Jelang 2019, Bagaimana Media Membentuk Opini atas Cawapres?

Seperti kita tahu, sejak tahun 1998 terjadi perubahan besar dalam perpolitikan kita. Salah satu hal yang terlihat sangat jelas adalah kebebasan media dan arus informasi yang semakin cepat datang. Jika kita melihat hal ini, prinsip dasarnya tentu media memiliki hak dan pola tersendiri dalam menilai suatu peristiwa atau fenomena, baik itu sosial, budaya, ataupun politik. Walaupun akan otomatis terbentuk poros opini, tentu sebetulnya terbaginya poros opini media tersebut dalam menilai suatu fenomena politik bukan berarti media menjadi lawan politik satu kubu, namun lebih jauh lagi, media bisa diartikan sebagai proses pembelajaran dan pengetahuan baru akan arus informasi yang sedang berlangsung.

Dalam hal pemilihan siapa Cawapres pada pemilu 2019 kali ini, media membebaskan diri dalam memberikan asumsi mereka masing-masing sebagai haknya. Begitu pula para ilmuwan politik yang memiliki asumsi masing-masing, untuk kemudian disebar ke masyarakat sebagai arus informasi, walaupun terkadang tidak bisa kita pungkiri, pada beberapa kasus media bisa membuat celah kebutuhan tersendiri bagi orang-orang tertentu sebagai kendaraan politik.

Poros media saat ini masih terlihat santai, karena banyak poros politik dari partai sendiri yang belum terbentuk ajeg dan masih fleksibel berlari kesana kemari untuk menentukan siapa pilihan yang tepat sebagai wakil presiden. Beberapa media besar yang memiliki kredibilitas  terlihat membahas banyak sisi menarik dalam bahasan calon wakil presiden saat ini. Para media besar ini diharapkan mampu menjadi ruang lalu lintas informasi bagi segala macam ide-ide yang muncul dalam menyangkut kepentingan orang banyak.

Jika kita melihat beberapa media dalam menanggapi fenomena ini, maka akan nampak beberapa kecenderungan yang menarik. Kompas sebagai salah satu media besar di Indonesia masih terlihat belum begitu aktif membahas pencalonan, namun terlihat beberapa kali mengulas nama seperti Mahfud MD dan Cak Imin dalam pemberitaan mereka sebagai calon wakil presiden jokowi. Sisanya, seperti biasa, Kompas lebih fokus pada bahasan mengenai pengembangan opini dari partai dan para pengamat politik.

Sedangkan media Republika pun hampir serupa, salah satu yang dianggap penulis menarik, dalam salah satu beritanya adalah bagaimana Republika begitu  mengedepankan bahasan mengenai mantan Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan sebagai salah satu calon yang ideal. Selain itu, Republika juga banyak mengulas soal sikap Partai Keadilan Sosial (PKS) jika meninggalkan koalisi Prabowo/Gerindra, dan opsi memberikan porsi sebagai calon wakil presiden. Sedangkan Detik com, salah satu media online terbesar, dinilai cukup aktif dan juga beragam dalam membahas mengenai perhitungan siapa sekiranya akan menjadi cawapres di berbagai poros politik.

Namun yang menarik bagi penulis adalah, semua berita yang ditulis di atas, pada berbagai media besar yang kredibel, dicari dengan menggunakan keyword “Cawapres”, tanpa dilanjutkan nama belakang apakah itu Jokowi, Prabowo atau poros lain. Namun mayoritas media besar tersebut dinilai lebih sering membahas nama siapa yang akan menjadi calon wakil presiden Jokowi selanjutnya, bukan poros politik lainnya siapapun itu kemudian. Jokowi ternyata masih menjadi media darling dalam pemberitaan media besar di Indonesia.

Ledakan informasi, membuat media yang ada di jaman modern ini datang dan membombardir kita dengan berbagai macam informasi yang sangat beragam dan dengan berbagai sudut pandang. Mengkonsumsi media dalam sudut pandang kita sebagai pembaca, penonton atau pendengar seperti ini, tentu akan berbeda jika kita melihat media yang dinilai kurang kredibel atau yang benar-benar kredibel. Kredibilitas Media (Media Credibility) sendiri dalam hal ini bisa diartikan sebagai sebuah tingkat keterpercayaan pemberitaan media. Makin kredibel sebuah media, maka tingkat kepercayaan publik terhadap pemberitaan media tersebut kian tinggi. Masyarakat sudah seharusnya mempercayai media yang kredibel dalam mengkonsumsi media mana yang kredibel dan pantas untuk dikonsumsi, bukan media yang abal-abal dan tidak jelas, iya kan?  

Related Article