Dukungan Muchdi PR ke Jokowi dalam Jerat Hubungan Cendana di Partai Berkarya

Partai Berkarya telah sepakat untuk mendukung calon presiden (capres) Prabowo Subianto di Pilpres pada 17 April 2019 nanti. Namun dukungan itu tak serta merta membuat para kader bersedia kompak mendukung capres yang sama dengan pilihan partai. Seperti halnya Muchdi Purwoprandjono (Muchdi Pr) yang memilih sikap politik berbeda dengan para petinggi Partai Berkarya lainnya.

Muchdi PR sendiri merupakan wakil ketua umum partai, namun ia justru menyatakan dukungan ke pasangan capres-cawapres nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin. Hal itu dibuktikan dari sebuah video yang beredar. Dalam video tersebut, tergambar bahwa ia sedang menghadiri acara silaturahim Presiden Joko Widodo dengan purnawirawan TNI-Polri di Jakarta International Expo Kemayoran, Minggu, 10 Februari 2019 kemarin.

Pada kesempatan yang sama, sebanyak 1.000 perwakilan purnawirawan TNI-Polri juga mendeklarasikan dukungan kepada pasangan Jokowi-Ma'ruf. Muchdi mengaku bahwa dirinya punya alasan hingga berani membelot dari keputusan partai. Salah satunya, kata Muchdi, di kepemimpinanan capres petahana Jokowi, pembangungan Indonesia lebih terasa.

"Pertama, karena saya melihat Pak Jokowi ini sudah berbuat banyak selama lima tahun ini. Pembangunan yang dirasakan masyarakat Indonesia itu sudah jelas, mulai jalan tol, masalah pelabuhan, masalah airport, masalah industri, dan lain-lain," kata Muchdi.

Menurutnya, hasil kerja yang demikian tidak pernah dilakukan oleh presiden siapa pun sejak 15 tahun reformasi. Lebih lanjut, Muchdi bahkan mengklaim bahwa Prabowo tidak pernah akan bisa melakukan target kerja yang sama dengan Jokowi. Ia berani berkata demikian karena mengaku mengenal sosok Prabowo.

"Pak Prabowo itu kan kawan saya. Jadi, saya kira itu tidak bisa dilakukan Pak Prabowo lima tahun ke depan," ucap Muchdi. Lalu, bagaimana hubungannya dengan Prabowo selama ini?

Muchdi dan Prabowo, Kawan Lama Sejak Dulu

Benar saja, Muchdi PR punya sejarah erat dengan Prabowo Subianto. Pria kelahiran di Sleman, Yogyakarta ini lulus dari Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) pada 1970. Karier militernya di era Orde Baru terbilang mulus. Ia pernah menjabat Panglima Kodam VI/Tanjungpura yang sejak 1985 membawahi seluruh wilayah Kalimantan. Kemudian, pada Maret 1998, ia ditunjuk menjadi Danjen Kopassus melanjutkan tugas Prabowo Subianto yang naik pangkat sebagai Pangkostrad.

Meskipun setelah Presiden Soeharto lengser, tepatnya pada Mei 1998, posisinya digantikan oleh Mayjen TNI Syahrir MS. Ia juga pernah terjerat kasus yang cukup serius meskipun akhirnya ditetapkan tidak bersalah. Hingga beberapa tahun kemudian, Muchdi terjun ke kancah politik dengan turut mendirikan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) pada 6 Februari 2008, bersama Prabowo Subianto dan beberapa tokoh lainnya.

Ia bahkan sempat menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Partai Gerindra. Hubungan Muchdi PR dan Prabowo diketahui sangat dekat sejak lama. Maka, bukan hal yang aneh jika Muchdi turut mendukung rekan sejawatnya itu untuk bertarung di medan politik. Kedekatan Muchdi dan Prabowo pernah diakui politikus Gerindra, Pius Lustrilanang.

“Sangat dekat, bisa dibilang sahabat,” ungkap Pius yang juga menjadi korban penculikan aktivis pada 1997-1998.

Sayangnya, pada 23 Februari 2011, dua sahabat itu terpisahkan. Muchdi memilih hengkang dari Gerindra dan kemudian bergabung dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Perbedaan pilihan politik antara Muchdi PR dan Prabowo makin terlihat di Pemilu 2014. Kala itu, Prabowo yang berpasangan dengan Hatta Rajasa merupakan peserta Pilpres dan bersaing dengan Jokowi dan Jusuf Kalla (JK).

Sejak itu, ia sudah memberi dukungan kepada Jokowi-JK. Bahkan Muchdi ikut bergabung dengan Relawan Matahari Indonesia. Saat perhitungan suara, sahabat muchdi, Prabowo pun gagal menjadi presiden. Kini ia memilih berpolitik di Partai Berkarya, meskipun dukungannya masih untuk Jokowi.

Sekjen Partai Berkarya Priyo Budi Santoso buru-buru menegaskan langkah Muchdi adalah pilihan pribadi. "Sikap Pak Muchdi adalah pendapat dan manuver pribadi beliau yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Partai Berkarya," ujar Priyo dalam keterangannya, Senin, 11 Februari 2019. Mantan politikus Partai Golkar ini menegaskan, Partai Berkarya tetap pada garis keputusan mendukung penuh Prabowo-Sandi.

Priyo memerintahkan seluruh kader agar fokus pada dwisukses, yaitu sukses di legislatif dan sukses Prabowo sebagai presiden. Sementara itu, ada anggapan bahwa dukungan Muchdi terhadap Jokowi dapat memecah suara Cendana, sebutan untuk keluarga mantan Presiden Soeharto yang mendirikan Partai Berkarya. Hingga Muchdi sempat diminta untuk dicopot dari jabatannya dan dipecat dari partai.

Meski begitu, baik Ketua Umum (Ketum) Partai Berkarya Hutomo Mandala Putra maupun Ketua Dewan Pertimbangan (Wantim) Siti Hediati Hariyadi sampai saat ini belum memberikan tanggapannya. "Apakah partai akan mengambil langkah tindak lanjut? Tentang ini saya belum mau berkomentar. Kita menunggu arahan Ketum dan juga pandangan Ketua Wantim, Ketua Wanhor (Tedjo Eddy), para waketum, dan tokoh lainnya," kata Priyo.

Related Article