Belasan Ribu Anak Migran di AS Terpaksa Rayakan Natal di Tahanan

Natal merupakan hari di mana orang-orang merayakannya dengan penuh kebahagiaan, bersama orang-orang tercinta, dan dipenuhi makanan yang tidak ada habisnya. Namun ternyata, suasana tersebut tidak dirasakan oleh belasan ribu anak yang ditahan dengan alasan izin legalitas untuk masuk ke Amerika Serikat. Terdapat empat belas ribu anak-anak migran yang harus merayakan hari raya umat Kristiani di dalam tahanan federal.

Memang, perayaan Natal mereka sudah dijamin dengan catatan keriaan tersebut diadakan di dalam penjara. Badan keimigrasian Amerika Serikat, U.S. Immigration and Customs Enforcement (ICE) dan Departemen Layanan Kesehatan dan Kemanusiaan (HHS), melaporkan kepada TIME bahwa anak-anak tersebut akan tetap mendapatkan akses bertemu dengan keluarga untuk merayakan Natal. Perayaan agama lain pun dapat dilakukan di dalam penjara federal. Hal ini seperti dikonfirmasi oleh Danielle Bennett, juru bicara ICE, kepada TIME. Bennett memastikan bahwa untuk perayaan keagamaan, seperti Natal kemarin, akan diberikan kompensasi agar anak dan keluarganya dapat berkumpul bersama di pusat pemulihan keluarga.

“Untuk merayakan Natal, pusat pemulihan ICE telah mempersiapkan acara spesial, pelayanan keagamaan ekstra, dan hadiah untuk anak-anak yang sedang berada di pusat pemulihan keluarga. Setiap pusat pemulihan keluarga sudah diberikan dekorasi Natal, seperti pohon Natal salah satunya. Di salah satu sekolah di dalam fasilitas pemulihan, telah dipersiapkan penampilan Natal. Fasilitas juga memberikan waktu lebih untuk anak-anak mengeksplorasi kreatifitasnya masing-masing dalam membuat ornamen, kartu, dan hadiah Natal,” ungkap Bennett.

Selain dari rencana yang dipersiapkan oleh ICE, banyak kelompok-kelompok advokasi yang juga membantu agar anak-anak yang berada di dalam tahanan merasakan keindahan Natal dengan layak. Hal-hal yang dipersiapkan oleh kelompok advokasi antara lain hadiah, kartu Natal, dan memberikan doa untuk para keluarga dan anak-anak migran yang masih ditahan di tahanan federal.

Kebijakan Trump Pisahkan Anak dari Keluarga

Semenjak Trump terpilih menjadi Presiden, pemerintah Amerika Serikat menjadi begitu ketat untuk urusan imigrasi. Salah satu kebijakan yang dikeluarkan Trump adalah bahwa setiap keluarga yang masuk ke Amerika Serikat melalui perbatasan Meksiko secara ilegal, akan dihukum secara keras. Dari kebijakan ini, sebenarnya tidak tertuliskan secara eksplisit bahwa anak akan dipisahkan dari orang tuanya. Namun, adanya kebijakan keras terhadap imigran ilegal, dengan salah satu kemungkinannya memenjarakan para pelakunya, telah membuat pemisahan anak dan orang tuanya menjadi tak terelakkan.

Kebijakan ini tentu bukan tanpa kritik. Berbagai macam kritik telah disampaikan melalui berbagai medium. Kritik utama mengatakan bahwa pemisahan anak dan orang tua seperti ini merupakan kebijakan yang tidak manusiawi. Meski begitu, Trump tidak bergeming. Ia dan pemerintahannya terus menerapkan kebijakan ini, demi membatasi imigran ilegal yang terus masuk ke Amerika Serikat.

Sebelumnya, kebijakan yang diterapkan oleh presiden-presiden Amerika Serikat tidak seketat Trump. Keluarga yang secara ilegal masuk ke Amerika Serikat dengan cara mengaku bahwa dirinya sedang mencari suaka, karena kondisi di negara asalnya yang tidak stabil/berkonflik akan diizinkan untuk mendaftar suaka ke Amerika Serikat. Apakah mereka akan ditahan atau tidak ketika mendaftarkan suaka akan ditentukan oleh pengadilan.

Lalu, bagaimana nasib anak-anak di era sebelum Trump? Anak-anak diizinkan untuk tidak ditahan di tahanan federal selama ada jaminan dari orang tua, keluarga, atau program berlisensi yang menanggungnya. Anak-anak yang ditahan pun diusahakan untuk ditahan di suasana yang tidak bersifat mencekam. Kebijakan ini dikodifikasi oleh George W. Bush di tahun 2008 dengan nama 2008 Trafficking Victims Protection Reauthorization Act.

Related Article