Isu Terkini

Riset: Pola Makan Ala Barat Picu Risiko ADHD dan Autisme

Yopi Makdori — Asumsi.co

featured image
Pexels/Anna Shvets/Ilustrasi CT Scan Otak

Penelitian menunjukkan bahwa pola makan ala Barat meningkatkan risiko kondisi neurodevelopmental — termasuk ADHD dan autisme.

Sebuah studi besar dari Universitas Kopenhagen, Denmark menemukan bahwa pola makan ala Barat selama kehamilan dapat mempengaruhi bayi di masa depan dan meningkatkan risiko mereka mengembangkan ADHD dan autisme.

Pola makan ala Barat ditandai dengan tingkat lemak, gula, dan makanan olahan yang tinggi, serta tingkat sayuran, buah, dan ikan yang rendah.

Para peneliti menganalisis data dari lebih dari 61.000 ibu dan anak-anak mereka dan menemukan hubungan kuat antara jenis pola makan ini dengan gangguan neurodevelopmental di kemudian hari. Bahkan perubahan kecil menuju pola makan ala Barat dikaitkan dengan tingginya angka ADHD, dan satu kelompok juga menunjukkan hubungan dengan autisme.

Studi komprehensif ini melibatkan lebih dari 60.000 pasangan ibu-anak yang diambil dari empat kohort besar, yakni COPSAC2010, Danish National Birth Cohort (DNBC), VDAART dari Amerika Serikat, dan COPSAC2000. Para peneliti menggunakan data dari catatan pola makan, analisis darah melalui teknik metabolomik, data genetik, serta diagnosis klinis untuk menyelidiki hubungan antara asupan makanan selama kehamilan dengan perkembangan otak anak.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin besar kecenderungan seorang ibu untuk mengonsumsi makanan bergaya Barat, semakin tinggi pula risiko anaknya mengalami ADHD dan autisme. Bahkan pergeseran moderat menuju pola makan ini dikaitkan dengan peningkatan risiko sebesar 66% untuk ADHD dan 122% untuk autisme. Efek tersebut paling kuat terlihat pada trimester pertama dan kedua, menandakan bahwa periode awal kehamilan merupakan masa kritis bagi perkembangan otak janin.

Analisis darah mengungkapkan 43 metabolit spesifik yang berhubungan dengan pola makan Barat, dimana 15 di antaranya secara khusus dikaitkan dengan peningkatan risiko ADHD. Banyak dari metabolit tersebut berperan dalam mengatur peradangan dan stres oksidatif—faktor penting dalam perkembangan neurologis.

Efek yang paling kuat muncul pada trimester pertama dan kedua, menunjukkan bahwa awal kehamilan merupakan periode kritis untuk perkembangan otak. Tes darah mengungkapkan adanya penanda peradangan dan kerusakan sel yang terkait dengan pola makan para ibu, yang memberikan penjelasan yang mungkin mengenai efek pada otak.

Meskipun penelitian ini bersifat observasional dan tidak membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung, temuan tersebut menunjukkan bahwa perbaikan pola makan bahkan secara moderat selama kehamilan dapat berpotensi mengurangi risiko gangguan neurodevelopmental pada anak. Para peneliti pun mendesak perlunya panduan diet yang lebih terfokus pada nutrisi bagi wanita hamil, mengingat rekomendasi saat ini di Denmark masih mirip dengan pola makan umum.

Selain itu, studi ini juga mengingatkan bahwa faktor genetik, BMI yang lebih tinggi, kebiasaan merokok, dan penggunaan antibiotik selama kehamilan merupakan variabel yang turut memengaruhi perkembangan anak. Meski demikian, hubungan antara pola makan ibu yang bergaya Barat dan risiko ADHD serta autisme tetap tampak jelas setelah disesuaikan dengan faktor-faktor tersebut.

Selain dampak pada hasil kehamilan, pola makan ala Barat juga telah dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan, termasuk obesitas, diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular, dan peradangan kronis.

Konsumsi jangka panjang makanan tinggi lemak, tinggi gula, dan rendah nutrisi dapat mengganggu fungsi metabolik dan sistem kekebalan, yang tidak hanya mempengaruhi kesehatan individu tetapi juga dapat memengaruhi perkembangan janin selama kehamilan.

Baca Juga:

Menghilangkan Guyonan ‘Autis’ dan ‘Cacat’ yang Sama Sekali Enggak Lucu

Musik Bantu Pahami Emosi Manusia

Dalih Risma Paksa Penyandang Disabilitas Rungu Bicara

Share: Riset: Pola Makan Ala Barat Picu Risiko ADHD dan Autisme