Amerika Serikat, Tanah Impian Para Imigran

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sudah mengkampanyekan kebijakan anti imigran gelap sejak masa kampanyenya. Hal itu pun masih ia kumandangkan hingga tahun ketiga masa kepemimpinannya. Kembali pada masa kampanye, Trump sempat membuat program untuk membangun tembok perbatasan antara Amerika Serikat dan Meksiko. Namun, rencana tersebut ditolak anggota legislatif Amerika Serikat.

Kini, ia mengeluarkan rencana terbarunya untuk mencegah masuknya imigran ilegal dari Meksiko. Trump mengancam akan menerapkan tarif bagi produk-produk Meksiko jika negara tersebut tidak berhasil mengurangi arus imigran ilegal yang masuk ke wilayah Amerika Serikat.

Ancaman ini pun akhirnya direspon oleh Meksiko. Pada 7 Juni 2019, Amerika Serikat dan Meksiko mengeluarkan pernyataan deklarasi bersama. Di dalam pernyataan tersebut, Meksiko berjanji akan mengambil langkah signifikan untuk meningkatkan pengawasan terhadap imigran gelap di perbatasannya. Meksiko berjanji untuk mengerahkan National Guard (tentara nasional) tidak hanya di perbatasan antara Amerika Serikat dan Meksiko (yang berada di bagian utara Meksiko), tetapi juga di perbatasan selatan negara tersebut.

Di dalam deklarasi yang sama, Amerika Serikat berjanji akan mengimplementasikan Protokol Proteksi Migran di seluruh perbatasannya dengan Meksiko. Hal ini berarti siapapun yang melintasi perbatasan selatan Amerika Serikat dengan tujuan mencari suaka, akan dikembalikan ke Meksiko sampai status suakanya diterima oleh Amerika Serikat. Kebijakan ini juga dikenal dengan istilah Remain in Mexico (Tetap di Meksiko).

Deklarasi bersama ini dapat dikatakan menjadi salah satu deklarasi yang proses negosiasinya berjalan begitu cepat. Pada hari Jumat (7/6) lalu, Amerika Serikat dan Meksiko bernegosiasi selama 12 jam penuh. Meksiko mendatangi pemerintah Amerika Serikat setelah Trump mengancam akan menerapkan tarif bagi produk-produk Meksiko per hari Senin, 10 Juni 2019. Beberapa saat setelah deklarasi bersama dilaksanakan, Trump langsung mengunggah sebuah cuitan yang menyebutkan bahwa kebijakan tarif tersebut tidak jadi diimplementasikan.

Imigran Gelap Masuk ke Amerika Serikat Masih Cukup Tinggi

Selain karena Trump, isu imigran gelap masuk ke Amerika Serikat memang sepatutnya menjadi perbincangan hangat. Hal ini disebabkan oleh semakin tingginya angka imigran gelap yang masuk ke negara tersebut, khususnya semenjak abad ke-21. Berdasarkan temuan Pew Research, pada tahun 1990, angka imigran gelap yang masuk ke Amerika Serikat tercatat ‘hanya’ sejumlah 3,5 juta orang. Memasuki tahun 2000, angka ini melonjak di angka 8,6 juta. Angka ini terus meningkat berada di titik tertinggi pada tahun 2007, yakni 12,2 juta.

Terpilihnya Donald Trump pun ternyata tidak mengurungkan niat para imigran gelap masuk ke Amerika Serikat. Tercatat, semenjak Donald Trump terpilih di tahun 2016, angka imigran gelap masih di atas 10 juta per tahunnya. Hal ini lah yang tampaknya menjadi alasan Donald Trump bertindak semakin keras kepada Meksiko.

Kenapa Banyak Imigran Ingin Menuju Amerika Serikat?

Jika melihat fenomena banyaknya imigran gelap di perbatasan selatan Amerika Serikat, hal ini menjadi sesuatu yang cukup menarik. Fenomena seperti ini tidak lah terjadi di banyak negara. Amerika Serikat menjadi salah satunya.

Salah satu tarikan utama imigran masuk ke Amerika Serikat, baik yang terdokumentasi atau tidak, adalah kesan bahwa Amerika Serikat merupakan tanah impian yang penuh dengan kesempatan. Hal ini diutarakan oleh Lisa Sasaki, direktur Pusat Asia Pasifik dan Amerika Smithsonian, yang juga merupakan generasi keempat imigran Jepang. 

“…gagasan bahwa Amerika Serikat adalah sebuah tanah impian yang dapat mengubah nasib seseorang dan dapat memperbaiki kondisi finansial, sosial, ekonomi, dan pemahaman berbudaya dalam prosesnya,” tutur Sasaki.

Amerika Serikat hadir sebagai sebuah wujud kebebasan. Menurut sejarah, Sasaki menilai bahwa banyak imigran masuk ke Amerika Serikat sebagai cara untuk kabur dari tempat yang lebih represif. Ia juga berharap kebebasan ini tidak dianggap sepele oleh warga Amerika Serikat yang sudah lebih dahulu dapat menikmatinya.

“Ada banyak hal di dalam Konstitusi dan Bill of Rights yang sebenarnya begitu istimewa, terutama bagi orang-orang yang tidak dapat menikmati kebebasan seperti yang dimiliki oleh warga Amerika Serikat,” ujar Sasaki.

Related Article