Covid-19

Benarkah Vaksin di Indonesia Tidak Efektif Lawan Mutasi Covid-19 N439K?

Ray Muhammad — Asumsi.co

featured image
Freepik

Covid-19 masih membayangi dunia, termasuk Indonesia. Apalagi, dengan beredarnya mutasi baru dari Sars-Cov-2. Usai kemunculan varian virus Corona B117, kini mutasi N439K menjadi ancaman baru di Indonesia. Pasalnya, mutasi ini disebut-sebut lebih mampu mengakali antibodi dalam menginfeksi penderitanya.

Kedua varian virus ini diketahui sudah masuk ke Indonesia, Corona B117 terdeteksl keberadaannya sejak 2 Maret lalu yang kasusnya ditemukan di Karawang, Jawa Barat. Kini, penyebaran mutasi N439K tengah menjadi perhatian serius para pakar kesehatan.

Reproduksi Virus N439K Dua Kali Lebih Kuat

Ketua Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Daeng M Faqih mengatakan, varian N439K saat ini sudah menyebar ke lebih di 30 negara sejak kali pertama ditemukan di Skotlandia. 

Ia mengungkapkan N439K, varian virus ini lebih “cerdas” dibandingkan B117 dalam mengelabui antibodi manusia.

“Ikatan terhadap reseptor ACE2 di sel manusia lebih kuat dan tidak dikenali oleh polyclonal antibody yang terbentuk dari imunitas orang yang pernah terinfeksi,” jelas Faqih seperti dikutip dari Detik, Selasa (16/3).

Sementara itu, Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Prof Amin Subandrio, mengamini bila mutasi ini lebih menular. Saat ini, kata dia, sudah ada 48 kasus N439K ditemukan di Indonesia dari lebih 500 sampel yang dilakukan sequens. Dominan, kasusnya baru ditemukan di bulan ini.

Hal ini diketahuinya berdasarkan penelitian terhadap angka reproduksi virusnya yang lebih tinggi. Ia menyebut sudah ada 48 kasus N439K, dari lebih 500 sampel yang disequens, kebanyakan baru ditemukan di bulan ini.

“Kalau dari tingkat keganasannya, prevalensinya, nggak berbeda dengan jenis lainnya, tetapi bisa mengikat pada sel manusia dua kali lebih kuat,” ujarnya.

Perketat Protokol Kesehatan

Saat ini, belum diketahui sejauh mana mutasi virus Corona N439K atau varian Corona B117 yang sudah ada sebelumnya, mampu memengaruhi efektivitas vaksin yang telah ada. Epidemiologi Universitas Airlangga Windu Purnomo menegaskan kunci pencegahan penularan virusnya tetap ada pada kedisiplinan mematuhi protokol kesehatan.

“Hal yang sudah pasti dan jelas, cara penularan virus SARS-CoV2, apa pun variannya, tetap sama, yaitu lewat droplet, serta lewat udara atau aerosol di tempat-tempat tertentu terutama di tempat tertutup. Jadi masyarakat harus lebih disiplin mematuhi protokol kesehatan secara penuh, seratus persen,” ujarnya kepada Asumsi.co melalui pesan singkat.

Ia justru menyayangkan, saat ini kepatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan sudah merosot tajam. Bila masyarakat terus abai, katanya, maka penularan akan semakin tinggi dan pandemi kian sulit dikendalikan.

“Varian baru yg lebih menular akan makin menyulitkan penanganan pandemi bila masyarakat makin tidak disiplin apalagi dipicu oleh kebijakan pelonggaran oleh pemerintah, terutama mobilitas penduduk,” tuturnya.

Vaksin di Indonesia Belum Mampu Lawan N439K

Soal vaksin yang sudah tersedia di Indonesia yakni Sinovac dan AstraZeneca, lanjut Windu, kabarnya belum mampu melawan virus N439K.

“Cuma masih tetap efektif untuk mencegah virus varian baru yg dari Inggris B117. Nah, yang jadi masalah adalah menyangkut herd immunity,” ucapnya.

Ia menjelaskan virus Corona sebelum mutasi, memiliki Ro atau bilangan reproduksi dasar yang menunjukkan tingkat penularan virusnya saat ini, menunjjukkan setiap orang yang positif, bisa menulari sebanyak 3,8 org lainnya selama masa infeksiusnya.

“Ini diperlukan 70% populasi, yaitu antara 180 hingga 190 juta orang yang harus divaksinasi untuk mencapai herd immunity,” katanya.

Sedangkan, varian baru B117 yang dikabarkan 70% lebih menular, maka varian ini punya Ro sebesar 6,5. Akibatnya proporsi populasi untuk menghasilkan kekebalan komunal menjadi sebanyak 85%, 

“Artinya, yaitu sekitar 225 juta penduduk harus divaksinasi. Ini berarti lebih berat,” pungkas sang epidemiolog.

Share: Benarkah Vaksin di Indonesia Tidak Efektif Lawan Mutasi Covid-19 N439K?