Demokrat Resmi Dukung Prabowo, Konsolidasi Koalisi Jokowi Terus Dilakukan

Masuknya bulan Agustus 2018 ini menandakan pendaftaran untuk calon Presiden dan Wakil Presiden jelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 semakin dekat. Beberapa gerakan politik terjadi di minggu ini, dan dua hal yang paling menarik perhatian adalah bergabungnya Partai Demokrat dengan koalisi Prabowo dan konsolidasi koalisi Jokowi yang terus dilakukan.

Nah, terkait pergerakan koalisi yang tampaknya mulai meruncing menjadi dua kubu itu, Asumsi akan merangkumnya lebih lengkap dalam Capres Cawapres Watch minggu ini! Yuk disimak.

Partai Demokrat Resmi Gabung Koalisi Prabowo dan Temui PKS

Pada hari Senin, 30 Juli 2018 lalu, Partai Demokrat yang dipimpin oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berkunjung ke kediaman Prabowo. Hasil dari pertemuan ini secara resmi menyatakan bahwa Partai Demokrat bergabung dengan koalisi yang mendukung Prabowo untuk maju menjadi capres di Pilpres 2019.

Setelah melakukan gerilya politik berminggu-minggu dengan beberapa petinggi partai lain, resminya Partai Demokrat bergabung dengan Prabowo menjadi salah satu perkembangan yang signifikan untuk langkah partai dengan ciri khas warna biru ini.

“Kami bahas secara rinci soal sinergi ke depan, dan sepakat untuk melaksanakan kerja sama politik yang tentunya terwujud dalam koalisi,” kata Prabowo dengan SBY setelah pertemuan di hari Senin tersebut.

Pada pertemuan sebelumnya, memang sudah terlihat tanda-tanda Partai Demokrat akan bergabung dengan koalisi Prabowo. Hal ini salah satunya terlihat dari pidato SBY setelah Prabowo berkunjung ke kediamannya.

“Saya harus mengatakan jalan membangun koalisi terbuka lebar, apalagi setelah kami berdua sepakat atas apa yang menjadi persoalan bangsa lima tahun ke depan,” ucap SBY.

Setelah bertemu dengan Prabowo, SBY pun turut bertemu dengan para petinggi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Pertemuan ini dilakukan di Hotel Gran Melia, Rasuna Said, Jakarta. Ketika ditanya soal harapannya terkait pertemuan tersebut, SBY berharap pertemuan itu dapat menjadi berkah tersendiri. Selain itu, Hinca Pandjaitan, Sekjen Partai Demokrat, pun mengakui bahwa pertemuan ini berkaitan dengan Pilpres 2019.

“Bahas soal apa? Ya soal Pilpres,” kata Hinca ketika bersama-sama dengan SBY bertemu PKS di hotel tersebut.

Prabowo Temui PKS, PAN, dan PA 212

Di hari Selasa, 31 Juli 2018 malam, Prabowo bertemu dengan para petinggi partai dari PKS, PAN, dan juga petinggi PA 212. Dalam pertemuan tersebut, Prabowo bertemu dengan Presidium Alumni 212 Slamet Maarif, Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Aljufri, Wakil Ketua Majelis Syuro PKS Hidayat Nur Wahid, Presiden PKS Sohibul Iman, Anggota Dewan Pembina Gerindra Rachmawati Soekarnoputri, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan, dan Sekjen PAN Eddy Soeparno. Dikatakan oleh Fadli Zon, pertemuan ini hanya sebuah wadah untuk bertukar pikiran mengenai dinamika politik saat ini.

“Pokoknya ngobrol-ngobrol aja kok. Untuk saling tukar informasi kemudian juga update dari perkembangan komunikasi, dialog,” kata Fadli Zon.

Arahan Khusus Jokowi untuk Sembilan Sekjen Parpol

Di hari yang sama, Selasa, 31 Juli 2018, tapi di tempat yang berbeda, Joko Widodo memberi arahan untuk sembilan para petinggi partai yang menjadi bagian dari koalisinya.

Petinggi partai tersebut antara lain Hasto Kristiyanto dari PDIP, Frederich Lodewijk Paulus dari Golkar, Abdul Kadir Karding dari PKB, Arsul Sani dari PPP, Johnny G Plate dari NasDem, Herry Lontung Siregar dari Hanura, Raja Juli Antoni dari PSI, Ahmad Rofiq dari Perindo, dan Verry Surya Hendrawan dari PKPI. Pertemuan dengan kesembilan partai ini bertujuan untuk mempersiapkan langkah strategis menyangkut penjabaran nawacita.

“Kami membahas bagaimana langkah-langkah strategis menyangkut penjabaran nawacita kedua. Sudah ada tim disusun sehingga terjadi sinergi dalam hal visi-misi,” ucap Hasto Kristiyanto, pasca pertemuan tersebut.

Dalam pertemuan itu juga dibahas arahan Jokowi terkait kampanye politik damai dan merangkul agar ketegangan dapat terhindarkan. Suasana ini diharapkan agar perkembangan politik dapat menjadi sesantai suasana di Istana Bogor.

“Jokowi tadi sampaikan, Beliau (ingin) kembangkan politik damai, merangkul supaya Pilpres riang gembira sesejuk Istana Bogor,” ucap Karding.

Jokowi Kembali Beri Teaser Terkait Cawapres, Sekjen Partai Enggan Membeberkan

Lalu, pada hari Rabu, 1 Agustus 2018, Sekretaris Jenderal PPP Arsul Sani pun menyatakan bahwa Jokowi telah mengantongi satu nama cawapres yang akan menjadi pilihannya pada pertemuan dengan sembilan sekjen partai pendukung Jokowi.

Namun, tentu untuk menjaga kerahasiaan, Arsul Sani enggan membeberkan nama Cawapres tersebut. Menurut Sani, yang pasti ada dua syarat yang dipenuhi cawapres tersebut, yaitu Warga Negara Indonesai (WNI) dan Islam.

“Namanya rahasia, masa ditanya ke saya. Ini saya melanggar rahasia dong. Kan cuma dua petunjuknya, warga negara Indonesia dan beragama Islam,” kata Arsul pada, Rabu, 1 Agustus 2018 di Gedung DPR.

Related Article