Bahaya Laten Bilik Disinfektan

DKI Jakarta segera membangun dan menempatkan bilik disinfektan secara massal. Setidaknya 100 unit sudah disiapkan oleh Baznas. Pemkot Jakarta Pusat bahkan secara resmi mengumumkan penerimaan sumbangan sebanyak 1000 unit bilik dari Asosiasi Laundry Indonesia pada Selasa (31/3).

Tetangganya, Jawa Barat, lebih canggih lagi: bakal menerapkan disinfektasi dengan bantuan teknologi drone. Sebelumnya, pemerintah kota Surabaya sudah menerapkan hal ini pada wilayah-wilayah dengan kasus positif COVID-19

Perkara ini bahkan menarik perhatian politisi macam Edhie Baskoro Yudhoyono. Dalam sebuah video yang beredar di media sosial, pria yang akrab disapa Ibas ini terlihat berlari-lari kecil sambil memasuki bilik disinfektan. Bilik tersebut dilengkapi dengan hand sanitizer serta televisi layar datar pada bagian muka, dan atribut kampanye pada dindingnya. Ia berniat mengirimkan bilik disinfektan buatan timnya untuk daerah pemilihannya di Pacitan, Jawa Timur, pada Pilkada mendatang.

Sejak menonton video Ibas, saya khawatir soal semprot-menyemprot ini. Belakangan, ada pula meme hasil tangkapan layar yang berisi pesan seorang pekerja kepada atasannya.

"Maaf Pak Wahyu, mulai besok saya tdk masuk kerja lagi. Setiap kali saya antar tabung gas dan Aqua ke customer, pas masuk perumahan saya selalu disemprot disinfektan. Baju saya sampai basah kuyup. Hari ini tadi saya disemprot 32x, Pak. Kalau tiap hari begini terus, bukan virusnya yang mati, tapi saya yang mati, Pak," tertulis pada meme tersebut.

Meskipun tidak ada informasi yang jelas soal kebenarannya, peristiwa itu mungkin saja terjadi. Tidak sulit membayangkan ini: orang-orang kaya menganggap para pekerja kasar sebagai pembawa penyakit, lalu bertindak ceroboh dengan sumber dayanya. Di sisi lain, para pekerja tidak punya pilihan selain menerima semprotan tersebut dengan pasrah.

Inisiatif ini dikritik oleh para ahli kesehatan karena membahayakan, juga boros waktu dan sumber daya. Satu unit bilik disinfektan berukuran 1 meter persegi dengan tinggi 2 meter dibanderol dengan harga Rp5,5 juta di pasaran. Di tempat lain, mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta membuat bilik disinfektan dengan bahan baku yang lebih sederhana dan membanderolnya seharga Rp1,5 juta.

Dokter spesialis penyakit dalam, Dirga Sakti Rambe, menyatakan ketidaksetujuannya terhadap penggunaan bilik disinfektan serta meragukan efektivitasnya. Ia sangsi semprotan itu dapat membunuh virus. “Berapa lama seseorang harus kontak dengan cairannya? Bukti belum jelas,” tulisnya. “Alkohol dan klorin dapat menyebabkan iritasi. Jangan sembarangan.”

Senada dengan Dirga, WHO Indonesia juga menerbitkan imbauan tentang bahaya paparan disinfektan terhadap tubuh manusia. Alih-alih disemprotkan ke badan, mereka menyarankan penggunaan hanya pada permukaan benda-benda.

Tentang masalah kesehatan lebih lanjut, sebuah studi menemukan bahwa perawat yang secara teratur menggunakan disinfektan untuk membersihkan permukaan berisiko lebih tinggi terkena penyakit paru obstruktif kronis. Penyakit ini biasanya diderita oleh para perokok aktif. Ditandai dengan sesak nafas, batuk dan dahak kronis.

Saya bertanya lebih jauh kepada dokter spesialis paru Erlina Burhan, yang bertugas di RS Rujukan COVID-19 (RSU Persahabatan). Katanya, “Kan saya sudah bicara berulang-ulang di TV segala macam itu, memang tidak dianjurkan disinfektan itu untuk orang. Harusnya disinfektan itu untuk permukaan benda-benda mati. Contohnya meja, kursi, pegangan pintu, tombol lift. Bukan untuk orang.”

Seluruh sumber yang saya telusuri sepakat dan menunjukkan kesimpulan yang sama: bilik disinfektan boros dan berbahaya bagi kesehatan manusia. Lebih lanjut, Dirga mengatakan bilik disinfektan dapat dipertimbangkan pada kondisi tertentu, misalnya di RS atau tempat yang merawat pasien. Tapi ia dengan tegas tidak menyetujui jika hal ini diletakkan pada banyak titik di berbagai daerah.

“Kalau chamber ini disebar di penjuru kota, pingggir-pinggir jalan, tidak ada manfaatnya. Buang-buang duit,” katanya.

Ketimbang menghabiskan banyak uang untuk hal yang sia-sia seperti bilik disinfektan, Dirga menyarankan siapa pun yang ingin terlibat agar mengalokasikan dana untuk hal-hal yang lebih efektif.  “Buat spot-spot air bersih + sabun untuk cuci tangan. Minimal hand sanitizer alcohol-based. Tapi air dan sabun tetap paling efektif,” kata Dirga melalui pesan singkat.

Related Article