Cegah Penyebaran COVID-19 dengan Lockdown, Perlukah?

Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan lockdown atau isolasi kota bisa jadi perlu dilakukan jika penyebaran virus Corona semakin meluas. “Apabila makin besar, maka pilihan yang dipilih banyak negara lockdown, supaya mengurangi pergerakan dari luar dan dalam,” kata Jusuf Kalla, dikutip dari Tempo.co (13/3). Jusuf Kalla mencontohkan lockdown seperti yang telah terjadi di Cina, Italia, dan Filipina. Lockdown juga telah meluas ke Spanyol dan Perancis.

Lockdown terkait COVID-19 pertama kali dilaksanakan di kota sumber virus berasal, Wuhan, pada 23 Januari lalu. Saat itu, pemerintah menginformasikan akan menutup akses transportasi-transportasi umum seperti bus, kereta, dan pesawat. Lockdown kemudian meluas ke 11 kota lain di provinsi Hubei dan berdampak terhadap lebih dari 50 juta penduduk. Beberapa kota pun mengimplementasikan lockdown secara lebih ketat dengan hanya memperbolehkan satu orang keluar dari rumah setiap dua hari sekali.

Keputusan pemerintah untuk melakukan lockdown ini dianggap “drakonian” dan “melanggar hak asasi manusia”. Namun, keputusan ini membuahkan hasil: kini, jumlah kasus dilaporkan telah berkurang tidak sampai 10 setiap harinya. Jumlah pasien yang sembuh pun telah lebih banyak dari jumlah yang sedang ditangani, sehingga pemerintah Cina memberikan pernyataan resmi bahwa negaranya telah melewati puncak epidemi. Tak lama setelah lockdown ditetapkan, WHO turut memberikan apresiasi kepada pemerintah Cina, mengatakan bahwa pemerintah telah melakukan langkah luar biasa untuk menangani wabah ini.

Selain Cina, Italia sebagai negara dengan jumlah kasus terbanyak kedua di dunia juga ikut melakukan lockdown. Awalnya, lockdown sebatas dilakukan di wilayah-wilayah paling terdampak seperti Provinsi Lodi (27/2). Penetapan lockdown kemudian meluas hingga se-nasional (9/3), membuat Italia jadi negara pertama di dunia yang menetapkan karantina di seluruh wilayahnya selama wabah virus Corona 2020.

Selama lockdown, akses untuk masuk dan keluar dari Italia dibatasi. Hampir seluruh bisnis usaha dan retail selain toko bahan makanan dan apotek juga ditutup. Italia pun telah menganjurkan agar warganya kerja di rumah, sekolah telah diliburkan, dan pertemuan massal dilarang. Setiap orang yang masih berada di tempat umum mesti berjarak dari orang lain setidaknya satu meter.

Menteri Luar Negeri Italia Luigi Di Maio berkata bahwa lockdown perlu dilakukan dengan jumlah orang yang terinfeksi di Italia telah lebih dari 20.000 kasus. Hasil evaluasi 10 kota pertama yang di-lockdown di Italia juga memperlihatkan tren penurunan penularan infeksi virus Corona. Di Maio pun mengatakan bahwa hasil dari lockdown se-nasional baru bisa terlihat selama beberapa minggu ke depan.

Berbeda dengan Italia dan Cina, Korea Selatan sebagai negara dengan jumlah kasus virus Corona keempat tertinggi di dunia memilih untuk tidak melakukan lockdown. Kasus COVID-19 sama-sama muncul di Korea Selatan dan Italia di akhir Januari, tetapi keduanya memperlihatkan tren tingkat penularan, kematian, dan kesembuhan berbeda. Di Korea Selatan, jumlah kasus baru setiap harinya telah mengalami penurunan: dari 851 kasus baru pada 3 Maret, menjadi 448 kasus baru pada 7 Maret, dan 107 kasus baru pada 14 Maret. Grafik jumlah kasus aktifnya pun telah mendatar cenderung menurun, mengindikasikan bahwa fase lonjakan kasus telah dilewati dan semakin banyak orang yang sembuh.

Grafik Jumlah Kasus Aktif COVID-19 di Korea Selatan Setiap Harinya
(sumber: worldometers.info)

Sementara itu, di Italia, jumlah kasus baru setiap harinya masih mengalami kenaikan, dari 466 kasus baru pada 3 Maret, 1.247 kasus baru pada 7 Maret, dan 3.497 kasus baru pada 14 Maret. Berbeda dengan di Korea Selatan, grafik jumlah kasus aktif di Italia masih terlihat meningkat tajam, mengindikasikan bahwa banyaknya jumlah kasus baru yang dilaporkan tidak dibarengi dengan banyaknya jumlah pasien yang sembuh. Dikabarkan pula bahwa lonjakan jumlah pasien positif virus Corona telah membuat sistem layanan kesehatan di Italia kewalahan. “Sekarang kita di-lockdown dan orang-orang mati sia-sia,” tutur Mattia Ferraresi di The Boston Globe.

Grafik Jumlah Kasus Aktif COVID-19 di Italia Setiap Harinya
(sumber: worldometers.info)

Lantas, apa yang membuat Korea Selatan tampak lebih mampu menangani wabah di negaranya dibandingkan di Italia?

Korea Selatan melalui sistem tes drive-through nya telah berhasil memproses lebih dari 200.000 tes, atau sekitar 20.000 dalam sehari. Epidemiologis Jeremy Konyndyk mengatakan bahwa tes yang dilakukan secara meluas dapat memberikan gambaran lebih baik kepada pihak berwenang untuk menentukan upaya pencegahan dan penanganan yang tepat. Ketika kapasitas untuk melakukan tes terbatas, pemerintah tidak punya cara lain selain membatasi pergerakan warga negaranya. Diketahui bahwa Italia baru melakukan 73.000 tes virus Corona hingga 13 Maret lalu, jauh berbeda dengan Korea Selatan yang telah melakukan lebih dari 222.000 tes. Sistem tes di Italia yang diutamakan bagi orang yang telah menunjukkan gejala juga dikatakan tidak secara tepat menggambarkan jumlah orang yang telah terinfeksi sebenarnya.

Selain melakukan tes, Korea Selatan juga mengedepankan sistem “trace, test, and treat”, di mana pemerintah juga menegakkan peraturan yang memberikan wewenang bagi pihak berwenang untuk mengakses rekaman CCTV, data jejak GPS seseorang lewat ponsel dan mobilnya, transaksi kartu kredit, dan informasi-informasi personal lain seseorang yang telah dikonfirmasi positif COVID-19. Penegakkan sistem ini dianggap tidak mudah dapat diimplementasikan oleh negara lain mempertimbangkan perihal dijunjung tingginya hak atas privasi individu.  

Bagi Korea Selatan, lockdown adalah pendekatan yang “close-minded”, “sebuah bentuk pemaksaan”, dan “tidak fleksibel”. Bagi negara lain seperti Italia dan Cina, lockdown adalah bentuk “pengorbanan nasib ekonomi jangka pendek yang diperlukan” dan bermanfaat secara jangka panjang. Tentunya, ini bisa menjadi contoh bagi negara besar seperti Indonesia yang masih mencoba menjauh dari kebijakan lockdown.

Selain Italia, Spanyol juga telah mendeklarasikan 15 hari lockdown dimulai dari Senin mendatang (16/3), dan Perancis yang berencana menutup toko-toko non-esensial seperti restoran, kafe, teater, bioskop, dan lain-lain dimulai dari hari Minggu ini (15/3). Begitu pula dengan Filipina yang telah melakukan lockdown sejak hari ini hingga 14 April mendatang.

Related Article