Pembangunan Bandara Kertajati, Semoga Rakyat Majalengka Tidak Hanya Menjadi Penonton

Saya berkesempatan mengunjungi daerah Kertajati, Majalengka, Jawa Barat, beberapa bulan lalu. Seorang kawan yang menemani saya di sana menunjuk persawahan sambil menerangkan bahwa lahan tersebut milik salah satu hotel terkenal.

Sedangkan lahan sebelahnya, lanjutnya, adalah milik pengusaha terkenal. Sementara itu, lahan belakangnya akan dibangun mall. Cukup lama ia menjelaskan lahan-lahan di daerah Kertajati yang sudah dimiliki perusahaan maupun pengusaha terkenal dari kota-kota besar. 

Tak lama kemudian kami berhenti di sebuah warung kecil yang menjual sayur sop. Di depannya kami melihat para petani yang rata-rata berusia sudah tua, masih bersemangat pergi ke sawah, atau sekadar menyabit rumput untuk ternak mereka. 

Dalam perjalanan pulang, kami melewati jalan kecil, karena saat itu jalan utama sedang ditutup untuk perbaikan jembatan. Di sana saya melihat anak-anak kecil bermain sepak bola di pinggir sekolah mereka, dengan pemandangan hamparan persawahan yang sangat luas. Di depannya, beberapa anak muda, sibuk menambal jalanan kecil rusak ini dengan batu dan pasir supaya kendaraan yang melewat tidak terlalu merasakan bolongnya jalanan, seraya mengharapkan sedikit bantuan dari para pengendara yang lewat. 

Itulah Kertajati, mayoritas masyarakatnya masih menjadi petani, pedagang kecil, buruh angkut beras, tukang ojek, dan bahkan pengangguran. Tidak sedikit dari penduduk asli sana, yang memang mayoritas petani, sudah menjual lahannya dengan harga lumayan tinggi ke para pengusaha besar, terutama sejak isu Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati dihembuskan. Mereka kemudian beralih profesi menjadi tukang ojek, pedagang sembako di pasar, atau pindah ke daerah lain.    

Dari berbagai sumber, proyek bandara yang diperkirakan menghabiskan biaya Rp25,4 triliun ini rencananya memiliki banyak fasilitas hebat, salah satunya adalah kapasitas bandara yang mengklaim bisa memfasilitasi penumpang mencapai 18 juta orang per tahun. Rencananya, bandara ini akan mulai beroperasi untuk mengangkut penumpang mulai Juni tahun ini, mempersiapkan antisipasi massa mudik Lebaran.

Bandara Kertajati juga disiapkan memiliki panjang landasan pacu hingga 3.500 meter. Pesawat berbadan lebar (wide body) bisa dengan mudah mendarat di bandara ini. Bandara ini juga dilengkapi dengan hotel bintang 3 dan embarkasi bagi para calon jemaah haji—dilengkapi ruang tunggu haji dan umrah eksklusif seluas 1.300 meter persegi serta 12 ruang salat. 

Tak hanya itu, pengelola juga melengkapi fasilitas untuk manasik haji dan umrah, termasuk di dalamnya terdapat miniatur ka’bah. Sebuah kota baru yang modern pun rencananya akan dibangun di sana. “Aerocity” Bandara Kertajati pun dibangun di daerah yang tidak jauh dari bandara, suatu kota terpadu modern yang diinisiasi akan membantu perekonomian warga masyarakat lokal, di mana akan terbagi dalam enam klaster; yakni logistic park seluas 429 ha, creative and technology center seluas 544 ha, energy center seluas 126 ha, business park seluas 672 ha, aerospace park seluas 335 ha, dan sisanya residential park.   

Kertajati adalah sebuah kecamatan yang berada di Kabupaten Majalengka, pekerjaan mayoritas masyarakatnya saat ini adalah bertani dengan kontribusi sektor pertanian pada pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai 32,85% dengan nilai ekonomi mencapai Rp353,7 miliar.

Total produktivitas padi pada tahun 2003 mencapai 469.812 ton, di mana 457.611 ton adalah padi sawah dan 12.201 ton adalah hasil padi ladang, dengan total output padi terbesar terdapat berasal dari Kecamatan Kertajati. 

Majalengka sendiri adalah salah satu daerah di Jawa Barat yang memiliki upah minimum regulernya (UMR) termasuk sangat kecil, terhitung sekitar Rp1,5 juta untuk tahun 2018, dengan jumlah penduduk 1.198.170 jiwa penduduk. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) setempat, masih terdapat penduduk miskin sebanyak 385.094 jiwa. 

Tanpa perlu melihat data statistik, jika ingin melihat potensi Kertajati ke depannya akan seperti apa, salah satunya adalah perpindahan masyarakat yang cukup besar akan terjadi. Para pekerja, mulai dari staf kecil, manager perusahaan besar, hingga para ahli akan datang untuk bekerja di berbagai sektor yang tumbuh dan berkembang di Kertajati. 

Tidak bisa dipungkiri pula akan terjadi “pertarungan” antara sumber daya manusia lokal dengan sumber daya manusia dari kota lain yang juga akan datang ke Kertajati atau Majalengka, dengan berbagai latar belakang pendidikan, sosial, dan pengalaman yang mereka miliki masing-masing. 

Dalam proses pembangunan hal ini memang terjadi, semua masyarakat direncanakan akan tumbuh berkembang menyertai pembangunan fisik wilayahnya. Namun sebagaimana cepat dan bagaimana proses berkembangnya, semua belum tahu. Satu hal yang diharap, semoga masyarakat lokal setempat tidak hanya menjadi penonton atas berkembangnya pembangunan di wilayahnya sendiri. 

Kiki Esa Perdana adalah dosen ilmu komunikasi. Ia sangat antusias dengan isu komunikasi politik dan budaya.

            Related Article