Belajar Menanggulangi COVID-19 dari Kanselir Jerman Angela Merkel

Sebagaimana di beberapa negara lain di Eropa, penyebaran COVID-19 di Jerman terbilang tinggi dengan 150.00 kasus positif. Namun, lain dari Spanyol, Italia, Prancis, dan UK yang jumlah kematiannya mencapai puluhan ribu, dengan laju kematian (fatality rate) dalam kisaran 10-14%, Jerman sanggup menekan jumlah korban: 5.900 kematian, dengan laju 3,7% (27/4).

Apa sajakah faktor penentu perbedaan tersebut? Pertama, kebanyakan pasien yang tertular di Jerman relatif muda, dengan rata-rata usia 49 tahun. Sementara itu, rata-rata umur pasien COVID-19 di Prancis adalah 62,5 tahun dan di Italia 62 tahun. Selain itu, Jerman juga melakukan tes masif sebanyak dua juta kali atau 24.000 tes per sejuta populasi. Jumlah tes yang digelar Spanyol hanya separuhnya, dengan jumlah kematian nyaris empat kali lipat.

Sistem layanan kesehatan Jerman yang mumpuni dan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah juga faktor penting. Pada Januari, Jerman telah memiliki 28.000 tempat tidur khusus perawatan intensif yang masing-masing dilengkapi dengan ventilator atau 340 ranjang untuk setiap sejuta orang—berbeda dari Italia yang hanya memiliki 120 ranjang perawatan intensif per sejuta orang. Fasilitas kesehatan Jerman bahkan sanggup menyerap pasien dari negara-negara lain.

Dan di atas itu semua, Kanselir Jerman Angela Merkel berhasil menyampaikan informasi ke publik secara transparan, jelas, dan rutin.

Angela Merkel telah menjadi politikus selama 30 tahun dan memerintah Jerman selama 14 tahun. Ia juga seorang ilmuwan. Ia mendapatkan gelar doktor untuk kimia kuantum pada 1989 dan bekerja sebagai peneliti. Tak lama setelah Tembok Berlin runtuh, Merkel meninggalkan dunia akademik dan bergabung dengan partai politik.

Angela Merkel tak pernah menjelaskan alasannya meninggalkan dunia sains kepada publik, tetapi perangai ilmiahnya tetap mencolok. Pada Maret lalu, Merkel tampil di televisi untuk memaparkan tingkat keseriusan pandemi COVID-19 secara tenang dan apa adanya. Ia membandingkan krisis COVID-19 dengan Perang Dunia II, di mana keduanya butuh solidaritas semua orang lebih besar daripada biasanya.

Merkel menjelaskan tentang angka reproduksi (reproduction number) COVID-19. Dengan angka reproduksi di Jerman yang saat itu sebesar 1 (setiap orang dapat menginfeksi satu orang lainnya), ia menjelaskan apa yang akan terjadi jika angkanya meningkat. Jika angka reproduksinya meningkat menjadi 1,1, sistem kesehatan Jerman akan kewalahan pada Oktober. Jika meningkat menjadi 1,2, rumah sakit akan mengalami krisis pada Juli, dan jika meningkat menjadi 1,3, rumah sakit akan mengalami krisis pada Juni.

“Saya percaya kita akan melewati ujian ini jika semua warga negara ikut bertanggung jawab,” kata Merkel, yang kemudian menetapkan lockdown. Respons Merkel terhadap pandemi COVID-19 telah membuatnya menerima kepercayaan publik: 89% warga Jerman menganggap pemerintah telah menangani COVID-19 secara baik.

Merkel mengakui pemerintah tidak dapat bergerak sendiri dan tak boleh berlagak serbatahu. Ia bersandar pada lembaga penelitian dan jaringan universitas negeri untuk menangani krisis. The Berlin Institute of Health, sebuah lembaga penelitian biomedis, bekerja sama dengan pemerintah dan institusi-institusi penelitian lain di Jerman untuk memimpin penelitian virus Corona. Pemerintah Jerman pun menghimpun departemen medis di semua universitas ke dalam satuan tugas penanganan virus Corona. Informasi yang disampaikan Merkel ke publik terkait COVID-19 pun bersandar pada ahli virologi Christian Drosten.

Dalam perkara sosial, pemerintah Jerman mencegah kedatangan gelombang pengangguran dengan memastikan perusahaan tak mencampakkan para pekerja. 67% upah pekerja dibayarkan oleh negara lewat perusahaan. Para pekerja pun berhak untuk kembali ke pekerjaan mereka seperti semula dengan besaran upah yang sama ketika krisis berakhir. Dana bantuan langsung tunai juga disalurkan ke masyarakat untuk mencegah orang-orang kelaparan dan kehilangan tempat tinggal.

Saat ini, jumlah kasus baru harian di Jerman kian surut. Kebijakan lockdown pun mulai dilonggarkan. Toko-toko dengan luas maksimal 800 m2 diperbolehkan untuk beroperasi kembali sejak Senin dengan tetap menjalankan social distancing secara ketat dan mempertahankan kebersihan. Pemerintah Jerman mengatakan aturan social distancing tetap berlaku setidaknya hingga 3 Mei mendatang. Mereka juga menargetkan akan mulai membuka sekolah pada tanggal tersebut.

Related Article