post

Current Affairs

Apa Langkah Berikutnya Bagi Eks-Wapres Mike Pence?

Raka Ibrahim, 17 November 2020

Langkah Donald Trump untuk bertahan sebagai Presiden AS hampir sepenuhnya tertutup. Apa pun yang ia lakukan, Joe Biden sudah terpilih dan akan dilantik pada Januari 2021. Namun, ada satu pertanyaan yang mungkin luput dari perhatian banyak orang: apa langkah berikutnya bagi Mike Pence, sang wakil presiden yang setia?

Walaupun tidak seheboh Trump, perjalanan karier Pence sebenarnya mirip dengan sang presiden. Ia merintis karier sebagai pesohor di media-media konservatif, kemudian terjun ke politik praktis. Menurut Michael D’Antonio, penulis buku biografi The Shadow President: The Truth About Mike Pence, sang Wapres saat itu menjuluki dirinya sendiri “Rush Limbaugh versi Decaf”, merujuk salah satu penyiar radio konservatif paling garang dan blak-blakan saat itu.

Dari situlah persona Mike Pence mulai dibangun. Pandangannya kaku, sangat lawas, tetapi ia menyampaikannya dengan lebih santun dan santai. Ia konservatif totok yang menentang aborsi dan pemenuhan hak LGBTQ, tetapi ia tak akan marah-marah sampai berbusa-busa seperti figur lain di gerakan konservatif. Pence mencitrakan dirinya sebagai sosok yang blak-blakan, tegas, tapi tidak kasar, dan citra itulah yang ia bawa ke gelanggang politik.

Menurut D’Antonio, sejak remaja Pence sudah ngebet ingin jadi presiden. Partai Republikan adalah rumah paling masuk akal untuk figur konservatif dari Amerika pedalaman sepertinya, tapi apa yang harus ia lakukan?

Pence merintis karirnya secara perlahan sebelum terpilih jadi Gubernur negara bagian Indiana pada 2012. Di sana, rekam jejaknya sebenarnya lumayan gurem. Negara bagian tersebut dikritik dari berbagai penjuru karena dianggap lamban merespons penyebaran penyakit HIV. Pence juga menandatangani aturan “kebebasan beragama” yang melanggengkan diskriminasi terhadap warga LGBTQ atas dasar kepercayaan.

Ketika Pence bergabung dengan Trump pada 2016, ia diangkat sebagai cawapres dan memosisikan dirinya sebagai sosok yang menyeimbangkan Trump. Sementara Trump blak-blakan, sok macho, dan garang, Pence terlihat lebih tenang dan bertindak selayaknya politisi kebanyakan. Namun, Pence tetap bertindak cerdik. Ia tidak mengejar panggung dan lampu sorot karena tahu itu akan membuat jengkel sang presiden. Pence duduk di balik kelir sambil memainkan bayangan.

Setelah Trump keok di Pilpres dan bersikeras ingin menggugat hasilnya ke meja hijau, Pence mulai bermanuver. Senin (9/11) lalu, Pence menyatakan dukungannya terhadap upaya gugatan Trump melalui Twitter. Namun, sehari kemudian, Pence diam saja saat ditanyai reporter soal bukti kecurangan dalam pemilu. Setelahnya, saat ring 1 Trump berkumpul dalam rapat darurat dan bersiap melancarkan gugatan, Pence malah berlibur bersama keluarganya ke pulau terpencil di lepas pantai Florida.

Seperti diwartakan The Guardian, inilah watak Mike Pence yang sesungguhnya. Pada satu sisi, ia tampak sangat setia pada Trump, tetapi selalu menghilang saat Trump membuat blunder besar. Walhasil, reputasinya terjaga sementara sang presiden dirisak sana-sini. Sebagai contoh: seluruh dunia menyalahkan Trump karena responsnya yang buruk terhadap pandemi COVID-19. Tetapi berapa banyak orang yang sadar bahwa Ketua Gugus Tugas COVID-19 AS adalah Mike Pence?

Karena itulah, tak sedikit pengamat politik yang berpendapat bahwa Pence bakal maju sebagai Capres pada Pemilu 2024. Reputasinya masih relatif bersih di kalangan elite politik, ia lebih mudah diterima oleh masyarakat konservatif AS ketimbang Trump, dan--ini kuncinya--ia populer di kalangan pemilih Kristen Evangelis. Popularitas Trump di kalangan warga Kristen taat ini merosot, dan di negara bagian yang amat religius seperti Wisconsin dan Michigan, Pence bisa menuai hasil lebih baik.

Dengan catatan: Pence tidak boleh gabut sampai 2024. Sebagian memprediksi ia akan terjun kembali sebagai senator dan terus memposisikan dirinya sebagai suara kokoh di kancah politik konservatif AS. Sebagian lagi bilang ia akan kembali merintis karir di dunia media massa, kembali ke radio, dan mulai maju sebagai penampil utama setelah empat tahun di bawah bayang-bayang Trump.

Yang jelas, karir politik Pence belum pupus.