Senang Bertemu Denganmu, Tom Morello!

Halo, Tom. Akhirnya kita berjumpa.

Kamu mungkin ingat beberapa hari lalu aku menulis surat untukmu. Aku meminta pertolonganmu menumpas fantasi menggelikan para overproud Indonesians. Kupikir, perlu suara yang mereka hormati sekaligus punya daya kritis yang tak main-main untuk menggedor kuping mereka. Tepatnya suaramu, Tom.

Rupanya, nasib betul-betul mempertemukan kita. Hanya beberapa jam setelah naskah tersebut tayang, seorang kawan menghubungi saya. Kamu akan menjadi bintang tamu sebuah diskusi tertutup keesokan harinya di sebuah pusat perbelanjaan. Peserta hanya puluhan orang, acaranya tak diumumkan ke publik, bahkan konon promotor yang memboyong bandmu ke Jakarta tidak tahu soal hajatan tersebut. Seraya mengisi RSVP dan menerima kerangka diskusi melalui japri, saya membayangkan, oh, begini rasanya menjadi anggota Illuminati.

Kemudian kamu hadir, Tom, mengenakan topimu yang khas. Kamu menyapa seisi ruangan: aktivis, seniman, dan jurnalis yang semuanya ahli menyemai keributan. Perbincangan sore itu berlangsung ringkas tapi hangat. Kamu berkisah tentang masa lalumu, muasal kesadaran politikmu, dan bagaimana kamu berproses sebagai manusia. Aku baru tahu kamu gemar bernostalgia, Tom. Barangkali usia memang melunakkan kita semua.

“Aku jarang membicarakan ini, tapi semasa muda aku pernah bekerja untuk seorang senator,” katamu mengenang. “Beliau Allan Cranston, seorang Demokrat dari California.” Kedua orang tuamu lekat dengan politik dan pergerakan, dan kala itu kamu sempat berpikir begini cara terbaik merawat warisan mereka. Rupanya kamu salah. “Kami kelewat sibuk meminta donasi untuk kampanye pemilihan ulang.” Ucapmu sambil terkekeh. “Kerjaan saya menghubungi para bohir California satu per satu di ruangan yang mirip wartel, supaya senator Cranston bisa mengemis seharian.”

Sekali waktu, kantormu ditelpon seorang warga yang mengeluh bahwa imigran Meksiko menyesaki perumahannya. “Aku bilang, persetan denganmu, Bu, kamu rasis!” ujarmu. Sepulangnya ke kantor, kamu diceramahi selama dua minggu karena bikin seorang calon pemilih mengamuk. “Lantas aku berpikir, kalau aku bekerja di politik dan aku tidak boleh memarahi manusia rasis, berarti pekerjaanku salah.”

Kekecewaan itu mengajarkanmu bahwa warisan sesungguhnya dari kedua orang tuamu bukanlah politik praktis, melainkan politik radikal. Toh, Ibumu seorang aktivis tangguh dan bapakmu diplomat sebuah negara belia di Afrika. Kemerdekaan mereka mesti diraih dengan tekanan yang tak selalu sopan, bukan dengan memanfaatkan jalur politik yang mapan. Kekuatan mereka, selain keuletan dan semangat juang yang keras kepala, adalah imajinasi.

Kurasa ini pesan penting, Tom, sebab politik kami butuh imajinasi. Bayangkan, kami melewati dua pemilihan presiden berturut-turut dengan calon presiden yang persis sama. Tak ada calon ketiga yang sedikitnya menambahi pekerjaan tukang layout surat suara.

Kisah kedua kandidat ini adalah cerminan dari perkembangan demokrasi dunia selama satu dekade terakhir. Sudah banyak literatur yang membahas bangkitnya gerakan populis di seluruh dunia. Ketidakpastian ekonomi, rasa frustrasi terhadap elit politik, dan institusi negara yang keropos mendorong pemilih di berbagai negara untuk memeluk kandidat yang menawarkan solusi sederhana tapi reaksioner. Politik sentris semakin sepi peminat. Hampir tiap negara Eropa kini punya partai kiri radikal atau kanan ekstrem yang kuat. Contoh paling dahsyat tentu negaramu, Tom. Pada 2016, Amerika Serikat melantik Presiden yang mencalonkan diri hanya dengan modal bacot.

Sudah tentu wajah populisme di benuaku agak berbeda. Seperti dilansir Council on Foreign Relations, politik populis di Asia Tenggara tak begitu fokus menggalang rasa khawatir akan kemerosotan ekonomi, membanjirnya imigran, dan perang dagang. Gerakan populis Asia Tenggara justru lebih sibuk memanfaatkan ketegangan antaretnis atau agama, serta rasa frustrasi kelas menengah terhadap layanan publik yang bobrok.

Meski populisme sudah jadi penyakit sejak Pilpres 2014, saat itu sentimen keagamaan belum menjadi faktor kunci dalam kampanye politik kedua Capres. Joko Widodo masih mencitrakan dirinya sebagai seseorang yang sederhana dan hobi blusukan, sementara Prabowo Subianto masih memosisikan diri sebagai kandidat yang tegas dan nasionalis. Setelah 2014, kita menyaksikan kebangkitan ngeri apa yang disebut Roy Murtadho sebagai Islam Politik, atau yang disebut The New York Times sebagai faith politics.

Pada Pilgub 2016 DKI Jakarta, kami melantik Cagub yang terang-terangan menunggangi sentimen keagamaan dan ras, kemudian memenjarakan Cagub lain atas tuduhan penistaan agama. Seterusnya, sentimen agama menjadi perkara tak terpisahkan dari politik. The New York Times menyadari perubahan subtil ini. Kemenangan Joko Widodo pada Pilpres 2014 dielu-elukan sebagai kemenangan bagi “Islam moderat”, tapi kini ia merangkul Wakil Presiden yang konservatif. Prabowo Subianto tetap berkoar tentang takdirnya sebagai penyelamat bangsa, tapi semasa Pilpres kubunya bermesraan dengan organisasi-organisasi keagamaan ekstrem.

Walhasil, Tom, politik lesser evil masih laris manis. Pada Pilpres kemarin, pendukung salah satu kandidat meromantisir upaya mereka sebagai jihad, sementara pendukung kandidat sebelah bersikeras bahwa “orang baik” harus tetap berkuasa. Kagetkah kamu, Tom, bahwa pihak yang memilih golput sebab tak satu kandidat pun bisa menerbitkan harapan justru dirisak oleh para pendukung "orang baik"? Aku banyak mendengar bahwa diam berarti membiarkan si jahat berkuasa. Persoalannya, tidak diam pun si jahat akan berkuasa. Lesser evil tetaplah evil, Tom. Sejak kapan kami melupakan itu?

Sore itu, percakapan soal politik lesser evil nampaknya membuatmu geli. “Harus diakui, aku orangnya keras kepala,” ucapmu. “Aku ingin berjuang untuk dunia yang betul-betul aku impikan. Dunia yang damai, di mana tak ada rasisme, kemiskinan, dan harga diri semua orang dijaga. Kalau kamu berkompromi dan percaya kamu bakal kalah, kamu akan kalah betulan. Perjuangkan apa yang kamu mau dan jangan kasih kendor.”

Tentu saja, perubahan ini tak mungkin dicapai sendirian. Seorang hadirin sempat bertanya apakah kamu punya pesan khusus bagi minoritas etnis, kepercayaan, maupun orientasi seksual yang tengah ditekan di Indonesia. “Persekusi bukan barang baru,” katamu. “Satu-satunya cara untuk menumpasnya adalah dengan mengorganisir diri. Dan kalian tidak bisa bergerak terpecah-belah. Kekuatan kalian ada saat kalian bersama. IMF takkan menyelamatkan kalian, pemerintah Amerika Serikat jelas tak akan menyelamatkan kalian. Orang-orang seperti kita hanya memiliki satu sama lain.”

Pertanyaan genting yang dihadapi gerakan semacam ini adalah metode. Seberapa jauhkah orang seperti kita hendak melangkah? “Fakta bahwa di Amerika Serikat anti-fasis menjadi kontroversi itu gila,” ucapmu, heran. “Namun, menurutku banyak orang yang khawatir soal naiknya fasisme, tapi mentok di persoalan legitimacy of violence.”

“Mereka menentang ide bahwa ada kalanya kekerasan itu perlu untuk memperjuangkan keadilan. Sebab dalam bayangan mereka hanya aparat dan pendukung Trump yang 'pantas' memakai kekerasan.” Memang benar bahwa kejahatan mesti dilawan dengan kebaikan, tuturmu, tapi kawan-kawan pengorganisir tak bisa naif. “Rasa muak harus diartikulasikan entah dengan karya, kata-kata, dan kadang dengan batu bata,” tuturmu.

Menjelang bubarnya diskusi tersebut, aku mafhum bahwa kamu telah bertambah tua dan romantis. Jelas masih ada api yang membara dalam dirimu, Tom, tapi kamu tak lagi tergesa. “Saat kecil, aku pikir Tembok Berlin tak akan pernah runtuh dan apartheid akan abadi.” Kenangmu, sambil tersenyum lebar. “Keduanya digilas oleh anak muda yang mengorganisir diri.” Barangkali pelajaran dari sejarah inilah yang membuatmu lebih tenang. Tanpa mesti grasa-grusu sekalipun, rasa muak akan selalu menemukan ruang.

Mungkin di sinilah letak kesalahanku, Tom. Aku mengajakmu membalik pikiran usang karena aku membutuhkan rekan, atau paling tidak corong, yang setara kadar amarahnya. Namun, waktu mengubahmu. Ketika seorang hadirin bertanya apakah kamu masih seorang anarkis, kamu menjawab bahwa kini kamu cuma pelatih liga bisbol anak-anak. Ketimbang melayani ajakan hadirin bernostalgia tentang Rage Against The Machine, kamu justru lebih semangat membicarakan Firebrand Records, label rekaman yang kamu dirikan untuk musisi-musisi muda yang memiliki semangat politik radikal.

Kamu telah menemukan pojok yang tenang dan asri di mana kamu dapat menyaksikan dunia terbakar. Dan siapa yang layak menyalahkanmu?

Aku paham dilemamu, Tom. Aku tahu kamu masih gemas ingin mengomel. Ambil contoh persoalan konflik di Indonesia Timur saat ini. Seorang hadirin sempat menanyakan pendapatmu tentang konflik tersebut, dan kamu membalas dengan tegas. “Bapakku seorang Kenya dan Ibuku orang Amerika Serikat, keduanya negara bekas jajahan.” Tuturmu. “Oleh karena itu, aku pasti berpendapat bahwa semua orang berhak memperjuangkan kebebasannya.”

“Tentu aku tidak ingin menceramahi kalian,” katamu melanjutkan. “Namun, sekian dekade lalu penjajah Eropa datang ke tanahmu, menggambar perbatasan teritori yang arbitrer, lantas bilang kalian bagian dari tempat tersebut. Aku percaya bahwa jika kamu emoh menganggap tanah arbitrer itu sebagai kampung halamanmu, kamu berhak memperjuangkan sesuatu yang berbeda.”

Nada bicaramu berapi-api saat kamu mengingatkan bahwa baik negaramu maupun negaraku punya sejarah menjadi terjajah dan penjajah. Namun di sisi lain, kamu seorang figur publik yang dihormati dan ini pertama kalinya kamu manggung di Indonesia. Kamu mesti berkompromi. Sehari setelah pertemuan tersebut, kamu memainkan Indonesia Raya sebelum Prophets of Rage manggung dan kamu mendekorasi gitarmu dengan tulisan Bhinneka Tunggal Ika. Aku tidak bisa bohong, Tom. Sikapmu agak katro.

Bisa jadi, penampilan itu jadi pelajaran yang lebih penting buatku. Gerakan yang kelewat sibuk mengelu-elukan tokoh dan menghimpun dukungan selebritas itu hampa. “Aku justru malu kalau hadir di acara seperti ini dan diperlakukan seolah aku pahlawan,” ucapmu pada para hadirin. “Karena aku tidak berbuat apa-apa. Paling banter, aku cuma mengenalkan publik pada kegiatan nyata yang dilakukan oleh orang-orang hebat seperti kalian.”

“Percayalah,” ujarmu. “Perubahan nyata justru diprakarsai oleh orang yang biasa-biasa saja.” Sebab, orang yang biasa-biasa saja dan tak punya apa-apa tak perlu berkompromi dan bersembunyi. Toh, kami mau kehilangan apa lagi? Pada akhirnya kamu benar, Tom. Kami harus menyelamatkan diri kami sendiri. Orang-orang sepertimu adalah pengeras suara yang lantang, tapi kamilah yang harus berteriak.

Terima kasih, Tom. Terima kasih telah mengingatkan kami bahwa kekuatan sesungguhnya ada di tangan kami, sekarang dan selamanya. Aku berjanji, lain kali kamu kemari, bangsaku sudah berubah. Kami tidak akan lagi menjadi pengemis validasi sehingga kamu mesti memainkan Indonesia Raya untuk menggugah ego kami. Kamu dapat menjadi dirimu sendiri, Tom. Kamu boleh berbicara apa adanya.

Hanya satu permintaanku, Tom. Kali berikutnya kamu tampil di sini, jangan lupa bawa kawanmu. Yang suaranya cempreng, rambutnya gimbal, dan banyak bacot itu.

Related Article