Dua Situasi Politik yang Bakal Terjadi Jika Prabowo Jadi King Maker

Rasanya sudah banyak pihak yang menyarankan agar Prabowo Subianto legawa dan mau menjadi king maker di kontestasi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 mendatang. Jika memang jadi king maker, seperti apa kira-kira situasi politik yang akan terjadi?

Seperti diketahui, sampai hari ini, Prabowo memang belum mendeklarasikan diri untuk maju sebagai calon presiden (capres) di Pilpres 2019. Prabowo tampaknya masih mempertimbangkan banyak hal termasuk kekuatan dukungan dari berbagai partai politik.

Direktur Eksekutif Voxpol Center Pangi Syarwi Chaniago bahkan sangat yakin jika Prabowo tak akan maju di Pilpres 2019. Menurut Pangi, Ketua Umum Partai Gerindra itu hanya akan menjadi seorang king maker yang bertarung dibalik layar.

"Saya haqul yakin Prabowo bakal tidak maju. Akan jadi king maker," kata Pangi di Jakarta, seperti dilansir dari Antara, Kamis, 19 Juli.

Apa Itu King Maker?

Apa sih sebenarnya king maker itu? Lalu seperti apa peran vital yang akan dimainkan king maker, terutama di pentas Pilpres 2019 mendatang?

King maker sendiri merupakan istilah yang diberikan kepada orang-orang yang berada di belakang layar, yang tugasnya menyiapkan para pemimpin melalui berbagai proses pendidikan. Selain itu, biasanya king maker selalu jadi tempat bertanya dan diskusi dari sang pemimpin (leader) untuk memecahkan berbagai persoalan.

Nah, Prabowo tentu akan mempertimbangkan banyak hal apakah nanti memilih maju sebagai calon presiden atau jadi king maker saja di Pilpres 2019. faktor-faktor seperti logistik, serta beban mental tentu akan banyak mempengaruhi.

Ya, seperti kita tau, kekalahan dua kali saat ikut serta di Pilpres 2009 dan Pilpres 2014, tentu bisa jadi beban psikologis bagi Prabowo. Meski begitu, kekalahan beruntun itu juga bisa saja membuat Prabowo malah bertambah kuat secara mental.

Tentu dengan menjadi king maker, tak sekaligus membuat pengaruh Prabowo habis dan selesai. Meski di sisi lain Prabowo juga harus menghadapi dampak besar jika ia memutuskan tak maju di Pilpres 2019.

Menurut Pangi, Prabowo jauh lebih terhormat dan disegani apabila mengatur capres dan cawapres yang kelak diusung dari belakang layar. Prabowo pun akan jadi seorang negarawan. "Tidak perlu Prabowo berdarah-darah dan jadi bemper," kata Pangi.

Coba saja kita tengok tangan dingin Prabowo saat menjadi king maker di kancah perpolitikan tanah air sebelumnya. Berkat Prabowo lah, Jokowi, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Anies Baswedan, sampai Sandiaga Uno bisa memimpin DKI Jakarta. 

Dengan memainkan peran sebagai king maker tersebut, Prabowo tentu akan seperti Megawati Soekarnoputri yang berhasil mengorbitkan Jokowi di Pilpres 2014, juga seperti Susilo Bambang Yudhoyono, dan Jusuf Kalla yang memainkan peran mengatur strategi di belakang layar.

Lalu, bagaimana situasi peta politik yang akan terjadi jika Prabowo akhirnya menjadi king maker di Pilpres 2019?

Jokowi Kehilangan Lawan Tangguh

Jokowi yang sudah mendeklarasikan diri sebagai capres, tentu akan kehilangan lawan tangguh di Pilpres 2019 jika Prabowo memutuskan jadi king maker. Bagaimana tidak, hasil survei dari sederet lembaga selalu memposisikan Jokowi dan Prabowo di peringkat teratas elektabilitas.

Ya, Jokowi dan Prabowo memang selalu kejar-kejaran dalam peta elektabilitas Pilpres 2019. Nyaris tak ada sosok lain yang bisa mendekati perolehan angka yang diraih keduanya di berbagai hasil survei.

Misalnya saja hasil survei Cyrus Network yang dirilis pada Kamis, 19 April lalu, yang masih menegaskan bahwa elektabilitas Jokowi dan Prabowo selalu berada di urutan teratas. Dua sosok itu selalu mendapatkan angka tinggi.

Elektabilitas Jokowi mencapai angka 58,5 persen, sementara Prabowo hanya meraup 21,8 persen, disusul Gatot Nurmantyo 2,0 persen dan Hary Tanoesoedibjo 1,1 persen. Coba saja lihat sejumlah sosok lainnya yang mendapatkan angka sangat jomplang.

"Prabowo Subianto adalah kompetitor terkuat. Hanya Prabowo Subianto sisanya kecil-kecil," kata Managing Director Cyrus Network Eko Dafid Afianto saat merilis hasil survei di D’Consulate Lounge, Menteng, Jakarta, Kamis, 19 April.

Muncul Capres-capres Baru

Seandainya jadi king maker, Prabowo tentu akan berada di belakang layar dan memastikan ada capres dan cawapres yang menggantikannya di Pilpres 2019. Lalu, tentu akan ada sosok capres-capres baru yang muncul dan jadi penantang Jokowi.

Siapa saja kira-kira yang capres-capres baru yang akan muncul?

Setidaknya akan ada tiga tokoh yang bisa jadi kuda hitam dan menjadi penantang Jokowi di Pilpres 2019 nanti. Sebut saja Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Ketua Kogasma Partai Demokrat AHY, dan Mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo.

Saat ini, Prabowo tentu memegang satu kartu penting yakni tiket memenangkan Pilpres 2019. Kartu tersebut berguna untuk menentukan sosok yang akan dia percaya untuk mengemban amanah sebagai capres nanti.

Entah itu Anies, AHY, Gatot, atau malah ada figur lain yang bisa saja muncul, keputusan besar tentu ada di tangan Prabowo. Yang jelas jika Prabowo sudah menentukan satu capres, maka peluang munculnya capres-capres lain juga masih terbuka.

Related Article