Seperti Iklan Gerindra, Mereka Lulus dari Fakultas Arsitek Tapi Tidak Bekerja Sesuai Pendidikannya

Iklan politik ‘kerja-kerja-kerja’ milik Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) cukup mengundang kontroversi. Dalam video kampanye pasangan nomor urut 02 itu menggambarkan bagaimana seseorang yang lulus dari jurusan arsitektur sulit mencari kerja. Ketua Umum Ikatan Arsitek Indonesia Ahmad Djuhara periode 2018-2021 pun respon atas video tersebut.

Ia menilai ada bias dari iklan kampanye tersebut tentang profesi arsitek dan perlu diluruskan."Iklan kampanye ini bisa memberi dua pesan: cari kerja susah dan jadi arsitek susah," tulisnya menggunakan akun @djuhara saat membalas unggahan video iklan Gerindra. Lebih dari itu, ia meminta Gerindra untuk memperbaiki materi iklannya.

Memang, dalam dunia kenyataan pun lulusan arsitek tidak sekelam yang digambarkan dalam iklan “Bergerak” ala Gerindra. Buktinya, ada banyak tokoh di Indonesia yang merupakan lulusan teknik arsitektur namun bisa sukses dengan caranya masing-masing. Siapa saja mereka?

Bondan Winarno “Maknyos”

Siapa yang tak kenal dengan Bondan Winarno, seorang pencicip makanan legendaris yang punya jargon “Maknyos”? Dia adalah pelpor Jalansutra, suatu komunitas wisata boga yang sangat terkenal di Indonesia. Bondan juga seorang presenter dalam acara kuliner di Trans TV, yaitu Wisata Kuliner.

Perlu diketahui nih, kalau beliau yang telah wafat pada 29 November 2018 lalu ini sempat menjadi mahasiswa jurusan Teknik Arsitektur dari Universitas Diponegoro, Semarang. Sebelum berhasil menjadi pengusaha rumah makan, Bondan juga pernah menjadi penulis yang cukup sukses.

Tulisannya dimuat di berbagai penerbitan seperti Kompas, Sinar Harapan, Asian Wall Street Journa, dan Tempo. Bukunya berjudul Gazelle bahkan menang dalam lomba penulisan cerpen di majalah Femina. Di tahun 1984-1987, pria kelahiran Surabaya, 29 April 1950 ini bahkan dipercayai menjadi kepala redaktur di majalah SWA.

Tjie Tjin Hoan (Ciputra)

Tjie Tjin Hoan atau lebih dikenal dengan nama Ciputra adalah seorang konglomerat dan salah satu raja properti di negeri ini. Ia kerap masuk dalam deretan orang terkaya yang diurut oleh majalah Forbes. Sebagai seorang pengusaha, Ciputra adalah sosok di balik perusahaan Jaya Group, Metropolitan Group, dan Ciputra Group.

Penting untuk dicatat, bahwa sosok yang dipandang sebagai filantropi ini dulunya adalah lulusan Teknik Arsitektur dari Institut Teknologi Bandung. Sosok di balik proyek Ancol ini berani terus berinovasi dengan mendirikan grup perusahaan keluarganya sendiri, yaitu Ciputra Group.

Pada masa krisis ekonomi, tepatnya pada 1997 beberapa usahanya ikut terkena imbas. Ada Bank Ciputra yang ditutup oleh Pemerintah, Asuransi Jiwa Ciputra Allstate yang baru dirintis pun ikut ditutup. Namun kini usahanya kembali berkembang, bahkan telah berekspansi hingga ke luar negeri.

Erwin Gutawa

Komposer musik biasanya tak begitu terkenal sebab kerjanya berada di belakang layar. Namun hal itu tak terjadi pada pada Erwin Gutawa Sumapraja. Ia adalah seorang produer serta penata musik di konser-konser besar penyanyi. Di antaranya konser musik Harvey Malaiholo, Ruth Sahanaya, Chrisye, Titi DJ, Krisdayanti, dan Rossa.

Setelah lulus dari Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Indonesia pada tahun 1986, ia terjun sepenuhnya ke bidang musik. Tahun 1985-1993 ia bergabung dengan Karimata, sebuah band fusion jazz yang merilis lima album. Pada tahun 1993 ia mendirikan Erwin Gutawa Orkestra.

Tak hanya pandai dalam bermusik, ayah dari Gita Gutawa ini juga ikut mengambil peran dalam beberapa film. Ia ikut di film Sebatang Kara (1973), Jangan Kau Tangisi (1974), Permata Bunda (1974), dan Fajar Menyingsing (1975). Namun kepandaiannya dalam menata musik lah yang membawa Erwin Gutawa mendapatkan pennghargaan.

Nicolas Saputra

Sosok yang baru saja mendapatkan piala citra sebagai “Pemeran Pendukug Pria Terbaik” di FFI 2018 ini dulunya adalah mahasiwa jurusan Teknik Arsitektur, Universitas Indonesia. Nicolas Saputra lulus kuliah dan mendapatkan gelar sarjana pada Januari 2007 silam.

Namun, hingga saat ini Nicolas masih dikenal sebagai seorang aktor. Sebab sebelumnya, ia berperan sebagai Rangga di film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) pada tahun 2002. Film AADC senidiri sukses dan dianggap sebagai tanda kebangkitan dunia perfilman Indonesia.

Dari filmnya itu Nicolas dinominasikan sebagai aktor terbaik dalam Festival Film Indonesia 2004. Kemudian di tahun 2005 ia barula mendapatkan kemenangan sebagai aktor utama pria terbaik di film Gie. Tak hanya mendapatkan penghargaa, pria kelahiran Jakarta, 24 Februari 1984 ini sempat menjadi juri Best Asian Films dalam Singapore International Film Festival 2008 yang memperebutkan Silver Screen Awards.

Ridwan Kamil

Ridwan Kamil, tokoh publik yang cukup melek media sosial kini terpilih menjadi Gubernur Jawa Barat. Perlu diketahui pula, bahwa Ridwan Kamil adalah lulusan Teknik Arsitektur di Institut Teknologi Bandung. Kemudian mengambil S-2 di University of California, Berkeley.

Selagi mengambil S-2 di Universitas tersebut Ridwan Kamil bekerja paruh waktu di Departemen Perencanaan Kota Berkeley. Pada tahun 2002, mantan Wali Kota Bandung ini pulang ke tanah kelahirannya Indonesia. Dua tahun kemudian barulah ia mendirikan Urbane, perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa konsultan perencanaan, arsitektur dan desain.

Tak hanya menjadi Gubernur, Ridwan Kamil tetap aktif menjabat sebagai Prinsipal PT Urbane Indonesia, Dosen Jurusan Teknik Arsitektur Institut Teknologi Bandung, serta Senior Urban Design Consultant SOM, EDAW (Hong Kong & San Francisco), dan SAA (Singapura).

Related Article