Kata Media Asing soal Prabowo Subianto dan Pemilu Indonesia

Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 kembali menjadi pertarungan Prabowo Subianto, sosok yang sudah dikenal banyak orang Indonesia, maupun luar negeri. Bagaimana tidak, ia adalah seorang mantan tentara pada masa Orde Baru. Pada masa kampanye pilpres kemarin, ia pun menjadi pemberitaan berbagai media, dalam maupun luar negeri. Salah satu pemberitaannya adalah terkait gaya orasinya yang terlihat keras dan berapi-api. Dalam rangkaian debat pilpres, di kampanye akbar, atau pun di hadapan para kader partai yang ia bangun dan pimpin saat ini, Prabowo sering terlihat berbicara dengan suara lantang dan bersemangat.

The Guardian, salah satu media sayap kiri asal Inggris, juga punya cerita mengenai pengalaman jurnalisnya menghabiskan satu hari bersama Prabowo. Jurnalis tersebut bernama Kate Lamb dan ia berkesempatan mewawancarai Prabowo dari atas jet pribadinya. Kesempatan langka itu ia dapat ketika Prabowo dalam perjalanan menuju Palembang untuk menghadiri salah satu acara kampanye.

Dalam berita yang dilansir Guardian, Lamb menuturkan bahwa ia menanyakan beberapa pertanyaan yang cukup serius. Yang menarik dari cerita Lamb adalah dikabarkan bahwa gaya bicara Prabowo tetap sama di depan Lamb. Lantang dan berapi-api.

Apalagi Lamb menanyakan beberapa hal sensitif, seperti pertanyaann terkait politik identitas dan "pemanfaatan" kaum konservatif Muslim untuk meraup suara. Pertanyaan Lamb ternyata membuat Prabowo cukup geram. Menurut artikel Lamb, Prabowo mengungkapkan bahwa dirinya bukanlah seseorang yang takut pada orang berkulit putih. Ia juga menyatakan agar mereka tidak mengajarkan dirinya tentang demokrasi.

I am not somebody who is afraid of white people (saya bukanlah seseorang yang takut pada manusia berkulit putih),” ujar Prabowo, seperti dilansir dari artikel yang terbit pada hari terakhir kampanye, Sabtu, 13 April 2019.

Tidak sampai situ saja, Prabowo melanjutkan ucapannya.

Don’t come and teach me democracy! Don’t teach me politics of identity, I know! I was a commander, I had Christian soldiers, Hindu soldiers, die under my command. You think I am going to betray them? (jangan datang dan ajarkan saya demokrasi! Jangan ajarkan saya tentang politik identitas, saya tahu! Saya adalah seorang komandan, saya pernah memimpin tentara yang beragama Kristen, tentara yang beragama Hindu, meninggal di bawah komando saya. Kamu pikir saya akan mengkhianati mereka?),” lanjut Prabowo.

Beragam Pandangan Media Asing tentang Pemilu Serentak 2019

Liputan media asing terkait Pemilu serentak 2019 ini memang cukup menarik untuk dibahas. Terutama, liputan-liputan yang berkaitan dengan Pilpres. Nikkei Asian Review, misalnya, dalam salah satu artikelnya, menggambarkan calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi) sebagai Obama dan calon presiden nomor urut 02 Prabowo sebagai Trump. Hal ini dikarenakan selayaknya Obama, Jokowi dianggap lebih dekat dengan kelompok akar rumput yang telah memenangkannya di tahun 2014 yang lalu. Sedangkan Prabowo dianggap seperti Trump karena lebih memilih untuk menjadi seorang negarawan yang berapi-api dan keras, tanpa mempedulikan narasi-narasi kebenaran politis (political correctness).

Media asal Singapura, Straits Times, sudah sejak bulan Januari 2019 lalu mewanti-wanti performa kedua pasangan calon. Menurutnya, meskipun Jokowi sudah memimpin dalam berbagai survei, ia harus tetap berhati-hati. Beberapa survei seperti Brexit dan Pemilu Presiden Amerika Serikat 2016 menjadi tanda bahwa tidak selamanya survei bisa dijadikan acuan.

Straits Times juga paham bahwa Prabowo, yang sudah gagal dua kali sebagai calon presiden, tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang ketiga ini. Selayaknya latar belakang Prabowo sebagai tentara, ia akan berjuang sampai titik darah penghabisan. Terlebih kali ini, Prabowo dianggap memiliki material yang cukup untuk dapat mengekspos kelemahan-kelemahan Jokowi selama masa kepemimpinannya.

Sedangkan media besar lainnya, yakni Al-Jazeera, dalam salah satu artikelnya menggarisbawahi peran militer yang kuat dalam Pemilu Indonesia kali ini. Ia menyebutkan bahwa kentalnya narasi militer di sisi Prabowo nampak jelas dari latar belakang Prabowo yang merupakan mantan tentara. Sedangkan di belakang Jokowi, ada Luhut Binsar Panjaitan, AM Hendropriyono, dan Wiranto yang juga kental dengan latar belakang militer.

Pemberitaan Media Asing Cukup Kritis

Terkait dengan liputan media asing tentang Pemilu Indonesia kali ini, Direktur Eksekutif Remotivi Roy Thaniago menuturkan bahwa menurutnya, mengkategorisasikan Jokowi sebagai Obama dan Prabowo sebagai Trump terlalu mensimplifikasi. Namun, ia juga tidak menutup mata bahwa ada beberapa liputan media asing yang cukup kritis tentang Pemilu kali ini.

“Betul, terlalu mensimplifikasi kompleksitas yang dimiliki Pemilu Indonesia. Tapi bisa juga dilihat pemberitaan yang lebih kritis seperti di Al-Jazeera, The Guardian, dan The New York Times,” ujar Roy kepada Asumsi.co, Senin (15/4).

Menurut Roy, pembahasan yang cukup kritis tersebut salah satunya adalahartikel Al-Jazeera tentang militerisme di belakang kedua kubu. Ia merasa bahwa ada sudut pandang media asing tentang Jokowi dan Indonesia yang terkoreksi, terutama jika dibandingkan dengan Pilpres 2014 yang lalu.

“Di Al-Jazeera misalnya ngebahas soal militerisme di belakang kedua kubu. New York Times, lewat esainya Eka Kurniawan, juga membahas soal kemenangan kelompok Islamis. Ada sudut pandang lama mereka soal Jokowi dan Indonesia yang terkoreksi,” tutur Roy.

Related Article