Api dan Takhta Daenerys Targaryen

Api! Api! Kapal-kapal perang remuk dan tenggelam, barisan tentara bayaran termahal di dunia kocar-kacir, tembok dan ballista porak-poranda. Puing dan abu dan kematian di mana-mana. Dan setelah jeda yang terasa seperti selamanya, lonceng-lonceng berdentangan. Cersei Lannister meneteskan air mata. Rakyat King's Landing, yang cemas dan barangkali tahu bahwa mereka dimanfaatkan sang ratu sebagai perisai hidup, memutuskan untuk menyerah.

Bagi banyak karakter Game of Thrones, juga banyak penonton, amukan Daenerys Targaryen semestinya cukup. Dia sudah menang. Hore! Selamat! Panjang umur Mama Naga! Pemindahan kekuasaan dan lain-lain dapat diselenggarakan dalam tempo sesingkat-singkatnya. Namun, Drogon mengepakkan sayap dan kamera disentakkan. Tiba-tiba kita hanya dapat melihat Daenerys dan naganya dari jauh, dari ketinggian atau dari jalanan di bawah, sebagai pembinasa tak berwajah. Tak berwajah seperti puing dan abu. Seperti Robert Oppenheimer yang berkata, "Kini akulah maut, pemusnah dunia," saat menyaksikan  bom atom ciptaannya bekerja.

Api! Api!

Tyrion Lannister termangu-mangu. Barangkali dia memikirkan nasib rakyat King's Landing, terutama anak-anak, dan kegagalannya melindungi mereka. Arya Stark, yang belakangan ini meraih banyak keberhasilan pribadi tetapi cuma terlunta-lunta di medan perang terakhir, mungkin menambahkan Daenerys ke daftar orang yang hendak dibunuhnya. Oberyn Martell dan Petyr Littlefinger, karakter-karakter kesukaan saya, sudah lama mati. Yang satu kepalanya dipencet sampai lembek dan yang lain disembelih seperti ayam. Maka, berbeda dari banyak penonton yang memusatkan perhatian pada "kegilaan" Daenerys (Aaron Bady menulis esai yang bagus tentang kewarasan "Mad Queen" di LA Review of Books), saya malah memikirkan King's Landing itu sendiri, kota terbesar sekaligus pusat pemerintahan Seven Kingdoms.

"Red Keep tak pernah tumbang, dan takkan tumbang hari ini," kata Cersei kepada Qyburn, Dr Frankenstein sekaligus Zhuge Liang privatnya, menjelaskan keputusannya menonton amukan Daenerys dari jendela kastil.

Selain merasa lebih pintar daripada yang sebenarnya, Cersei jelas tak tahu diri dalam banyak hal lain. Ya ampun, bukankah kedudukannya sebagai ratu jelas-jelas dihubungkan rantai kausalitas dengan kejatuhan Red Keep 24 tahun sebelumnya?

Memang, sepanjang Game of Thrones, kita tak pernah melihat Cersei membaca buku sejarah. Tetapi agak mengejutkan bahwa ia tak mempertimbangkan Harrenhal, kastil terkuat dan terbesar di Westeros, sebagai pengingat bahwa musuh yang datang menunggangi naga sebaiknya dituruti, bukan malah dipancing-pancing supaya mengamuk.

"Harrenhal sanggup membendung gempuran sejuta prajurit," kata Tywin Lannister, ayah Cersei, suatu kali. Jenderal dan politikus cemerlang itu tentu membicarakan serbuan darat. Adapun semburan naga, semua orang selain Cersei tahu, ialah perkara berbeda. Tiga abad sebelumnya, Aegon I Targaryen, leluhur Daenerys sekaligus orang pertama yang menaklukkan seluruh Westeros, memanggang Harrenhal beserta seluruh anggota dinasti Hoare yang bersembunyi di dalamnya. 

Dibandingkan Harrenhal, King's Landing jauh lebih rentan. Tak perlu sejuta prajurit, lebih-lebih naga, untuk menaklukannya. Ada banyak celah, termasuk yang dipakai Davos Seaworth untuk menyelundupkan Jaime Lannister, buat menyusup dan merebut kota dari dalam sebagaimana di Yunkai dan Meereen. 

Sial bagi penduduk Westeros, Daenerys menyeberangi Narrow Sea bukan untuk membebaskan kelas terperintah, melainkan merebut takhta, meski harus dengan api dan darah. Adapun rakyat Westeros, yang menurutnya sudah membusuk karena tirani, bukan persoalan penting. Api dan darah adalah wujud belas kasihnya kepada generasi mendatang, kata Daenerys, agar mereka terbebas dari derita yang sama. 

"Terdengar seperti Nazi," kata sejarawan Barry Strauss dalam sebuah wawancara di The Atlantic.

Hari ini, dalam episode terakhir Game of Thrones, kita akan mengetahui apa-apa yang akan dilakukan oleh (dan terjadi kepada) Daenerys. Mungkin persis mimpi yang ia alami di House of the Undying, mungkin lain. Barangkali kita akan mengingat serial ini sebagai salah satu yang terbaik sepanjang sejarah, atau justru kecewa, dengan banyak kata-kata, setidaknya di media sosial.

Yang tak bisa lain adalah situasi King's Landing. 

Tyrion Lannister, dalam upayanya membujuk Daenerys agar tak menjalankan siasat bumi hangus, mengatakan ada sejuta orang di kota itu. Namun, menurut Steve Doig, pengajar jurnalisme data di Arizona State University, populasi King's Landing jauh lebih sedikit jika dinilai berdasarkan pemandangan dari jendela Red Keep. Jumlahnya lebih dekat ke 500 ribu jiwa, seperti perkataan Tyrion beberapa tahun sebelum itu. 

Untuk memperkirakan jumlah korban serangan Daenerys, Matt Wynn dari USA Today membandingkannya dengan beberapa peristiwa historis. Yang pertama adalah pemboman Dresden oleh pasukan Sekutu pada 1945, di mana 4.500 ton bom api dijatuhkan ke area seluas 13 mil persegi. Berdasarkan kepadatan penduduk Dresden kala itu, hampir 5 ribu jiwa per mil persegi, serangan tersebut diduga menggempur 65 ribu penduduk, dengan tingkat kematian mencapai 28%.

Perbandingan lainnya adalah dengan pemboman Tokyo pada tahun yang sama. Serangan pertama Angkatan Udara Amerika Serikat di Jepang itu menyasar wilayah 15,8 mil persegi, yang sebagian besarnya pemukiman, selama tiga jam. Dengan kepadatan sekitar 16 ribu orang per mil persegi, populasi terdampak mencapai 254 ribu jiwa.

"Jika serangan fiksional Drogon semematikan di Dresden, ada sekitar 140 ribu warga Westeros terbunuh. Kalau setara Pemboman Tokyo, jumlah korban jiwa mencapai 39% penduduk atau sekitar 200 ribu orang," tulis Wynn.

George R.R. Martin pernah mengatakan bahwa Westeros kurang lebih seluas Amerika Selatan. Pertanyaannya, bagaimana memerintah sebuah benua, yang terdiri dari tujuh kerajaan vassal, dari ibu kota yang telah kehilangan hampir separuh penduduk dan nyaris seluruh infrastrukturnya, ditambah catatan si penguasa baru dan penyebab kehancuran adalah orang yang sama?

Dalam kenyataan, ada banyak kota yang berhasil bangkit dari kehancuran mutlak. Dresden dan Tokyo lahir kembali dari abu peperangan, demikian pula Berlin dan Hiroshima. Lisbon dan San Fransisco, meski pernah hancur-lebur digulung gempa, kini tergolong kota-kota terbesar dan termaju di negara masing-masing. Namun, dalam konteks Westeros, Daenerys tak punya banyak sumber daya. Jangankan memulihkan seluruh kota, untuk membangun ulang Red Keep saja dananya belum tentu memadai, mengingat pemborosan Cersei dan utang-piutang takhta Seven Kingdoms kepada Iron Bank of Braavos. 

Pada Abad ke-12,  Raja Henry II Inggris menghabiskan hingga 40% pemasukan tahunannya untuk membangun dan merawat kastil-kastilnya. Seabad kemudian, di tangan Raja Edward I, kerajaan nyaris bangkrut membiayai benteng-benteng di Wales. Dari segi waktu, pembangunan kastil Abad Pertengahan--yang paling menyerupai dunia Game of Thrones--berlangsung selama dua hingga 10 tahun.

Sampai hari ini, saya baru membayangkan dua opsi bagi Daenerys dalam penutupan Game of Thrones, dengan catatan ia tak kena tikam Jon Snow atau Arya Stark atau siapalah dan cerita berakhir konyol dengan Bran Stark duduk di Iron Throne. Pertama, kembali ke Dragonstone sembari pelan-pelan membangun King's Landing, seperti yang pernah dilakukan Aegon I. Namun, perlu diingat bahwa Dragonstone diciptakan untuk perang, bukan memerintah atau mengumpulkan kekayaan, dan letaknya yang terpencil jelas akan mempersulit kendali atas Seven Kingdoms. Kedua, yang lebih baik, ialah memindahkan pusat pemerintahan ke kota besar lain yang lebih stabil dan mempunyai kedudukan strategis serta infrastruktur lengkap, seperti Oldtown, Highgarden, atau Casterly Rock.

Jika menjalankan rencana itu, Daenerys tak perlu memikirkan ketersediaan air, risiko bencana alam, serta dampak terhadap hutan lindung, kan? Apalagi keadaannya darurat. Tetapi bagaimana jika, katakanlah, tetap ada penolakan dari kota yang hendak dijadikan pusat pemerintahan baru? Bagaimana dengan kepentingan politik elite Westeros, yang mungkin terusik? Seingat saya, King's Landing penuh penolakan dan politik, dan kini ia rata dengan tanah.

Valar morghulis.

Related Article