Koalisi 'Aneh' Prabowo Berkat Dukungan Anak Soekarno-Soeharto

Pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) nomor urut dua masing-masing punya cara sendiri dalam berkampanye. Jika publik sudah mulai terbiasa dengan cawapres Sandiaga Salahuddin Uno yang kerap datang ke pasar-pasar tradisional, capres Prabowo Subianto justru kerap tampil dalam acara seminar, deklarasi, dan agenda-agenda formal lainnya.

Pada Kamis, 21 November 2018 kemarin saja, Prabowo baru menghadiri agenda pembekalan relawan Prabowo-Sandi, di Istora Senayan, Jakarta. Dalam sambutannya di depan ribuan relawan, Prabowo bilang kalau kelompok opisisi yang ia beri nama Koalisi Indonesia Adil Makmur itu agak aneh. Hal itu karena dalam satu koalisi tercampur dari berbagai tokoh yang dulunya saling berseberangan.

"Saudara-saudara, kalau kalian perhatikan hari ini, koalisi Indonesia Adil Makmur ini koalisi yang agak aneh. Anda pehatikan enggak, di sini ada anaknya Bung karno, Mbak Rachmawati. Ada juga anaknya Pak Harto," ujar Prabowo.

Menurut Prabowo, Presiden RI ke-1 Soekarno dengan Presiden RI-2 Soeharto kerap dianggap memiliki paham yang berseberangan. Namun, kini  keturunan dari kedua tokoh tersebut justru kompak dalam mengusung pasangan capres-cawapres nomor urut 02.

"Jadi dulu Pak Harto pernah dianggap berseberangan dengan Bung Karno, bayangkan Pak Harto berseberangan dengan Bung Karno, anaknya Pak Harto sekarang sama-sama dengan anaknya Bung Karno," kata Prabowo.

Siapa saja anak Pak Harto dan Bung Karno yang ia maksud?

Titiek Soehato yang Setia Dukung Prabowo

Sebelum berpindah ke Partai Berkarya, Siti Hediati Hariyadi alias Titiek Soeharto dulunya adalah politikus dari Partai Golkar. Kala itu ia mengaku akan mendukung capres manapun yang diusung Golkar. "Kalau partai dukung Jokowi, ya Pak Jokowi. Nggak ada masala. Saya kan cuma petugas partai, partai ke mana, ya saya ikut," kata Titiek di Hotel Sultan, Jakarta, Kamis, 22 Maret 2018.

Sementara, Partai Golkar yang mengusung capres petahana nomor  urut 01 Joko Widodo itu sudah diputuska sejak Rapat Pimpinan Nasional (rapimnas) 2016 silam. Demikian pula di Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Golkar pada Desember 2017 lalu yang juga mengeluarkan lima poin berisi apresiasi terhadap pemerintahan Jokowi-JK. 

Namun jauh sebelum itu, pada Pilpres 2014, Titiek sendiri sempat mendukung pasangan Prabowo dan Hatta Rajasa. Selain itu, pada Pilkada DKI lalu, Titiek juga pernah tidak mengikuti keputusan Partai Golkar yang mendukung Ahok-Djarot dan memilih mendukung Anies-Sandi, dan kini Titiek memilih berpindah haluan ke partai Berkarya.

"Saya memutuskan untuk keluar dari Partai Golkar dan memilih untuk memperjuangkan kepentingan rakyat melalui Partai Berkarya," katanya saat deklarasi bergabung ke Partai Berkarya, Senin 11 Juni 2018.

Berkarya sendiri adalah nama partai yang dibuat Tommy Soeharto, sosok yang masih memiliki tali persaudaraan kandung dengan Titiek. Berkat keputusannya keluar dari Partai Golkar, Titiek pun otomatis kehilangan keanggotannya sebagai anggota di DPR.

"Saya mohon pamit kepada teman-teman di DPR, terima kasih untuk persahabatan dan kebersamaan kita selama ini," demikian salam Titiek, yang membuat dirinya kembali dukung Prabowo sebagai calon presiden di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 nanti.

Rachmawati Soekarnoputri yang Konsisten Menolak Kepemimpinan Jokowi

Rachmawati Soekarnoputri memang merupakan anak kandung Presiden Soekarno dan merupakan adik dari Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri. Namun, baik Rachmawati dan Megawati kerap memiliki pandanga politik yang berbeda. Jika Megawati justru mendukung Jokowi dan berhasil menjadikan Jokowi sebagai Presiden RI ke-7, Rachmawati malah tak pernah setuju dengan pilihan tersebut.

Bahkan, saat sempat menjadi Ketua Dewan Pertimbangan Partai Nasdem, Rachmawati terpaksa diberhentikan dari jabatannya karena partainya adalah pendukung pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla saat di Pilpres 2014 lalu.

"Kami melihat perlu diadakan pengambilan keputusan untuk mengganti Ketua Dewan Pertimbangan Rachmawati dengan alasan bahwa ada sebuah perbedaan pandangan yang cukup tajam yang menurut kami tidak sesuai dengan etika dan disiplin organisasi serta basis perjuangan partai," kata Sekretaris Jenderal Partai Nasdem Patrice Rio Capella saat konferensi pers di Kantor DPP Partai Nasdem, Jakarta, Selasa, 5Agustus 2014 lalu.

Keputusan tersebut sepakat diambil setelah Ketua Umum Nasdem Surya Paloh, jajaran Majelis Tinggi, dan jajaran Dewan Pertimbangan mengadakan rapat internal. Bagi Patrice, prosedur pemecatan itu pun sudah sesuai dengan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga partai.

Kala itu, posisi Rachmawati langsung digantikan Maxi Gunawan yang sebelumnya menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan. Hingga kini, Rachmawati juga masih enggan untuk memberikan dukungannya kepada calon presiden petahana Jokowi. Perempuan kelahiran Jakarta, 27 September 1950 itu bahkan telah berlabuh ke Partai Gerindra, dan siap menyongsong Pilpres dengan memilih Prabowo-Sandi sebagai capres-cawapres 2019.

Related Article