Budiman Sudjatmiko Ingin Mengangkut "Universal Basic Assets" ke Desa-desa

Perbincangan mengenai Universal Basic Assets (UBA) atau aset dasar universal menjadi sebuah narasi baru dalam kalangan pembuat kebijakan. Konsep UBA ini berangkat dari Universal Basic Income (UBI) yang sudah lebih lama dibahas. Jika UBI berargumen bahwa setiap orang berhak memperoleh pendapatan, UBA berargumen bahwa tiap-tiap orang berhak mempunyai aset.

Dalam episode terbaru "Asumsi Bersuara with Rayestu", Budiman Sudjatmiko berbicara tentang mimpinya membawa konsep UBA ke desa-desa. Selama ini, Budiman dikenal sebagai aktivis yang memperjuangkan kepentingan desa di DPR. Menjabat selama dua periode, ia berhasil membuat Dana Desa menjadi kebijakan yang berkelanjutan. Kini, meski tak terpilih kembali, Budiman berharap tetap dapat memperjuangan kepentingan-kepentingan warga desa. Harapan ini dituangkan dalam proyek Innovator 4.0 yang sedang ia garap bersama ratusan orang lainnya.

“Inovator ini bukan cuma bicara soal inovasi teknologi tetapi juga inovasi sosial. Kami mengantisipasi bahwa inovasi teknologi ini akan menciptakan kesenjangan sosial, karena data terserap semua, disimpan di Silicon Valley. Tidak setiap orang punya uang, tapi pasti setiap orang punya data. Kalau setiap orang punya data, meskipun tidak semua orang punya uang, oke, data kita simpan aja di desa,” ujar Budiman.

Ia menilai bahwa selama ini hanya ada dua dorongan dalam inovasi, swasta dan publik. Melalui proyek "Silicon Village", ia berharap ada pendorong baru inovasi, yaitu komunitas masyarakat desa.

“Bikin perusahaan-perusahaan teknologi di desa, siapa bosnya? Orang desa. Big data company di desa, kenapa tidak? Ini mimpi saya,” ucapnya. Ia pun melanjutkan, “Soal uang, ada. Orang pintar gampang. Buktinya, saya gampang ngumpulin ratusan innovator.”

Pertama, ia ingin ada perusahaan-perusahaan berbasis komunitas di desa. Aset-asetnya dimiliki secara kolektif dan didistribusi secara merata sehingga setiap warga berhak atas produk-produk yang lahir dari desanya. Tanpa bekerja, warga desa tetap dapat menikmati hasilnya. Budiman bercerita bahwa konsep serupa UBA sudah dipraktikkan di salah satu desa di Klaten.

“Di desa Ponggok, Klaten, setiap orang tua dapat Rp300 ribu per bulan, tiap rumah dikasih beasiswa satu rumah satu sarjana. Karena Bumdes-nya berkembang dengan baik, keuntungannya mencapai Rp14 miliar per tahun,” tutur Budiman.

Dari contoh ini saja, terlihat bahwa UBA mungkin direalisasikan. Budiman menuturkan bahwa saat ini ada lebih dari 73 ribu desa di Indonesia. Jika setiap desa mengimplementasikannya, akan ada kelas menengah baru yang lahir dari desa.

Nantinya, UBA juga dapat mengatasi permasalahan yang sering timbul dari mekanisasi. Mekanisasi membuat banyak orang kehilangan pekerjaan. Sedangkan dengan UBA, meskipun orang tergantikan dengan robot, setiap orang di desa tetap tidak kehilangan sumber penghasilan, karena mereka masih memiliki aset akan perusahaan tersebut.

“Kalau Bumdes memutuskan untuk mekanisasi, ya sudah nganggur saja, tapi toh rakyat desa akan dapat uang. Biarkan robot jadi buruhnya orang desa,” ujar Budiman.

Related Article