Cerita Bung Karno Buka Puasa Pasca Proklamasi Kemerdekaan RI

Jalan panjang dan terjal harus dilalui Soekarno sebelum memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 silam. Dari desakan para pemuda untuk segera memerdekakan diri, hingga ‘penculikan’ pada Peristiwa Rengasdengklok, semua dilalui Bung Karno. Termasuk mematangkan rencana persiapan kemerdekaan yang ternyata bertepatan dengan bulan Ramadan.

Bulan Ramadan memang menyimpan cerita historis tersendiri bagi perjalanan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan. Tepat pada hari proklamasi kemerdekaan RI, masyarakat di tanah air tengah menjalankan ibadah puasa. Pada momen itu pula, Indonesia sedang menanti kemerdekaannya.

Proklamasi Kemerdekaan RI di Bulan Ramadan

Kala itu, memang para pemuda ingin Indonesia agar bisa meraih kemerdekaan secepatnya atas kekuatan sendiri, bukan bantuan Jepang. Sayangnya, desakan dari para pemuda justru ditolak oleh Soekarno yang melihat adanya resiko jika memproklamasikan kemerdekaan tanpa persiapan matang. 

Para pemuda tersebut mendesak Soekarno dan Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia sesegera mungkin, apalagi melihat situasi dan kondisi yang juga sempit. Atas desakan tesebut, Soekarno dan Hatta tetap tidak berubah pendirian.

Lalu, seperti diceritakan dalam buku biografi "Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat", Soekarno memang telah merencanakan seluruh pekerjaan ini, proklamasi kemerdekaan Indonesia, untuk dijalankan tanggal 17 Agustus 1945. Pemilihan tanggal 17 Agustus oleh Soekarno pun harus dilalui dengan perdebatan.

"Tujuh belas adalah angka keramat. Pertama-tama, kita sedang berada dalam bulan suci Ramadhan, waktu kita berpuasa sampai Lebaran. Hari Jumat ini Jumat Legi. Jumat yang manis, Jumat suci dan hari Jumat tanggal 17. Alquran diturunkan tanggal 17. Orang Islam melakukan sembahyang 17 rakaat dalam sehari. Mengapa Nabi Muhammad SAW memerintahkan 17 rakaat, bukan 10 atau 20? Karena kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia,” kata Soekarno.

Lalu, lantaran tidak puas, para pemuda pun menculik Soekarno dari rumahnya di Pegangsaan Timur, Jakarta Pusat, dan dibawa ke Rengasdengklok, Karawang, Kamis, 16 Agustus 1945 dini hari. Para pemuda tersebut diketahui adalah Sukarni, Wikana dan Chaerul Shaleh yang berasal dari perkumpulan Menteng 31. Mereka  mendesak agar kemerdekaan Indonesia segera diproklamasikan pasca kekalahan Jepang dalam Perang Pasifik.

Setelah melalui perundingan panjang dan negosiasi, Soekarno dan Hatta akhirnya dibebaskan. Pada Jumat, 17 Agustus 1945 dini hari, Soekarno dan Hatta menggelar rapat di rumah Laksamana Muda Tadashi Maeda. 

Soekarno Tak Puasa saat Bacakan Teks Proklamasi

Pulang dari Rengasdengklok, Soekarno pun bergadang di rumah Laksamana Maeda. Setelah urusan teks proklamasi beres, Soekarno dan Hatta menyantap makan sahur dengan nasi goreng, roti telor, dan ikan sarden, seperti ditulis Suhartono Pranoto dalam Kaigun, Angkatan Laut Jepang, Penentu Krisis Proklamasi (2007). 

Namun keesokan harinya, ternyata Soekarno sedang dalam keadaan tidak berpuasa meski sebelumnya sempat melakukan santap sahur bersama para tokoh pejuang Kemerdekaan di kediaman Laksamana Maeda. Dua jam sebelum naskah Proklamasi Kemerdekaan RI dibacakan atau pada pukul 08.00, Soekarno masih terbaring lunglai di kamarnya.

Soekarno yang masih terlelap kemudian dibangunkan oleh Soeharto, dokter pribadi Soekarno. Soekarno mengeluh dan berkata “pating greges” yang artinya “sakit semua” kepada Soeharto. Soekarno sebenarnya sudah disarankan oleh dokter untuk memperbanyak istirahat, apalagi diketahui ia terserang gejala malaria tertiana. 

Namun, seperti dikutip dalam “Sejarah Nasional Indonesia: Zaman Jepang dan Zaman Republik (2011)”, Marwati Djoened mengutip ucapan Soekarno yang menyebut bahwa pembacaan proklamasi kemerdekaan sebagai peristiwa 'maha penting'. Sebab itulah, ia tetap memilih untuk hadir dan berdiri di hadapan rakyat dan tidak memedulikan kondisi tubuhnya yang masih terbilang lemah.

"Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil nasib bangsa dan Tanah Air kita di dalam tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri, akan dapat berdiri dengan kuatnya," kata Presiden Sukarno, seperti yang ditulis Marwati.

Dokter akhirnya menuruti Soekarno. Pada Jumat, 17 Agustus 1945 pagi itu, ia disuntik cairan chinineurethanintramusculair dan meminum pil brom chinine, dan sempat kembali tertidur. Baru pada pukul 09.00 WIB, Soekarno terbangun dan dengan berpakaian rapi putih-putih, ia menyambut kedatangan Hatta.

Tepat pukul 10.00 WIB, meski dalam kondisi tak enak badan, Soekarno dengan gagah dan lantang membacakan teks proklamasi di teras kediaman rumahnya, Pegangsaan Timur Nomor 56 Jakarta. Memang tanggal 17 Agustus 1945 tersebut bertepatan dengan 9 Ramadan tahun 1364 Hijriyah.

Upacara Kemerdekaan berlangsung dengan sangat sederhana, di mana tidak ada protokol untuk kegiatan tersebut, selain tidak ada pula konduktor serta paduan musik. Tiang bendera yang digunakan pun dibuat dari sebatang bambu yang ditanam hanya beberapa menit menjelang upacara. Keduanya memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dari serambi rumah. "Demikianlah, Saudara-saudara! Kita sekalian telah merdeka!" kata Soekarno di hadapan massa.

Perintah Soekarno Pasca Proklamasi Kemerdekaan RI

Sehari setelah kemerdekaan, Soekarno pun dilantik menjadi presiden dan Mohammad Hatta sebagai wakilnya. Bertepatan pada hari ke-10 Ramadan itu, Soekarno juga mengerjakan hal penting lain, misalnya mengesahkan Undang-Undang Dasar yang kemudian dikenal sebagai UUD 1945 bersama Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Menariknya, alih-alih mengeluarkan perintah penting seperti pembentukan kabinet atau seruan mobilisasi untuk perang, perintah pertama Soekarno sebagai Presiden RI justru sangat menarik karena tidak terkait masalah politik.

Ceritanya, setelah menjalani pengangkatan sebagai Presiden RI tersebut, Soekarno pulang dengan berjalan kaki. Di tengah jalan menuju rumah, ia berpapasan dengan seorang tukang sate. Tiba-tiba, ia merasa perutnya keroncongan. Lalu, tanpa banyak berpikir ia lantas menghentikan tukang sate yang bertelanjang dada dan tidak memakai alas kaki itu. “Sate ayam lima puluh tusuk!” kata Soekarno.

Begitu sate yang dibakar sudah matang, Soekarno dengan lahap langsung menyantap menu berbuka puasanya sambil jongkok di dekat selokan. Baginya, inilah pesta pengangkatannya sebagai kepala negara di bulan yang suci. Itulah, perintah pertama pada rakyatnya sekaligus pesta pertama atas pengangkatannya sebagai pemimpin Indonesia ketika kemerdekaan baru berusia satu hari.

Related Article