Bioskop di Bekasi Akan Dibuka Kembali Pekan Depan, Memangnya Aman?

Masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dijadwalkan berakhir pada 4 Juni mendatang. Walikota Bekasi Rahmat Effendi pun mengatakan tempat-tempat hiburan sudah dapat beroperasi kembali, termasuk bioskop. “Bioskop boleh. Tapi kalau pijat, spa nggak boleh dulu. Karena bagaimana jaga jaraknya, ya, kan,” ungkap Rahmat dikutip oleh merdeka.com.

Bekasi kini telah termasuk dalam zona kuning—bersandingan dengan daerah-daerah lain di Jawa Barat seperti Kabupaten Bandung, Kabupaten Bogor, Cimahi, Depok, dan lainnya. Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan wilayah ini kini telah naik kelas dari yang sebelumnya termasuk dalam zona merah. Penentuan zona ini pun telah diukur berdasarkan laju ODP, laju PDP, laju kasus positif, laju kematian, laju kesembuhan, laju reproduksi virus, laju transisi, laju pergerakan lalu lintas dan manusia, serta risiko geografis.

Selama tiga hari terakhir, angka kenaikan kasus di Jawa Barat pun relatif rendah, yaitu bertambah 19 kasus pada 30 Mei, 30 kasus pada 31 Mei, dan 34 kasus pada 1 Juni. Walaupun begitu, wilayah Bekasi yang tergolong zona kuning direkomendasikan untuk tetap melanjutkan PSBB. Lantas, apakah membuka bioskop pada 4 Juni mendatang adalah keputusan bijak? Bagaimana upaya pengelola bioskop untuk mencegah penularan COVID-19 di dalam bioskop?

Ruangan tertutup atau indoor yang minim sirkulasi udara punya risiko lebih besar untuk menyebarkan virus. Studi yang dipublikasikan oleh City and Environment Interaction berjudul “Could fighting airborne transmission be the next line of defence against COVID-19 spread?” menjelaskan bahwa virus SARS-CoV-2 yang berukuran kurang dari 100 nm larut dalam droplet yang juga mengandung air, garam, dan materi-materi organik lain. Ketika air dalam droplet menguap, zat-zat mikroskopik termasuk virus akan menjadi sangat ringan hingga dapat bertahan di udara. Tanpa sirkulasi, konsentrasi virus di udara pun dapat terus meningkat hingga memperparah risiko penularan.

Bioskop yang bersifat indoor dan sirkulasi udara yang terbatas pun jadi perhatian. Pihak bioskop bisa saja menerapkan protokol kesehatan ketat seperti menjaga jarak, disinfektasi rutin, dan kewajiban menggunakan masker. Namun, bagaimana dengan sirkulasi udara di dalam bioskop itu sendiri?

Seorang virolog asal Jepang, Hitoshi Oshitani, berkata bahwa kebanyakan klaster penularan di ruang tertutup terjadi di tempat-tempat yang banyak orang berkontakan—seperti gym, bar, ruang karaoke, restoran, dan ruang-ruang serupa di mana orang bisa makan dan minum, bercengkrama, bernyanyi, dan bersentuhan. Sementara itu, ruang tertutup seperti kereta rel listrik (krl) yang biasanya ramai penumpang tidak memicu klaster penularan baru. Alasannya, walaupun ramai, kebanyakan penumpang kereta tidak berbicara di dalam kereta dan selalu menggunakan masker.

Bioskop yang tidak memerlukan orang duduk berhadapan atau berbicara ke satu sama lain pun dianggap tidak berisiko besar menularkan virus. Hingga kini, hampir tak ada pula studi yang menunjukkan adanya klaster penularan yang bersumber dari bioskop. “Ruangan di mana orang-orang tidak berbicara dan mengenakan masker relatif lebih aman daripada ruangan yang berisik dan penuh orang. Di dalam bioskop, jika kamu tidak makan popcorn, kamu kan hanya duduk diam,” kata ahli biocontainment di John Hopkins Medicine, Jade Flinn, kepada qz.com.

Sejumlah bioskop di Jepang akan mulai dibuka kembali bulan ini. Begitu pula bioskop di sejumlah negara bagian di Amerika Serikat. Sebagian besarnya akan membatasi penjualan tiket menjadi 50% kapasitas, memberikan jeda cukup panjang antar film untuk membersihkan teater, dan memastikan setiap penonton tidak duduk bersebelahan atau berada langsung di depan atau belakang penonton lain. Sistem ventilasi dan sirkulasi aliran udara pun akan dites terlebih dahulu untuk memastikan penonton tidak menghirup atau terkena droplet penonton lain.

Di Indonesia, Cinema XXI menjelaskan protokol kesehatan yang sedang dan akan mereka jalankan ketika bioskop dibuka kembali. “Cairan disinfektan yang kami gunakan merupakan disinfektan yang digunakan oleh maskapai penerbangan internasional dalam meminimalisir resiko penyebaran virus Corona. Cairan ini dapat membunuh kuman, bakteri, serta virus namun aman bagi manusia karena sudah tersertifikasi secara internasional. Selain kelengkapan kebersihan sesuai standar berupa sabun cuci tangan pada wastafel toilet bioskop, kami juga melengkapi seluruh bioskop dengan hand sanitizer,” ujar Head of Corporate Communications and Brand Management Cinema XXI, Dewinta Hutagaol, dikutip dari Kontan.co.id.

Related Article