Bukan Prabowo, Ternyata Inilah ‘Lawan’ Terberat Jokowi di Pilpres 2019

Sosok Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon, tengah jadi sorotan nih guys karena mengkritik Presiden RI, Joko Widodo, yang disebutnya tak lagi layak melanjutkan masa periode kepemimpinannya di 2019 nanti. Nah, pernyataan Fadli pun langsung direspon cepat oleh politisi PDI Perjuangan. Widih...

Ya harus direspon lah ya guys omongannya Bang Fadli, biar berimbang. Ada yang mengkritik dan harus ada juga yang meredam kritik dengan pembuktian atau fakta konkret. Oke kembali lagi ke pokok permasalahannya ya guys.

Jadi sebelumnya, Fadli Zon melontarkan kritik pedas kepada Jokowi. Kata politisi kelahiran Jakarta pada 1 Juni 1971 silam tersebut, Jokowi cukup memimpin Indonesia satu periode saja. Bagi Fadli, Prabowo Subianto sudah lebih siap untuk memimpin Indonesia dan dalam waktu dekat partainya akan mendeklarasikan pencapresan Prabowo sebagai capres pada Pemilu 2019.

"Pak Prabowo makin lama makin siap untuk menjadi calon presiden. Harapan masyarakat demikian keinginannya. (Jokowi) cukup satu periodelah," kata Fadli Zon di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, seperti dikutip dari Kompas.com, Selasa (30/01).

Menurut pandangan Fadli Zon, kesejahteraan masyarajat justru menurun dan kehidupan semakin sulit di era kepresidenan Jokowi saat ini. Fadli menganggap pemerintah gagal dalam menjalankan program di bidang pangan, salah satunya swasembada pangan, termasuk juga kesejahteraan nelayan yang dianggap masih terbengkalai.

"Cukup satu periodelah, sudah capek. Makin susah, jadi apa yang dilakukan di satu periode ini saja banyak menimbulkan kesulitan di berbagai sektor," tegas Fadli.

Nah, pernyataan dan kritik dari Fadli Zon itulah yang membuat gerah PDI Perjuangan. Ketua DPP PDI-P, Andreas Hugo Pareira menilai pernyataan Fadli soal Presiden Jokowi yang cukup memimpin satu periode saja, tak berdasar. Andreas menyebut kinerja Jokowi secara keseluruhan sudah bagus meski tetap ada yang harus diperbaiki tentunya.

Andreas juga menganggap pernyataan pedas dari Fadli Zon tersebut cenderung subjektif dan atas penilaian pribadi saja. Kritik yang ditujukan kepada Jokowi itu dianggap tak mempertimbangkan hasil kerja yang selama ini sudah dicapai terutama di sektor pembangunan infrastruktur dan pengendalian harga kebutuhan pokok.

"Saya melihat pendapat Pak Fadli Zon tidak mempunyai dasar argumentasi obyektif. Subyektivitas Pak Fadli sebagai bagian dari partai di luar pemerintahan lebih dominan ketimbang secara obyektif menilai kinerja pemerintahan Jokowi tiga tahun terakhir ini," kata Andreas Hugo Pareira, Rabu (31/01).

Andreas pun mengungkapkan bahwa ada kecenderungan bahwa lawan politik akan terus menjatuhkan citra Jokowi. Hal itulah yang membuat Andreas menyebut lawan terberat Jokowi di Pilpres 2019 nanti lebih kepada opini negatif untuk menurunkan citra mantan Wali Kota Solo tersebut.

"Sehingga 'lawan' terberat yang kemungkinan dihadapi Jokowi ke depan opini negatif yang cenderung imajinatif serta kampanye hitam untuk men-downgrade tingkat kesukaan dan tingkat keterpilihannya pada Pilpres 2019 yang akan datang," demikian Andreas.

Related Article