post

Current Affairs

Apa yang Terjadi Saat COVID-19 Masuk ke Tubuh?

Raka Ibrahim, 24 Maret 2020

Peringatan: artikel ini mungkin akan membuatmu bergidik.

Wabah yang kini menggempur kita bukan lawan enteng. Pada November 2019, serangkaian kasus pneumonia yang janggal dilaporkan di Wuhan, Cina. Penyebabnya? Sebuah virus tak dikenal, yang kini dinamai SARS-CoV-2, dan penyakitnya disebut COVID-19. Empat bulan kemudian, lebih dari 345 ribu kasus positif COVID-19 dilaporkan dari seluruh dunia.

Hingga hari ini (23/3), nyaris 15 ribu orang telah meninggal karenanya. Namun, bagaimana penyakit ini bekerja? Ketika SARS-CoV-2 masuk ke tubuh, bagaimana cara ia bekerja hingga segalanya porak-poranda?

Pengetahuan kita tentang COVID-19 memang masih terbatas. Meski penyebabnya masih sekeluarga dengan biang MERS dan SARS, ia punya ciri khasnya sendiri. Ketika virus tersebut hinggap, ia lekas memulai reaksi berantai yang bikin kolaps organ-organ terpenting dalam tubuh penderita.

Petualangan maut COVID-19 dimulai dari tetesan cairan yang tersebar ke udara melalui batuk atau bersin. Cairan tersebut lantas masuk melalui hidung, mulut, atau mata. Dengan lekas, virus merambat ke bagian belakang rongga hidung, menuju membran mukosa di belakang tenggorokanmu. Ketika ia hinggap pada salah satu reseptor sel di sana, invasi dimulai.

Menurut Dr. William Schaffner, spesialis penyakit menular di Vanderbilt University Medical Center, seterusnya virus SARS-CoV-2 bertindak laksana perompak. Wujudnya, yang dipenuhi paku-paku protein, memudahkan ia nemplok di membran sel, lalu “membajak” sel tubuh. Dari sel tubuh yang sudah terkompromi, virus berlipat ganda dan menyerang sel-sel lain. Pada fase ini, umumnya pasien mengalami gejala berupa radang tenggorokan atau batuk kering.

Kemudian, virus merambat ke rongga pernapasan menuju paru-paru. Setibanya di sana, membran mukosa paru-paru mulai radang. Walhasil, kantung udara paru-paru berangsur cacat dan kesulitan melaksanakan tugasnya: menyuplai oksigen dan membawa keluar karbon dioksida dari aliran darah. Lambat laun, aliran oksigen yang mampet membuat paru-paru terisi cairan, nanah, atau sel mati. Pada fase ini, umumnya pasien mengalami pneumonia atau infeksi paru-paru.

Beda dari pneumonia biasa, virus COVID-19 menyerang bagian pinggir paru-paru dan tidak langsung menghajar saluran pernapasan atas dan trakea. Seperti dilaporkan The New York Times, hal ini pula yang bikin COVID-19 mulanya luput dari perhatian dokter di Cina. Tes paru-paru di RS tak selalu memeriksa bagian pinggir paru-paru, sehingga orang yang sakit kadang dianggap sehat-sehat saja dan disuruh pulang.

Menurut Prof. John Wilson dari Royal Australasian College of Physicians, pneumonia yang disebabkan COVID-19 lebih parah dari pneumonia biasa. Infeksi paru-paru semacam ini biasanya memantik respons alamiah dari sistem imun tubuh untuk menghancurkan virus tersebut dan membatasi penggandaannya. Namun, mekanisme ini tak berjalan wajar di kelompok-kelompok penderita yang rentan, misalnya lansia, orang dengan penyakit paru-paru atau jantung, serta penderita diabetes.

Di sisi lain, dalam kasus-kasus tertentu, respons berlebihan dari imun tubuh justru berujung petaka. Ketika infeksi sudah amat parah, sistem imun tubuh bisa saja “panik” dan tak hanya menghabisi sel-sel mati atau terinfeksi. Ia secara tak sengaja menggempur sel dan bagian tubuh yang sehat-sehat saja.

National Geographic mengibaratkannya begini: alih-alih menembak sasaranmu dengan senapan kecil, sistem imun mengeluarkan peluncur granat, lalu menekan picu sambil berteriak: "Say hello to my little friend!" Kena sasaran, sih, tapi yang lain ikut ambyar.

Implikasinya bisa beragam. Dalam kasus COVID-19 terparah, respons berlebihan sistem imun ini berpadu-padan dengan minimnya suplai oksigen ke darah dan menimbulkan kegagalan fungsi berbagai organ.

Dalam kasus lain, dampak ganda ini menimbulkan kerusakan permanen pada paru-paru. Walhasil, paru-paru lebih rentan terhadap bakteri atau penyakit lain. Dalam kasus-kasus langka, pasien tidak meninggal akibat virus COVID-19, melainkan infeksi susulan yang menyerang setelah paru-paru jadi lebih rentan.

Belum ada vaksin atau obat yang ampuh “menyembuhkan” COVID-19. Saat ini, pasien hanya bisa diberikan perawatan dukungan, cairan serta suplai oksigen tinggi.

Perawatan ini diberikan untuk menyokong fungsi tubuh — terutama paru-paru — yang menurun, dengan harapan tubuhmu dapat bertahan selagi fase terburuk berangsur reda. Gampangnya, kamu hanya bisa menunggu dan berharap yang terbaik selagi sistem imun tubuhmu bertarung secara alamiah. Kabar gembiranya, ini tak jarang terjadi. Menurut estimasi WHO, 80 persen kasus COVID-19 sembuh tanpa penanganan khusus. Hanya satu dari enam pasien yang sakit keras dan “kesulitan bernapas.”

Kabar buruknya, kamu tetap tak boleh jumawa. Asal tahu saja, tak semua orang yang kena COVID-19 terkapar sesak napas dan batuk-batuk heboh. Menurut Prof. Wilson, ada empat kategori pasien positif COVID-19 yang dapat diamati sejauh ini.

Kategori pertama adalah kategori “sub-klinis," yaitu orang-orang yang tidak menunjukkan gejala sama sekali, tapi sudah positif terkena virus. Kamu bisa saja positif COVID-19 walau tidak menunjukkan gejala sama sekali. Tidur yang nyenyak nanti malam, ya.

Kategori kedua adalah pasien yang positif COVID-19, dan virusnya telah menginfeksi saluran pernapasan atas. Gejala yang umum nampak di fase ini adalah demam, batuk, pusing, serta radang mata. Kategori ketiga sekaligus terbesar adalah orang yang menunjukkan gejala serupa flu. Dan kategori terakhir adalah orang yang sakit keras dan sudah mengalami pneumonia.

Semua pasien positif COVID-19, apapun kategorinya, sanggup menularkan COVID-19 ke orang lain. Virus SARS-CoV-2 juga terbukti jauh lebih gampang menular ketimbang flu biasa. Karena itu, jangan ragu dan banyak berkilah. Sebisa mungkin, patuhi anjuran untuk #JauhanSejenak dan menjaga kebersihan.