Bioskop Indonesia Batal Buka, Bagaimana Nasib Pekerjanya?

Bioskop sempat dikabarkan akan kembali beroperasi per 29 Juli mendatang, tetapi kabar yang disampaikan oleh Ketua Gabungan Pengelola Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) pada 7 Juli lalu itu tidak berlangsung lama.

Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi DKI Jakarta mengeluarkan regulasi (16/7) yang isinya membatalkan pembukaan bioskop beserta tempat-tempat hiburan dalam ruangan lainnya sampai waktu yang belum ditentukan. Pihak Disparekraf DKI Jakarta pun mengatakan keputusan penundaan ini didasarkan pada tren penularan COVID-19 yang masih terus naik hingga saat ini.

Di satu sisi, dengan situasi pandemi yang belum kondusif, kebijakan ini patut disambut baik sebagai upaya serius pemerintah menekan angka kenaikan COVID-19. Namun, di sisi lain, keputusan ini juga berimbas pada pekerja-pekerja bioskop yang terus tak mendapatkan kepastian tentang pekerjaan mereka.

Pemilik akun Twitter @PayLaterr sempat mengungkapkan kekecewaannya atas kabar batal bukanya bioskop. Ia menceritakan antusiasme para pekerja bioskop mempersiapkan pembukaan, mulai dari makanan dan minuman yang sudah datang, pekerja yang sudah melakukan latihan dan disertifikasi, hingga hand sanitizer dan disinfektan yang sudah terlanjur datang.

“Sudah senang bioskop buka. Senang karena nanti gue digaji lagi. Taunya batal,” katanya yang juga mengungkapkan kekhawatirannya kena PHK. “Hand sanitizer sudah bergalon-galon datang, disinfektan juga. Masker, face shield juga sudah banyak stoknya. Percuma, anjir.”

Ketika dikonfirmasi (17/7), pemillik akun Twitter yang bernama asli Gofar itu mengoreksi bahwa pihak bioskop telah mempersiapkan “berjeriken-jerikan” hand sanitizer dan disinfektan, bukan “bergalon-galon”. Tapi, yang pasti, “pihak bioskop sudah menyiapkan itu banyak banget.”

Gofar mengungkapkan bahwa pihak bioskop telah mulai melakukan persiapan sejak April lalu. Sebelumnya, Disparekraf DKI Jakarta juga sempat mengizinkan bioskop kembali beroperasi pada 6 Juli.

Gofar dan timnya melakukan general cleaning setiap harinya, seperti memastikan bangku bioskop tidak berjamur, memastikan semua alat dan perlengkepan tidak berdebu, dan membersihkan area lobi, studio, dan toilet. Mereka juga dibekali pengetahuan tentang COVID-19 dan pelatihan serta protokol keamanan pencegahan penularan virus oleh pihak bioskop.

“Yang pasti sangat kecewa. Mungkin, bagi sebagian orang, mereka senang bioskop batal buka tanggal 29 nanti. Saya tidak menyalahkan mereka, tapi bagi saya yang bekerja di belakang layar, saya jadi khawatir karena sampai saat ini kami ingin sekali bioskop segara dibuka,” terang Gofar.

Dengan operasi bioskop yang berhenti sepenuhnya selama pandemi, pendapatan mereka pun turun secara drastis. Salah satu pengelola bioskop, PT Graha Layar Prima Tbk atau CGV, menunjukkan penurunan pendapatan dari pemutaran, makanan dan minuman, acara dan iklan, hingga manajemen dan lisensi sebesar Rp37,7 miliar jika dibandingkan dengan kuartal terakhir tahun lalu.

Gofar sendiri berharap kasus COVID-19 di Indonesia bisa segera turun dan pemerintah bisa lebih sigap dalam menangani pandemi. “Ada kami, ada keluarga kami yang di balik layar masih butuh kerja. Dan kami sangat rindu kerja.”

Menanggapi keputusan Disparekraf DKI Jakarta, GPBSI menyatakan pihaknya memahami dan mendukung kebijakan pemerintah. Mereka juga mengambil keputusan untuk menunda kembali pembukaan bioskop di seluruh Indonesia. “Keselamatan dan kesehatan pelanggan serta petugas bioskop selalu menjadi perhatian utama kami. GPBSI akan menggunakan kesempatan ini untuk terus melatih dan mempersiapkan penerapan protokol kesehatan dan kenormalan baru di seluruh lingkungan bioskop,” ujar Ketua GPBSI Djonny Syafruddin dalam rilis persnya.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh pihak XXI. “Kami satu suara dengan keputusan Ketua GPBSI. Kesehatan penonton dan karyawan selalu menjadi prioritas kami,” tutur Head of Corporate Communications and Brand Management Cinema XXI Dewinta Hutagaol.

Related Article