Baik-Buruk Libur Lebaran bagi Perekonomian

Badan Kepegawaian Negara (BKN) mengisyaratkan libur lebaran Aparatur Sipil Negara (ASN/PNS) akan dimulai dari tanggal 30 Mei hingga 9 Juni 2019. Bila dijumlahkan, libur ini mencapai 11 hari, termasuk akhir pekan. Sementara itu, perusahaan-perusahaan swasta diperkirakan akan meliburkan karyawan selama sepekan penuh, dalam rentang 1-9 Juni 2019.

Libur lebaran menjadi berkah bagi para pekerja yang sudah bekerja sepenuh hati selama setahun penuh. Ia menciptakan kesempatan untuk bercengkerama secara lebih leluasa bersama keluarga besar. Namun, di sisi lain, itu berarti ada banyak pekerja yang tidak produktif. Bagaimanakah dampak Idulfitri terhadap perekonomian?

Pekerja Digaji, Namun Tidak Produktif

Dilihat dari satu sisi, libur lebaran merugikan: perusahaan harus menggaji penuh, tetapi pekerjanya tidak produktif. Ongkos produksi membengkak, belum lagi mempertimbangkan banyaknya pekerja yang memperpanjang libur lebaran dengan cuti. Selain itu, perusahaan tetap harus mengeluarkan biaya aset. Gedung dan barang-barang yang disewa oleh perusahaan tidak menghitung potongan cuti lebaran. Semua harus tetap dibayarkan.

Satu sektor industri spesifik yang merasakan kerugian berat selama libur lebaran adalah sektor logistik. Setiap tahunnya, truk dan kendaraan pengangkut barang lainnya dilarang melewati jalur tol. Dilansir dari Bisnis, CEO PT Lookman Djaja, Kyatmaja Lookman, mengungkapkan bahwa periode larangan ini membuat kerugian yang cukup besar.

“Rugi kami, leasing kan tetap dibayar. Misalnya (biaya leasing) 30 juta, nggak akan berkurang karena libur, kan? Sedangkan pendapatan kami merosot setengahnya. Semakin lama semakin rugi, tagihan juga mundur,” ujar Lookman pada Kamis, 21 Juni 2018.

Menghidupkan Sektor Industri Pariwisata

Namun, kita tak dapat melihat situasi ini hanya dari satu sisi. Di sisi yang lain, lebaran berperan meningkatkan konsumsi masyarakat. Ini menguntungkan bagi sektor-sektor seperti transportasi dan pariwisata. Mulai dari penggunaan transportasi saja akan ada peningkatan. Jutaan warga yang melakukan mudik dan kembali 1-2 minggu setelahnya akan sangat menguntungkan bagi penyedia layanan transportasi.

Di kampung halaman, lonjakan konsumsi pun akan terjadi. Hal ini akan menghidupkan berbagai sektor jasa di kampung halaman, mengingat adanya lonjakan "turis" di wilayah tersebut. Berbagai tempat kuliner dan hiburan berpeluang menjadi lebih ramai dari biasanya.

Konsumsi yang meningkat ini didorong keberadaan Tunjangan Hari Raya (THR) yang diberikan pemerintah dan para pengusaha kepada pekerjanya. Sebagai gambaran, pemerintah sudah menyiapkan Rp20 triliun THR untuk ASN.

Related Article