktu hingga 12 tahun untuk dapat terurai. Botol plastik, dengan polimer yang lebih tebal dan kompleks, baru dapat terurai setelah 20 tahun. Dengan penggunaan yang begitu masif, jelas ancaman plastik ini begitu nyata adanya.

Berdasarkan fakta-fakta yang ditemukan, polusi yang diakibatkan plastik ini telah membunuh hewan-hewan khususnya di lautan. Salah satunya adalah penyu, yang seringkali salah mengira sampah plastik sebagai ubur-ubur. Berdasarkan penelitian University of Exeter, Inggris, sampah plastik telah membunuh 1.000 penyu tiap tahunnya. Bahkan, polusi plastik ini berdampak lebih buruk dibanding tumpahan minyak di lautan. “Para ahli yang kami survei menemukan bahwa keterikatan plastik dan polusi lainnya dapat menimbulkan jangka panjang pada kelangsungan hidup beberapa populasi penyu dan dampak ini lebih besar daripada tumpahan minyak,” tutur Brendan Godley, seorang profesor ilmu konservasi di Exeter, seperti dilansir Newsweek, Selasa (19/2). Ia pun mengungkapkan pentingnya memotong tingkat limbah plastik dan mencari alternatif seperti plastik biodegradable. “Kita perlu memotong tingkat limbah plastik dan mengejar alternatif biodegradable (plastik yang terurai) jika ingin mengatasi ancaman serius terhadap kesejahteraan penyu ini.”

Selain penyu, hewan lainnya yang juga diduga terbunuh akibat polusi plastik adalah paus. Pada bulan November 2018 yang lalu, seekor paus mati terdampar di perairan Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Di dalam tubuhnya, ditemukan sampah plastik dalam jumlah yang cukup besar, yakni 5,9 kg. Dari total sampah plastik ini, 150 gram di antaranya adalah botol, 260 gram kantong, 270 gram sandal jepit, 140 gram plastik keras, dan 750 gram gelas plastik.

Tidak Dibicarakan dalam Debat Pilpres, Pemerintah Daerah Mulai Gencar Kurangi Sampah Plastik

Mengingat ancaman plastik ini sudah begitu nyata, seharusnya debat capres kemarin membahas mengenai hal ini. Namun sayangnya, tidak ada satu pun capres yang mengangkat isu ini. Penggunaan plastik yang sudah mengancam lingkungan hidup ternyata belum cukup untuk dapat dibahas dalam debat pilpres kemarin.

Padahal, di tingkat daerah, gerakan pelarangan penggunaan kantong plastik sudah mulai digencarkan. Salah satunya adalah di Kota Bogor. Di Bogor, per tanggal 1 Desember 2018, kantong plastik resmi dilarang. Hal ini seperti diungkapkan oleh Walikota Bima Arya dalam pencanangan Hari Tanpa Kantong Plastik di Kota Bogor, Sabtu. “Hari ini dimulai Hari Botak (Bogor Tanpa Kantong Plastik) se-Kota Bogor,” tutur Bima. Kebijakan larangan penggunaan kantong plastik di ritel modern dan pusat perbelanjaan ini diatur dalam Peraturan Wali Kota Nomor 61 Tahun 2018 tentang Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik.

Related Article