Anies Baswedan Ingin Revitalisasi Monas: Pencitraan Jangan Sampai Salah Sasaran

Berbicara tentang Jakarta, tentu salah satu ruang publik yang paling digemari warganya adalah Monumen Nasional (Monas). Bangunan yang mulai dibangun oleh Soekarno di tanggal 17 Agustus 1961 itu dirampungkan pada era kepresidenan Soeharto, tepatnya 14 tahun kemudian. Bangunan ini dibangun dengan tujuan mengenang perjuangan kemerdekaan Indonesia di Jakarta, sekaligus memberikan warga Jakarta ruang publik yang dapat dimanfaatkan bersama. Di tahun 2019 nanti tepat 44 tahun rampungnya Monas. Bersamaan dengan itu, pemerintah provinsi DKI Jakarta pun akan merevitalisasi Monas besar-besaran. Tidak main-main, anggaran yang digelontorkan dari APBD DKI Jakarta sebesar Rp150 miliar.

Revitalisasi Monas yang memakan anggaran besar tersebut tentunya menimbulkan pro dan kontra. Di satu sisi, pemerintah mengatakan bahwa Monas adalah bangunan bersejarah yang perlu dirawat dan dijaga. Hal ini seperti diucapkan oleh Plt Kepala Dinas Pariwisata dan kebudayaan DKI Jakarta, Asiantoro, di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (10/12) kemarin. Ia merasa bahwa kusamnya Monas menandakan perlunya revitalisasi besar-besaran. “Itu lihat enggak sekarang yang temboknya hitam-hitam itu kenapa? Tahun lalu, kinclongnya seketika, cuma sebentar, sehingga ini nih kebuka, kena air jadi rusak. Karena itu loh, jaman dulu,” ungkap Asiantoro pada media. Ia pun mengonfirmasi bahwa angaran tersebut termasuk untuk merevitalisasi taman di Monas. “150 miliar ya termasuk untuk itu lah, taman-tamannya semua, perawatannya,” lanjutnya.

Untuk membuat revitalisasi ini menjadi tidak sia-sia, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pun mengatakan bahwa ia ingin mempersiapkan sayembara agar penataan Monas menjadi lebih modern. “Nanti kita tunjukkan gambarnya saja rencana revitalisasi nya. Sebetulnya, ya dari revitalisasi itu akan lebih komprehensif lagi, sekarang sedang disiapkan sayembara untuk penataan Monas. Nanti kalau sudah ada pemenang, kemudian kita mulai kerjakan,“ ungkap Anies, ketika ditemui media di kawasan Sudirman, Selasa (4/12) yang lalu. Kemudian, secara spesifik, Anies mengatakan ia akan memodernisasi bagian diorama dengan menambahkan fasilitas audio visual. “Itu bagian orang bisa lihat tuh, dulu orang bikin diorama bisa begini, sekarang sudah bisa 3D. Sekarang sudah dengan kacamata, orang bisa merasakan pengalaman audio visual lengkap. Kalau mau bikin diorama, sekarang sudah bisa imajinasi muncul seperti reality nanti itu bagian dari revitalisasi.”

Di sisi yang lain, revitalisasi Monas juga menuai kritik. Peneliti Indonesia Budget Center (IBC) Ibeth koesrini merasa bahwa program revitalisasi dilakukan tanpa konseptualisasi yang matang. “Ini mencerminkan program tidak disertai perencanaan yang matang, namun anggaran sudah dialokasikan. Dalam prinsipnya, anggaran tanpa perencanaan sama dengean pemborosan. Melanggar prinsip efisiensi,” ungkap Ibeth, Selasa (11/12) kemarin, seperti dilansir dari Tirto.id.

Revitalisasi Monas Dibutuhkan, Namun tidak Perlu Tergesa-gesa

Sebenarnya, revitalisasi Monas yang direncanakan oleh Pemda DKI Jakarta adalah sesuatu yang masuk akal, mengingat umur bangunan Monas sudah tidak muda lagi. Jumlah penduduk Jakarta yang terus meningkat, meningkatkan urgensi hadirnya ruang publik yang besar dan nyaman. Di sini lah mengapa revitalisasi Monas menjadi satu keharusan.

Meski begitu, rasanya revitalisasi yang direncanakan untuk Monas nampak tergesa-gesa. Biaya yang sudah direncanakan begitu besar, namun belum ada sama sekali konsep pembangunan. Bayangkan jika sampai akhir 2019, ternyata belum ada perencanaan yang sesuai dengan harapan Anies. Uang sudah dianggarkan, namun belum tentu terpakai sesuai dengan rencana. Daripada enggak jelas, lebih baik dianggarkan untuk taman-taman kecil yang belum direvitalisasi di seluruh DKI Jakarta. Dengan begitu, penggunaan uang pun tetap tepat sasaran, yaitu menghadirkan ruang publik yang nyaman untuk masyarakat berinteraksi satu sama lain.

Related Article