post

Current Affairs

Donald Trump Baru Saja "Menerima" Anugerah Fiktif

Raka Ibrahim, 15 September 2020

Presiden AS, Donald Trump, kembali berulah. Baru-baru ini, ia mengklaim bahwa ia pernah menerima anugerah Bay of Pigs Awards dari komunitas pengungsi Kuba di AS. Persoalannya sederhana sekali: penghargaan tersebut tak ada.

Klaim mencengangkan itu digencarkan Trump melalui akun Twitternya akhir pekan (13/9) lalu. Kepada publik, ia mengaku diganjar penghargaan Bay of Pigs tersebut oleh warga Kuba-Amerika yang tinggal di Florida--negara bagian yang sedang diperebutkan suaranya antara Trump dengan Joe Biden, pesaingnya di Pilpres 2020.

Bay of Pigs adalah nama tenar untuk sebuah upaya invasi terhadap Kuba yang berlangsung pada April 1961. Kala itu, diktator Kuba yang dibeking AS baru saja digulingkan oleh rezim komunis Fidel Castro. AS, di bawah kepemimpinan Presiden John F. Kennedy, membiayai sekumpulan pengungsi Kuba di AS untuk menginvasi balik ke Kuba. Singkat cerita, invasi tersebut gagal total, relasi antara AS dan Kuba rusak selama sekian dekade, dan rezim komunis tetap berkuasa di Kuba hingga kini.

Menurut penelusuran The Guardian, “penghargaan” yang dimaksud boleh jadi berasal dari kunjungan Trump ke sebuah rumah di Little Havana, wilayah yang penuh ekspat Kuba di Miami, Florida. Pada 1999, saat Trump pertama mencoba jadi capres melalui Partai Reform, ia mampir ke sebuah museum di Little Havana yang didedikasikan untuk memperingati upaya invasi Bay of Pigs.

Di sana, ia ditemui oleh penyintas dari Brigade 2506, pasukan yang berangkat dalam invasi gagal tersebut. Pada 1999 dan saat ia kembali ke sana pada 2016, Trump menerima “lencana Brigade 2506” dari para penyintas invasi Bay of Pigs. Disinyalir kuat, Trump salah mengira bahwa suvenir ini adalah penghargaan resmi dari komunitas warga Kuba-AS di Florida.

Pemilihan istilah Bay of Pigs dan upaya Trump bermanis-manis ke komunitas Kuba jadi tambah signifikan, sebab saat ini baik Trump maupun Joe Biden sedang mati-matian mengejar suara pemilih berlatar belakang Latino di AS. Kedua capres tersebut terutama ngegas di negara bagian dengan jumlah pemilih Latino tinggi, seperti Arizona dan Florida.

Oleh komentator politik maupun pesaingnya di partai Republikan, Biden dituding lamban mengejar suara pemilih Latino. “Joe Biden si Pengantuk telah bersikap buruk selama 47 tahun ke pemilih Latino di dunia politik!” sindir Trump melalui Twitter-nya. “Sekarang, ia bergantung pada Bernie Sanders, sang pecinta Castro, untuk membantunya.”

Bernie Sanders, eks-capres dari Partai Demokrat, telah lama dituding demikian oleh lawan-lawan politiknya. Dengan mengatakan Biden dibantu pecinta Castro sementara ia menerima penghargaan dari veteran invasi Bay of Pigs, ia ingin mendekatkan diri pada calon pemilih keturunan Latino di AS, terutama asal Kuba, yang mengungsi dari rezim Castro bertahun-tahun lalu.

Apalagi, secara tradisional pemilih Latino dikenal sebagai pendukung fanatik partai Demokrat. Dalam pemilu 2018, 69% pemilih Latino menyoblos kandidat Kongres dari Partai Demokrat, dan proyeksi pemilih Latino yang akan memilih Trump di Pilpres 2020 tidak setinggi harapan. Hal ini diperparah oleh kebijakan-kebijakan Trump, yang berulang kali menyudutkan imigran Latino dan pengetatan perbatasan negara AS dengan Meksiko yang amat kontroversial.

Pada 2015, saat masih menjadi capres, ia sempat dipermasalahkan karena menyebut bahwa imigran yang masuk dari Meksiko adalah “pembawa kejahatan, narkoba, dan pemerkosa.” Sejak saat itu, popularitasnya yang hanya segelintir di kalangan Latino semakin jeblok.

Namun, kini Trump mencium adanya peluang. Kampanye Joe Biden dianggap lamban berusaha menjangkau pemilih Latino. Oleh para komentator politik, Biden dianggap kelewat fokus pada pemilih kulit putih dan tidak berupaya keras merangkul pemilih Latino--barangkali karena merasa pemilih non-kulit putih sudah hampir pasti akan memilih siapa saja asal bukan Trump.

Hanya, laporan terkini dari Washington Post mendapati bahwa perlahan-lahan, jumlah pemilih Trump berlatar belakang Latino terus bertambah. Trump tidak perlu merebut suara mereka, melainkan cukup mengganggu basis massa partai Demokrat di kalangan Latino.

Bahkan saat ia blunder sekalipun, Trump selalu mengundang keseruan.