Darurat Stunting!

Kata “stunting” secara mengejutkan  mulai ramai dicari oleh warganet  di mesin pencari Google. Hal ini tidak lepas dari rasa penasaran warganet dengan istilah yang sedang sering dibicarakan oleh Joko Widodo dan Prabowo Subianto dimimbar-mimbar politik Indonesia.

Kedua pasangan Capres dan Cawapres Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto- Sandiaga Uno menganggap stunting sebagai ancaman sumber daya manusia di masa mendatang. Stunting ini akan berdampak langsung terhadap kualitas dan daya saing  bangsa. Mereka semua berkomitmen untuk menanggulangi ancaman tersebut. Dan, seharusnya kita sebagai anak muda juga perlu turun tangan.

Kekhawatiran mereka cukup beralasan, mengingat Indonesia sebentar lagi akan menghadapi bonus demografi, revolusi industri 4.0, hingga Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Gejala stunting tentu menjadi persoalan yang sangat serius, karena Indonesia perlu SDM yang berkualitas, tidak  cukup hanya besar secara kuantitas untuk bersaing  di pasar bebas.

Berdasarkan berbagai kajian dan pengalaman negara lain, stunting terbukti dapat menggerus  pertumbuhan ekonomi negara, memperluas kesenjangan sosial dan menciptakan kemiskinan antar generasi. Bila tidak ditanggulangi bersama dan segera, masa depan generasi milenial, gen Z dan generasi Alpha jadi taruhannya.

Stunting sendiri merupakan masalah kekurangan gizi kronis dan kesalahan pola asuh yang berakibat buruk pada pertumbuhan otak dan fisik anak sekaligus pengidapnya renta terhadap berbagai penyakit seperti jantung, stroke, diabetes dan penyakit degeneratif lainnya. Gejala ini tidak hanya terjadi dikalangan keluarga miskin, potensi ini dapat terjadi bahkan dikalangan keluarga kaya.

Menurut ahli gizi Indonesia, Fasli Jalal, keluarga modern saat ini lebih banyak menyerahkan pengasuhan anak kepada para pekerja rumah tangga, karena sibuk bekerja perhatian terhadap asupan gizi anak menjadi tidak terperhatikan.

Anak yang kena gejala stunting memiliki ciri fisik  kerdil atau lebih kecil dari anak seusianya. Diketahui, saat ini Indonesia menjadi negara dengan prevalensi stunting terbesar kelima di dunia.

Stunting, Penting Enggak Penting?

Dapat dikatakan bahwa stunting yang melanda Indonesia merupakan dampak dari peran pemerintah yang sudah memulai tapi belum optimal merangkul semua pihak untuk peduli terhadap permasalahan ini. Khususnya pada generasi milenial yang akan membangun rumah tangga dan generasi Z yang akan segera memasuki dunia kerja. Sebenarnya, tantangan nyata stunting ada dihadapan mereka, namun menariknya masih banyak dari kalangan muda yang belum tahu permasalahannya.

Ketidaktahuan atau ketidakpedulian generasi muda terhadap isu stunting, dikarenakan permasalahan ini tidak begitu viral atau populer diperbicangan warganet. Baru sejak menjadi perdebatan politik, barulah generasi muda ini mulai penasaran dan mencari tahu. Setidaknya untuk urusan ini kita harus berterimakasih kepada Jokowi maupun Prabowo.

Ditengah generasi yang hidup dengan berita sensasional dan penuh drama, stunting belum dianggap genting karena tidak berdampak  pada “kematian” secara langsung, akhirnya banyak komunitas atau keluarga muda tidak memahami ini sebagai masalah penting. Maka dari itu, diperlukan upaya strategis untuk memproduksi wacana stunting yang dapat berensonasi dengan budaya dan gaya  komunikasi anak muda.

Memang untuk urusan stunting, generasi muda sebaiknya tidak hanya dilihat sebagai penerima manfaat yang pasif. Lebih baik libatkan generasi muda untuk memberikan rekomendasi bagaimana cara yang asik dan efektif untuk mensosialisasikan pencegahan stunting dikalangan mereka sendiri.

Akan menjadi sebuah kemajuan bagi pemerintah maupun stakeholder terkait jika dapat mendorong partisipasi komunitas anak muda dalam menyusun atau melaksanakan program pencegahan stunting sejak dini.

Pemerintah hanya perlu membentuk sistem dan menfasilitasi platform dukungan dari komunitas anak muda bahkan para influencer untuk berkontribusi dalam upaya pencegahan stunting.

Karena yang paling penting dalam pengentasan stunting bukan hanya pemenuhan nutrisi dan  gizi, tetapi melakukan investasi mindset sekaligus mental set hidup sehat pada generasi muda sebagai modal utama membangun rumah tangga sekaligus bangsa di masa depan. Dan itu hanya dapat dilakukan dengan menciptakan komunikasi, edukasi dan informasi yang tidak membosankan!

Wildanshah adalah Komisaris Warga muda, sebuah lembaga yang bergerak di kajian bonus demografi, youth policy, dan youth development. Ia dapat ditemui di Instagram @wildan.shah.

Related Article