Demokrat Berpeluang Bentuk Poros Ketiga, SBY: Ada Pemimpin Baru di 2019

Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengatakan Indonesia akan memiliki pemimpin baru di 2019. Maka dari itu, SBY mengisyaratkan untuk mengusung pasangan calon presiden dan wakil presiden sendiri di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 nanti.

Sejauh ini, Demokrat sendiri masih belum mengambil sikap jelang Pilpres 2019, meski saat ini hampir dipastikan sudah ada dua pasangan capres yakni Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto. Namun, Demokrat tampaknya bakal membentuk poros baru.

SBY Siap Usung Capres-Cawapres Pro Rakyat

"Saya akan pasangkan nanti, capres-cawapres yang mengerti keinginan rakyat. Insya Allah nanti ada pemimpin baru yang amanah, cerdas, dan memikirkan rakyat banyak," kata SBY pada pertemuan bersama ratusan ulama, santri dan masyarakat Kota Cilegon, Banten, Minggu, 24 April.

Meski begitu, SBY sendiri tak melanjutkan pernyataannya, terutama soal siapa sosok yang akan diusung Demokrat di Pilpres 2019 nanti.

Baca Juga: Setelah Nge-Tweet Masalah Hukum Rimba, SBY Lakukan Pertemuan Tertutup Dengan Wiranto

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Hinca Panjaitan mengungkapkan bahwa partainya saat ini tengah memainkan sebuah strategi cantik jelang Pilpres 2019. Hinca menyebut kontestasi Pilpres sebagai permainan sepakbola.

Pilpres Layaknya Permainan Sepakbola

"Terus tik tok tik tok [menggiring-giring bola] sampai depan gawang. Ini sudah babak kedua. Kalau hanya mengumumkan capres-nya saja belum lengkap. Kami akan selesaikan dulu Pilkada sampai Juni, Juli bercakap-cakap ke situ [Pilpres], kemudian Agustus akan kami ambil langkah," kata Hinca pada kesempatan yang sama.

Menariknya, Hinca mengatakan bahwa capres yang nantinya diusung atau berkoalisi dengan Demokrat dipastikan akan mendapatkan tiga keuntungan sekaligus. Tiga keuntungan itu bisa dijadikan modal penting di Pilpres 2019.

Hinca pun membeberkan tiga keuntungan yang dimaksud. Keuntungan pertama, capres yang akan diusung tersebut bakal mendapatkan total 10 persen suara pendukung Demokrat.

Baca Juga: Sindir Kicauan SBY, Jaksa Agung: Cuma Tarzan yang Pakai Hukum Rimba

Lalu, keuntungan kedua adalah sang capres itu nantinya bisa mendapatkan pengalaman SBY yang pernah menjadi Presiden RI selama dua periode. Sementara keungungan ketiga adalah bisa mendapatkan dukungan politik dari 100 juta pemilih milenial yang merupakan basis pendukung Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

"Jadi koalisi bukan soal siapa cawapresnya, tapi kami akan berkoalisi dengan program yang kami terima," ucapnya.

Misi Dongkrak Elektabilitas AHY

Di sisi lain, Hinca mengatakan bahwa Demokrat akan berusaha untuk meningkatkan elektabilitas AHY sebagai cawapres. Demokrat ingin elektabilitas AHY bisa mencapai angka 20 persen hingga Agustus 2018, karena saat ini berdasarkan hasil survei Cyrus Network yang dirilis 19 April 2018, AHY memiliki elektabilitas mencapai 15 persen.

Hinca memperkirakan peningkatan elektabilitas AHY akan mudah diraih. Demokrat sendiri saat ini sudah melakukan langkah-langkah strategis untuk mencapai target itu, salah satunya lewat safari politik ke sejumlah wilayah. 

"Kami yakin bisa kembali ke 2004 dan 2009. Mana ada partai yang turun ke bawah naik bus, karena kami tidak punya uang untuk beli pesawat," ucapnya.

Seperti diketahui, berdasarkan hasil survei Cyrus Network, nama Ketua Komando Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) muncul sebagai sosok calon wakil presiden ideal bagi Jokowi. Keterpilihan AHY sebagai cawapres Jokowi mencapai 15 persen.

Baca Juga: Survei Cyrus Network: Jokowi Masih Teratas, AHY Cawapres Ideal

"Jika disimulasikan sebagai calon wakil presiden untuk Joko Widodo dengan kompetitor belasan nama kandidat, AHY muncul sebagai peraih dukungan tertinggi dengan perolehan 15 persen," kata Managing Director Cyrus Network Eko Dafid Afianto di Menteng, Jakarta, Jumat 20 April.

Lalu, di bawah AHY sendiri ada nama Gatot Nurmantyo 10 persen, Prabowo Subianto 9,1 persen, Anies Baswedan 9,1 persen dan Hary Tanoesodibjo 8,8 persen. Kemudian dilanjutkan dengan Susi Pudjiastuti 4,9 persen, Mahfud MD 4,8 persen,Sri Mulyani 4,0 persen, dan Soekarwo 2,9 persen.

Tak berhenti sampai di situ, selanjutnya ada nama Puan Maharani yang mengantongi 2,8 persen, Muhaimin Iskandar 2,6 persen. Ada pula nama Gubernur NTB Tuan Guru Bajang dan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan yang meraup angka 2,0 persen.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan pengusaha Chairul Tanjung mendapatkan 1,1 persen suara sebagai cawapres Jokowi. Lalu, di bawah 1 persen ada nama-nama seperti Airlangga Hartarto, Kepala BIN Budi Gunawan, Kepala Staf Kepresidenan Jenderal (Purn) Moeldoko, Ketum PAN Zulkifli Hasan dan mantan Ketua DKPP Jimly Asshiddiqie.

Related Article