Audrey dan Peran Kita Semua Menghapus "Bullying"

Audrey, seorang siswi SMP di Pontianak, Kalimantan Barat, menjadi korban perundungan sejumlah siswi SMA beberapa hari lalu. Audrey mengaku dianiaya dan dikeroyok oleh siswi SMA di kotanya pada 29 Maret 2019 lalu. Peristiwa itu baru diadukan ke Polsek Pontianak Selatan pada 5 April 2019 dan kemudian dilimpahkan ke Polresta Pontianak.

Namun, kisah perundungan Audrey sudah ramai jadi perbincangan hangat di dunia maya beberapa hari ini. Tagar #JusticeForAudrey bahkan menjadi trending nomor satu dunia di Twitter. Bahkan, berdasarkan pantauan Asumsi.co, Rabu, 10 April 2019, pukul 17.30 WIB, petisi di situs Change.org dengan judul “Polda Kalbar, Segera Berikan Keadilan untuk Audrey #JusticeForAudrey!”, sudah ditandatangani lebih dari 3,2 juta kali.

Sekolah Kerap Jadi Tempat Munculnya Bullying

Psikolog Klinis Universitas Indonesia Angesty AZ Putri berbincang dengan Asumsi.co tentang kasus perundungan terhadap Audrey tersebut. Anes, sapaan akrabnya mengatakan ada faktor yang memicu terjadinya aksi perundungan tersebut. Terutama dari sekolah, di mana tempat sang anak belajar.

“Ada beberapa hal yang bisa dijelaskan kenapa sekolah justru sering jadi tempat terjadinya bullying bagi anak-anak. Yang pertama, karena di sekolah itu masih sering ada level dan kelas-kelasnya, sekolah itu tempat yang memungkinkan adanya senioritas karena kan ada tingkatan-tingkatannya,” kata Anes saat dihubungi Asumsi.co, Rabu, 10 April 2019.

Menurut Anes, sekolah juga memungkinkan orang-orang bisa jadi merasa lebih besar daripada adik-adik kelasnya. Faktor kedua, adalah kurangnya pengawasan terhadap siswanya. Sistem pengawasan ketat harusnya diterapkan sekolah dan guru, namun hal itu masih jarang dilakukan.

“Kan sebenarnya ada juga sekolah yang punya rasio muridnya cukup bagus, jadi sehingga sekolah melakukan pemantauan ke siswanya juga cukup baik, guru-gurunya juga bisa melihat perkembangan siswanya,” ujarnya.

Seharusnya, lanjut Anes, sekolah dan guru-gurunya itu tau siswanya berbuat apa saja, mengetahui sifat dan perilakunya seperti apa. Sayangnya, tidak semua sekolah dan guru seperti itu. Anes pun menyoroti sistem pendidikan di Indonesia yang orientasinya masih mementingkan sisi akademis saja. “Jadi ya yang dipantau cuma prestasi belajarnya aja dan sebagainya. Tapi sikap dan perilaku sang siswa tidak mendapat perhatian lebih.”

Sementara faktor ketiga menurut Anes adalah bisa jadi memang sekolahnya sendiri belum punya aturan khusus atau budaya khusus yang memang membentuk anaknya untuk tidak saling bully. Memang kadang tidak ada aturan yang jelas mengenai hal itu. Namun, berdasarkan pantauan Anes sendiri, ternyata memang ada sekolah-sekolah yang tidak memberi ruang bagi aksi bullying yang dilakukan siswanya, dan kalau pun ada, maka pelakunya langsung di-drop out (DO).

“Tidak semua sekolah memiliki aturan seperti itu. Jadi secara kebijakan sekolahnya memang masih belum punya aturan ketat ke arah sana. Menerapkan, atau memang belum tau, atau memang sekolahnya belum aware dengan isu itu.”

Lagi-lagi, Anes pun menyoroti sistem sekolah di Indonesia yang lebih menggenjot dan kental ke nuansa akademis, sehingga permasalahan yang menyangkut perilaku dan sikap siswa belum terlalu jadi perhatian. Di sisi lain, Anes juga menyoroti fakta bahwa setiap masalah-masalah yang terkait psikologis, itu masih belum dianggap sebagai dampak yang signifikan.

“Apalagi dampak psikologis yang muncul itu kan enggak kelihatan, jadi orang-orang mudah menganggap enteng. ‘Ya udahlah cuma dikata-katain doang, lebay banget. Ya udahlah cuma digituin aja, enggak usah drama’. Ungkapan seperti itu lah yang justru membuat si korban biasanya semakin enggak mau ngomong dan lebih banyak murung.”

Bagaimana Cara Mencegah Bullying dan Kekerasan Fisik Terhadap Anak?

Anes mengatakan bahwa perundungan yang dialami Audrey tak hanya masuk kategori bullying saja, tapi juga sudah merambah ke kekerasan fisik atau seksual. “Semua, kalau dilihat dari kasusnya sudah masuk semua, bullying dan kekerasan fisik. Itu kan jelas, aksi yang dilakukan pada Audrey itu, seperti membenturkan kepala ke aspal dan menusuk kemaluannya, sudah memenuhi semua kriteria,” kata Anes.

Terhadap kasus bullying yang dialami Audrey, Anes pun menyampaikan sejumlah saran penting bagaimana untuk mencegah dan menghentikan aksi bullying tersebut di kalangan anak-anak. Ia menyebut perlu adanya keterlibatan semua pihak, terutama keluarga dan teman-teman terhadap orang-orang terdekat.

“Yang paling penting banget, kita tuh terutama memang perlu bisa jadi teman yang baik dulu untuk anak. Entah kamu guru, entah kamu orang tua kita perlu jadi teman yang baik dalam arti pendengar yang baik dan aware dengan tanda-tanda kecil misalnya ini anak tau-tau murung dan pendiam. Tanda-tanda seperti itu harusnya kita kenali, apalagi kita sebagai orang terdekatnya.”

Hal pertama, Anes pun menyoroti pentingnya peran guru, yang seharusnya bisa lebih aware terhadap siswanya meski dalam satu kelas siswanya berjumlah 30 orang. Meski dengan kondisi seperti itu, Anes menegaskan bahwa harusnya guru bisa mengetahui gejala-gejala kecil seperti misalnya ‘Kenapa si A tiba-tiba beda ya hari ini?’, dan hal-hal kecil lainnya.

“Itu sangat penting sekali ya dilakukan guru di sekolah, sehingga sekolah dan guru tidak semata-mata hanya mementingkan sisi akademisnya saja, tapi juga bisa lebih peka terhadap tampilan perilaku si muridnya sendiri.”

Lalu hal kedua, Anes menegaskan bahwa kita tidak boleh melakukan judgment seperti yang sudah dijelaskan di atas. Misalnya masih sering ada yang meremehkan korban dengan kalimat ‘Ya udahlah cuma begitu aja, enggak usah lebay lah’ atau bahkan yang lebih menyakitkan lagi buat korban, ada yang bilang ‘Ya lo lawan dong’. Anes berharap tak ada lagi judgment seperti itu.

“Ya mau lawan gimana gitu. Kondisi psikologis korban itu kan beda-beda banget ya, enggak semuanya sama. Mungkin yang melawan pasti ada, ada juga yang diam, yang enggak ngapa-ngapain juga ada. Jadi reaksi korban itu sangat bermacam-macam sehingga kita tidak bisa menyamaratakan semua orang untuk bisa melawan, kita itu kan punya respons traumatik yang berbeda setiap orang.”

Anes pun mengajak semua orang untuk melakukan hal-hal kecil seperti itu. Ia juga berharap tak lagi ada yang menghakimi ketika ada orang yang mengalami hal seperti itu atau menjadi korban dari perundungan. Anes pun melihat, bahwa korban seperti Audrey butuh dukungan sehingga bisa bercerita jujur tentang apa yang ia alami.

“Dari petisi untuk Audrey di Change.org yang udah jutaan itu, yang menarik dari yang saya lihat adalah banyak juga yang menandatangani itu ternyata merupakan korban yang pernah mengalami hal-hal serupa dan tidak berani bersuara karena tidak mendapatkan dukungan keluarga.”

“Kesimpulan yang bisa ditarik dari komentar itu adalah bahwa orang itu butuh ruang untuk bisa jujur, untuk bisa terbuka sama keadaannya. Lantaran mungkin saking takutnya dengan judgment makanya tidak semua berani bersuara pada saat mengalami kejadiannya. Nah begitu ada petisi, barulah si korban-korban itu berani berbicara karena merasa senasib. Padahal itu sayang sekali, bukan enggak mungkin orang-orang ini yang dulunya mengalami ya sekarang dalam kondisi psikologis yang belum tentu bagus juga sebagai dampak.”

Related Article