Drive-in Cinema: Alternatif Menonton di Bioskop?

“Sedih. Apalagi film terakhir yang saya tonton di bioskop, ampun deh, jelek banget. Padahal stimuli yang dikeluarkan oleh layar dan speaker bioskop itu belum ada yang menggantikan. Bahkan home theater sekalipun,” ujar Iman Kurniadi, seorang penggemar film. 

Sudah lebih dari dua bulan Iman tidak mengunjungi bioskop. Padahal, sebelum pandemi, ia bisa pergi ke bioskop sebanyak 8-9 kali sebulan. Iman pun kerap mendatangi pemutaran-pemutaran alternatif seperti festival film dan bioskop mikro.

Pengalaman menonton secara komunal jadi barang mewah semasa pandemi. Jaringan bioskop arus utama maupun alternatif tak bisa beroperasi. Layar tancap yang mengumpulkan puluhan--bahkan ratusan orang dalam sebuah ruangan terbuka juga tak bisa jadi pilihan. 

Buku Wacana Sinema: Menonton Penonton terbitan Dewan Kesenian Jakarta menunjukkan bahwa penonton bioskop di Indonesia juga menikmati film lewat platform-platform lain, seperti pelantar internet berbayar atau OTT sebanyak 41,7%, layanan TV kabel sebanyak 54,2%, bioskop alternatif sebanyak 23,1%, dan festival film 16%. Penerapan social distancing membuat opsi menonton mereka menyempit menjadi lewat internet, televisi, dan media portabel seperti DVD dan VCD saja. 

Padahal, bagi sejumlah orang, menonton film di bioskop adalah pengalaman yang tak tergantikan. Menonton di layar bioskop yang besar, ditambah suara yang lebih berkualitas dan kursi bioskop yang nyaman membuat seseorang dapat lebih menikmati sinema. Tak hanya itu, aspek komunal juga berperan penting. Penelitian dari New Jersey, Amerika Serikat, menemukan bahwa penonton lebih suka menonton di bioskop daripada di rumah yang diatur seperti teater. Sama-sama menyaksikan Jumanji: Welcome to the Jungle, penonton di bioskop merasa film itu lebih dramatis dan intens. 

Lantas, adakah alternatif untuk tetap merasakan pengalaman menonton seperti di bioskop tanpa perlu khawatir tertular virus Corona? 

Drive-in cinema mungkin bisa jadi jawabannya. Sejak pandemi memaksa kita menjaga jarak, bioskop-bioskop drive-in di seluruh dunia kian ramai peminat. Di Amerika Serikat, misalnya, drive-in cinema yang biasanya sepi penonton kini hampir selalu penuh. Layar pun bertambah--United Drive-In Theater Owners Association (UDITOA) menyebutkan bahwa jumlah drive-in cinema yang kembali beroperasi terus bertambah setiap pekan. Begitu pula di Korea Selatan yang mengalami peningkatan penjualan 10-20% pada hari kerja dan laris-manis pada akhir minggu. 

Baru-baru ini, ada kabar bahwa konsep drive-in cinema hendak dibawa ke Indonesia. Pengelola acara Ergo and Co. sedang menggagas pemutaran drive-in cinema di Jakarta sehingga penonton bisa menikmati film bersama-sama tanpa melanggar aturan social distancing. Perwakilan Ergo and Co. Adam Hadziq mengaku terinspirasi dari acara-acara serupa di Korea dan Jerman.

“Sebenarnya sih idenya mencari peluang usaha di kondisi pandemi yang semuanya serba susah. Di luar negeri sudah ada yang jalan program seperti ini--walau dengan nama berbeda,” kata Adam sebagaimana dikutip Kompas.com.

Juru program bioskop alternatif Kinosaurus, Alexander Matius, mengatakan drive-in cinema dapat menawarkan pengalaman menonton baru di kala pandemi. “Kalau dalam konteks pandemi, drive-in cinema ini bisa jadi satu bentuk alternatif untuk mengobati kerinduan orang menonton di bioskop. Ini juga sifatnya menggabungkan antara yang personal--karena menonton di dalam kendaraan pribadi--dan pengalaman menonton yang berkualitas. Makanya dinamakan ‘teater’ dan bukan ‘menonton seadanya’,” tutur Matius kepada Asumsi.co (15/5). 

Iman menyambut upaya Ergo and Co. “Inisiatif ini menurut saya positif, sebab ini jadi sebuah cara yang berbeda untuk menonton film dan memberikan sensasi yang berbeda pula. Jika definisinya adalah menonton film di dalam mobil, pasti akan ada tantangan yang muncul--seperti cuaca, nyamuk, atau kejelasan suara,” katanya.

Drive-in cinema yang digagas oleh Ergo and Co. sebenarnya bukan barang baru di Indonesia. Pada 1970-an, konglomerat bidang properti dan konstruksi Ciputra pernah membangun drive-in cinema di kawasan Ancol, Jakarta Utara. Bioskop terbuka seluas lima hektare dan mampu menampung 800 mobil itu dikatakan sebagai drive-in cinema terbesar di Asia Tenggara. 

Awalnya, hanya kalangan atas yang bermobil saja yang bisa menikmati bioskop ini. Namun, lama-kelamaan, harga tiket surut dan orang-orang yang tidak memiliki mobil juga dapat masuk. Teater tersebut menarik banyak penonton dan meraih untung. Bahkan, drive-in cinema ini pernah jadi tempat konser musik penyanyi Stevie Wonder. Namun, karena keuntungan yang didapat tak cukup besar, Ciputra menutup teater ini dan merombaknya menjadi pusat perbelanjaan pada 1990-an. 

Drive-in cinema bisa jadi menjawab kebutuhan orang untuk menonton di layar lebar. Namun, tak dapat dimungkiri bahwa karakteristiknya tetap berbeda dari bioskop.

“Kalau untuk menggantikan porsi bioskop mungkin bisa, tapi agak sulit. Ada beberapa faktor yang mesti dipenuhi. Nggak semua orang punya mobil. Lewat drive-in pun lo mungkin akan mendapatkan pengalaman yang nggak didapatkan di bioskop: lo punya personal space sendiri sehingga bisa menonton sambil melakukan kegiatan-kegiatan lain tanpa mengganggu sekeliling," kata Iman.

Iman berharap drive-in cinema dapat diakses oleh semua kalangan--baik yang memiliki mobil maupun tidak.

“Karena warga Jakarta majemuk, saran saya drive-in cinema ini bisa diperuntukkan bagi semua kalangan. Bukan bagi yang memiliki mobil saja, tapi juga yang memiliki motor dan juga tikar atau matras. Tentu, jika prinsip utamanya adalah menegakkan social distancing, bisa ada pengaturan posisi tertentu agar tetap aman.”

Untuk itu, Matius sendiri berharap inisiatif untuk mengembangkan drive-in cinema ini juga bisa turut membuka peluang-peluang kerja sama baru yang menjembatani kebutuhan semua kalangan.

“Gue jadi penasaran apakah nantinya taksi online bisa ikut bekerja sama dengan drive-in dan menjembatani penonton-penonton yang nggak punya kendaraan pribadi. Atau bisa juga dengan rental mobil,” tuturnya.

Related Article