Gara-gara Salah Menangani Pandemi, Presiden Brasil Jair Bolsonaro Ditinggalkan

Lupakan sejenak Cina, AS, apalagi Indonesia. Belakangan, Brasil terus menerus menuai sorotan tajam akibat penanganan pandemi COVID-19 yang morat-marit. Sang presiden, Jair Bolsonaro, terang-terangan meremehkan virus tersebut dan bersikeras ekonomi mesti terus bergulir. Hasilnya? Pemberontakan pemda, serangkaian insiden menggelikan, serta jumlah kasus positif COVID-19 terbanyak kedua di dunia.

Senin (6/7) lalu, Bolsonaro muncul di hadapan pendukungnya di Istana Negara dan menyampaikan kabar menggemparkan: ia baru saja dites COVID-19. Lagi. Pasalnya, setelah berkegiatan pekan sebelumnya, ia mengalami gejala sakit serupa COVID-19. Setelah melakukan scan paru-paru, ia menyatakan bahwa “paru-parunya bersih.” Hingga kini, hasil tes COVID-19nya belum dirilis secara resmi ke publik.

Ini kali kedua Bolsonaro bersinggungan dengan COVID-19. Maret lalu, seluruh delegasi pemerintah AS harus dites usai salah seorang staff Bolsonaro kedapatan positif COVID-19 setelah pertemuan bilateral dengan Presiden AS, Donald Trump. Sempat tersiar kabar bahwa Bolsonaro rupanya positif COVID-19. Namun, ia buru-buru menyanggah berita tersebut, seraya menghardik media karena menyebarkan “berita bohong.”

Lebih ngeri lagi, pekan lalu ia sibuk wara-wiri seolah pandemi telah lenyap dengan ajaib dari muka bumi. Kamis (2/7) lalu, ia tampak batuk-batuk dalam acara publik dengan enam pejabat lain yang juga tak memakai masker. Di antaranya ada Menteri Pengembangan Daerah serta petinggi bank negara, Caixa Economica Federal. Pada perayaan kemerdekaan AS tanggal 4 Juli, ia tampak berpose akrab dengan para perwakilan Kedubes AS. Lagi-lagi, macam jamet pelanggar PSBB, tak satupun dari mereka memakai masker.

Kalau kamu bingung kenapa Bolsonaro tampak enteng-enteng saja menghadapi pandemi, kamu tidak sendirian. Sejak awal pandemi sekalipun, Bolsonaro dikritik karena dinilai meremehkan dampak pandemi ke negara yang ia pimpin.

Pada awal Maret, ia berulang kali bersikeras bahwa pandemi ini “dilebih-lebihkan” sebab flu saja membunuh lebih banyak orang. Ia pun mengaku geram karena virus ini dinilai “menyebabkan kepanikan” di berbagai unsur masyarakat. Bahkan, ia sempat berkelakar bahwa COVID-19 “cuma seperti flu biasa.” 

Tentu saja, ia tak sekalipun menaati anjuran WHO untuk menghindari kerumunan, menerapkan social distancing, dan memakai masker. Bolsonaro tak hanya masih berkeliling tanpa masker. Ia bahkan kerap mengadakan jumpa pers dan acara publik yang melanggar kaidah social distancing. Bolsonaro baru mulai memakai masker pada 24 Juni, setelah ia terang-terangan diperintahkan hakim untuk mengenakan masker atau menghadapi denda.

Bolsonaro pun kerap mengeluarkan pernyataan kontroversial di saat yang sangat tak tepat. Mei lalu, saat negara bagian di Brasil berbondong-bondong melakukan karantina untuk mengurangi dampak pandemi, ia mencak-mencak karena takut ekonomi negara bakal oleng. Dua hari setelah ia marah-marah, angka kematian di Brasil mencapai 10 ribu jiwa. 

Ia pun berkonflik dengan anggota Kabinet-nya sendiri. April sebelumnya, Bolsonaro memecat Menteri Kesehatan Luiz Mandetta karena tidak sepemahaman dengannya soal penerapan aturan karantina. Penggantinya, Nelson Teich, mengundurkan diri setelah kurang dari sebulan menjabat melalui pesan WhatsApp gara-gara frustrasi dengan kepemimpinan Bolsonaro. 

Alih-alih langsung memilih pengganti Teich, 16 Mei lalu Bolsonaro justru kedapatan mengikuti demo menentang karantina di Ibukota Brasil. Tentu saja, ia tidak memakai masker. Pada hari yang sama, jumlah korban meninggal diumumkan mencapai 15 ribu jiwa, dan angka tersebut terus menerus menanjak. Hingga Senin (6/7) lalu, Brasil mencatat 65,487 kematian serta lebih dari 1.62 juta kasus positif COVID-19. Ini angka tertinggi kedua di dunia, hanya dipecundangi oleh AS.

Tak ayal, lembaga internasional dan pakar kesehatan masyarakat rame-rame menghujat sikap Bolsonaro. Palang Merah Internasional, misalnya, menuding Bolsonaro mempolitisir pandemi tersebut serta “memecah-belah negaranya.” WHO menyatakan bahwa komitmen politik dan kebijakan Bolsonaro tak sepadan dengan ancaman yang sedang dihadapi. Adapun epidemiolog Albert Ko memperingatkan Bolsonaro bahwa Brasil memiliki banyak wilayah kota berpenduduk padat yang dapat menjadi lahan basah untuk penyebaran virus SARS-CoV-2.

Namun yang lebih mengejutkan adalah pemberontakan dari dalam pemerintahan serta masyarakat Brasil itu sendiri. Jika kamu pikir drama pemerintah pusat versus pemerintah daerah di Indonesia sudah mencengangkan, tunggu sampai kamu tahu betapa sensasionalnya adegan berantem antara Bolsonaro dan berbagai pemda di Brasil.

Arahan Bolsonaro untuk melonggarkan karantina dan membuka kembali perekonomian tak diacuhkan oleh para gubernur di Brasil, yang masih khawatir melihat menanjaknya jumlah kasus COVID-19. Gubernur Rio de Janeiro, Wilson Witzel, bilang ke Bolsonaro dalam sebuah pertemuan daring bahwa dia tidak akan menuruti perintah pemerintah pusat untuk melonggarkan karantina. Gubernur Goias, Ronaldo Caiado, menuduh Bolsonaro “melepas tanggung jawab” dan tak “bersikap selayaknya pemimpin.” 

Gubernur negara bagian Santa Catarina, Carlos Moises, juga menyatakan bahwa ia “kaget” mendengar perintah presiden dan tak akan menaatinya. Semua pernyataan ini mengejutkan, sebab Witzel maupun Caiado tadinya dikenal sekutu akrab Bolsonaro, dan 80 persen rakyat di negara bagian Santa Catarina memilih Bolsonaro di Pilpres lalu. 

Gubernur Sao Paulo, Joao Doria, lebih ngegas lagi. Dalam sebuah konferensi pers, ia menyatakan bahwa Brasil “tengah bertarung melawan dua virus: COVID-19 dan Bolsonaro.” Di tengah pandemi, 26 Gubernur negara bagian Brasil memutuskan mengadakan rapat akbar untuk mengkoordinasi upaya penanggulangan pandemi. Bolsonaro maupun perwakilan pemerintah pusat tak diundang. Tak heran bila sebagian pengamat menyatakan bahwa Bolsonaro “menghadapi pemberontakan” dari Gubernur-Gubernurnya sendiri.

Pengusaha-pengusaha gede Brasil pun menentang Bolsonaro. Candido Bracher, presiden bank terbesar Brasil, Itau Unibanco, mengkritik kepemimpinan sang presiden dalam wawancara sensasional yang dipublikasikan di harian nasional O Globo. Perusahaan raksasa lain seperti Petrobras, Vale, dan Ambev juga berbondong-bondong mengirimkan donasi langsung kepada pemerintah daerah supaya mereka menangani pandemi dengan cara mereka sendiri.

Masih belum puas? Maret lalu, tersiar kabar yang menggelikan: para mafia dan geng yang merajai daerah-daerah gurem perkotaan Brasil rupanya berkeliling untuk memastikan warga menaati aturan social distancing. Melalui pesan broadcast di WhatsApp, geng lokal memperingatkan bahwa warga yang melanggar aturan karantina “akan menghadapi konsekuensi serius.”

Ketika Gubernur, pengusaha, bahkan geng saja sudah meninggalkan Bolsonaro, tidak jelas lagi apa fungsi sang presiden dalam upaya menanggulangi pandemi. Di tengah dunia yang masih berusaha keras beradaptasi dengan keadaan, Jair Bolsonaro berdiri sendirian.

Related Article