Mungkin Cara Pandang Kita Keliru Dalam Melihat Politisi dan Anggota DPR

Mungkin selama ini kita salah. Mungkin selama ini kita keliru setiap kali kita mendengar atau melihat seorang anggota parlemen mengeluarkan pernyataan yang kontroversial dan berpikir, “Ini orang bego banget, sih”. Mungkin selama ini kita memandang politisi dengan premis yang salah. Selama ini mereka bukan bodoh-bodoh seperti yang sering kita kira, melainkan cerdik cendekia luar biasa. Sehingga setiap kali kita dengan prematur menuding bahwa mereka dungu, sebenarnya kita kehilangan kesempatan untuk memperkirakan apa yang sedang mereka rencanakan dan inginkan dengan manuver politiknya tersebut.

DPR adalah lembaga negara dengan citra paling buruk. Ini bukan rahasia lagi. Sebut nama DPR, besar kemungkinan orang yang Anda ajak ngomong akan menyambut dengan skeptis, minimal apatis. Memang menyedihkan melihat bahwa lembaga yang seyogianya menjadi simbol supremasi rakyat justru tidak dipercaya oleh sebagian besar dari yang mereka wakili. Ini adalah akibat dari berbagai sirkus politik yang digelar di media, di mana sering kali menjadi satu-satunya  tempat bagi masyarakat untuk melihat apa yang dikerjakan oleh para anggota dewan legislatif. Saya tidak percaya bahwa semua anggota DPR tidak bekerja, namun yang memang masuk dalam bingkai media memang cenderung sampel yang ekstrim. Tidak heran jika mendengar soal DPR, kata-kata yang paling pertama diasosiasikan dengan lembaga tersebut adalah “tidur”, “bolos”, “pemalas”, “gaji buta”, dan lain sebagainya.

Di sisi lain terdapat sebuah fenomena yang menarik dalam masyarakat. Saya baru saja menyelesaikan rangkaian tur #AsumsiLive di hampir 10 kota di Indonesia, di mana kami berdialog dengan para pemuda setempat untuk mendengar aspirasi dan uneg-uneg mereka, baik dalam konteks politik nasional maupun lokal.

Ketika ditanya apakah mereka merasa bahwa DPR adalah lembaga yang anggotanya bekerja dengan baik, semua senada menjawab tidak. Namun ketika ditanya lebih lanjut, siapa anggota parlemen dari daerah pemilihan (Dapil) masing-masing, hampir semua mengaku tidak tahu. Bahkan banyak yang tidak ingat siapa yang mereka coblos pada Pemilu 2014, apalagi yang menang mewakili Dapil mereka.

Kalau Anda bahkan tidak tahu nama anggota DPR dari Dapil Anda, bagaimana Anda bisa mengatakan bahwa Ia tidak bekerja? Mungkin saja Ia memang tidak bekerja, namun bagaimana jika ternyata Ia bekerja? Anda tidak akan tahu karena namanya saja Anda tak tahu, apalagi hasil kerjanya.

Mengatakan bahwa anggota DPR itu pemalas dan tidak bekerja sebenarnya adalah sebuah simplifikasi masalah yang justru merugikan kita sebagai masyarakat. Setiap kali kita dengan cepat melakukan generalisasi terhadap lembaga negara apapun—termasuk DPR—tanpa keterangan detail, sesungguhnya kita justru memberikan ruang untuk tindakan-tindakan yang akan luput dari audit kita sebagai masyarakat yang mereka wakili. Setiap kali kita menuding dengan cepat, “Ah, si X itu enggak ada otaknya, ngapain ngobrol sama dia?”, sejatinya kita justru kehilangan kesempatan untuk mencermati dan memprediksi apa sebenarnya yang sudah Ia lakukan dan apa yang akan Ia lakukan.

Ada 560 anggota DPR di Senayan. Berapa banyak yang namanya sering berseliweran di media massa setiap hari? 30? 40? Paling banyak 50. Mereka ini yang sering akrab dengan kamera TV ataupun seringkali namanya dikutip di laman berita. Berarti ada sekitar 500 anggota DPR lain yang jarang muncul di media. Mereka mungkin saja bekerja. Mungkin saja tidak. Entah. Karena Anda tidak tahu nama mereka.

Lagipula, jika premis umum selama ini adalah anggota DPR adalah orang-orang yang kurang cerdas dan hanya banyak duit saja, hampir semua anggota parlemen yang saya temui dan ajak ngobrol semuanya memiliki tingkat intelektualitas yang hebat.

Kemarin saya baru saja merealisasikan keinginan lama untuk bertemu dengan Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon. Bagi mereka yang berseberangan politik dengan bapak ini, mungkin Fadli adalah anggota DPR yang paling sering bikin emosi dengan berbagai pernyataannya. Macam-macamlah komentar netizen mengenai Fadli yang bisa di-search sendiri di berbagai media sosial. Namun saya penasaran dengan Fadli dan ingin tahu pandangan dan cara berpikirnya secara langsung. Banyak hal yang tentu saja saya tidak sepakat dengan Pak Fadli ini, namun bukan berarti saya tidak tertarik untuk ngobrol langsung dengan yang bersangkutan. Kesimpulan usai ngobrol? Pak Fadli adalah orang yang cemerlang dan tinggi kemampuan intelektualnya. Ia tidak pandir seperti yang dikira banyak orang.

Demikian halnya dengan wakil ketua DPR lainnya, Fahri Hamzah, yang sudah beberapa kali saya temui. Ia juga sama cemerlangnya, berlawanan dengan kesan yang timbul dalam masyarakat usai mendengar berbagai pernyataannya. Bahkan dalam event #AsumsiLive yang digelar bersama Pak Fahri beberapa bulan lalu, saya terkaget mendengar beberapa pandangannya yang bahkan bisa dikategorikan libertarian. Saya tak akan tahu ini jika tak pernah ngobrol dengannya.

Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah saat berbicara di hadapan anak muda dalam acara Asumsi Live. Foto: Dok Asumsi

Hampir semua anggota DPR yang saya temui sama sekali tidak merefleksikan opini umum bahwa DPR isinya orang-orang yang bodoh dan pemalas. Anggota Komisi II DPR RI Budiman Sudjatmiko mungkin adalah salah satu politisi paling progresif dan cerdas yang pernah saya temui. Dengannya saya terlibat berbagai percakapan diskursus pemikiran politik yang memicu kepala untuk lebih kritis dan inovatif.

Saya juga sempat bertemu dengan Satya Yudha dari Komisi VII dengan berbicara banyak masalah energi dan minyak. Penjelasannya begitu komprehensif mengenai masalah energi nasional yang memang pelik. Sejujurnya, saya tak begitu familiar dengan namanya sebelum bertemu. Selesai mengobrol, saya berpikir, saya ingin ngobrol lagi dengan Bapak ini di masa mendatang.

Beberapa nama di atas hanyalah secuil ilustrasi soal apa yang akan Anda temui jika tidak melulu melakukan simplifikasi. Tidak, saya tidak sedang mengatakan bahwa anggota DPR sudah bekerja dengan baik dan tidak boleh dikritik. Tidak, saya tidak sedang mengatakan demikian. Justru DPR adalah institusi yang harus benar-benar diawasi dan diperhatikan dengan ketat. Kita tidak akan bisa melakukan pengawasan tersebut jika belum apa-apa kita sudah terjebak dalam klise dan langsung mengambil kesimpulan bahwa anggota DPR pemalas dan tidak bekerja. Mungkin saja memang demikian, tapi bagaimana kita bisa tahu dengan yakin jika kita tak tahu siapa saja mereka?

Jadi, usai membaca tulisan ini, pertanyaan saya untuk anda: Siapa anggota DPR yang mewakili Anda di parlemen? Jika Anda tidak tahu, silakan dicari tahu.

Jika Anda sudah tahu namanya, yang harus Anda lakukan berikutnya, Anda cari tahu apa yang sudah mereka kerjakan. Dari situ, silakan Anda nilai apakah memang sudah bekerja dengan baik atau tidak. Jika sudah baik, bagaimana agar bisa lebih baik dan jika belum baik, mari tuntut agar mereka bekerja dengan baik sesuai dengan bidangnya.

Saya percaya, demokrasi akan memberikan hasil yang terbaik ketika masyarakatnya terinformasi dengan baik juga, dan masyarakat itu adalah Anda dan saya.

Pangeran Siahaan adalah pendiri dan editor-in-chief Asumsi.

Related Article