Survei Charta Politika: Elektabilitas Prabowo Teratas, Disusul Ganjar dan Anies

Lembaga survei Charta Politika Indonesia merilis hasil survei bertajuk “Trend 3 Bulan Kondisi Politik, Ekonomi, dan Hukum pada Masa Pandemi COVID-19”, Rabu (22/7/20). Salah satu hal yang diukur ialah elektabilitas kandidat presiden di Pemilu 2024. Hasilnya, Prabowo Subianto berada di posisi pertama, diikuti Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan. 

Survei ini dilaksanakan pada 6-12 Juli 2020, melalui wawancara telepon dengan metode simple random sampling kepada 2.000 responden yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Lalu, margin of error (toleransi kesalahan) survei sebesar 2,19 persen pada tingkat kepercayaan (level of confidence) sebesar 95 persen. Kriteria responden berusia minimum 17 tahun atau memiliki hak suara dalam pemilu.

"Responden disodorkan 11 nama tokoh kandidat capres. Seandainya Pilpres dilaksanakan hari ini, siapakah yang akan dipilih? Prabowo 17,5%, Ganjar 15,9%, Anies 15%," kata Yunarto Wijaya, Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia, Rabu (22/7). 

Demikian hasil lengkapnya:
Prabowo Subianto: 17,5%
Ganjar Pranowo: 15,9%
Anies Baswedan: 15%
Sandiaga Uno: 11,2%
Ridwan Kamil: 10,1%
Agus Harimurti Yudhoyono (AHY): 4%
Tri Rismaharini: 2,1%
Erick Thohir: 2,1%
Khofifah Indar Parawansa: 1,7%
Mahfud Md: 1,3%
Gatot Nurmantyo: 1%
Tidak Jawab/Tidak Tahu: 18,2% 

Meski berada di posisi teratas, Prabowo mengalami penurunan elektabilitas selama tiga bulan terakhir atau dibanding dua survei sebelumnya. Anies Baswedan mengalami tren naik dan turun, misalnya di bulan Juni, Anies mengalami penurunan, namun naik lagi di bulan Juli. Sandiaga Uno cenderung stabil.

Sementara itu, elektabilitas tokoh lainnya seperti Ganjar Pranowo, Ridwan Kamil, Tri Rismaharini, AHY, hingga Erick Thohir cenderung naik.

"Kenaikan paling tajam itu ada di Mas Ganjar, selisihnya sudah ada di atas margin of error," ucap Yunarto.

Adapun tren elektabilitas tiga kandidat capres teratas selama tiga bulan terakhir adalah sebagai berikut:

Prabowo Subianto
Mei: 22 persen
Juni: 20 persen
Juli: 17,5 persen

Ganjar Pranowo
Mei: 13,3 persen
Juni: 14,8 persen
Juli: 15,9 persen

Anies Baswedan
Mei: 18,3 persen
Juni: 16,8 persen
Juli: 15 persen

Yunarto menilai kenaikan elektabilitas Ganjar dipengaruhi oleh faktor sering tampilnya Ganjar di hadapan publik selama pandemi COVID-19. Dalam kondisi seperti ini, lanjut Yunarto, bakal ada pergeseran pemilih yang menurutnya cukup baik. Di samping ada pula kecenderungan publik akan semakin meritocratic dalam pilkada, terutama dalam pilpres, di mana publik akan lebih melihat sosok yang punya track record.

“Karena ujiannya sekarang konkret, yakni terkait bisa kerja atau enggak. Nah, nama-nama capres 2024 yang hanya bersandar pada darah birukah, atau ketua umum partaikah, memiliki ujiannya tersendiri di 2024 nanti," ucapnya.

Bagaimana dengan Anies Baswedan yang mengalami penurunan elektabilitas, berbeda dengan Ganjar dan Ridwan Kamil? Menurut Yunarto, "Ada perbedaan momentum antara Anies dengan Ganjar dan Ridwan Kamil. Sebelum munculnya pandemi, Anies Baswedan sudah mendapatkan momentum besar sebagai simbol dari barisan yang berseberangan dengan pemerintah, dan juga dianggap berseberangan dengan kubu Jokowi," kata Yunarto.

Sementara Ganjar dan Ridwan Kamil, lanjut Yunarto, justru belum pernah punya momentum sebesar apa yang dialami Anies. Elektabilitas mereka pun terkerek oleh penanganan COVID-19.

“Sedangkan untuk Ridwan Kamil, malah harus muncul dalam momentum baru, yang tadinya sebatas simbol dialog lawan Jokowi, sekarang juga diuji sebagai kepala daerah, apakah berhasil untuk menyelesaikan pandemi atau tidak,” ujarnya.

Related Article