Internasional

Ilmuwan Hubungkan Vaksin COVID-19 dengan Sindrom Baru yang Mengkhawatirkan

Yopi Makdori — Asumsi.co

featured image
Pixabay/Torstensimon/Ilustrasi Vaksin Covid-19

Para ilmuwan dari Universitas Yale, Amerika Serikat (AS) telah mengidentifikasi kondisi baru yang mengkhawatirkan. Kondisi ini disebut berkemungkinan terkait dengan vaksin COVID-19, yang mereka sebut sebagai “Sindrom Pasca-Vaksinasi” (PVS).

Kondisi ini ditandai dengan berbagai gejala seperti intoleransi terhadap aktivitas fisik, kelelahan berlebihan, mati rasa, kabut otak, insomnia, palpitasi, tinnitus, pusing, nyeri otot, dan perubahan biologis pada sistem kekebalan tubuh.

Meskipun vaksin COVID-19 telah mencegah jutaan kematian, sebagian kecil individu melaporkan mengalami gejala-gejala ini setelah vaksinasi. PVS saat ini belum diakui secara resmi oleh otoritas kesehatan, yang membatasi perawatan dan dukungan bagi individu yang terdampak.

Peneliti utama, Dr. Akiko Iwasaki, menekankan perlunya penelitian lebih lanjut dan pendanaan untuk memvalidasi temuan ini serta meningkatkan diagnosis, pengobatan, dan keamanan vaksin.

“Pekerjaan ini masih dalam tahap awal, dan kami perlu memvalidasi temuan ini. Namun, ini memberi kami harapan bahwa mungkin ada sesuatu yang dapat kami gunakan untuk mengobati PVS di kemudian hari,” kata Dr. Akiko Iwasaki.

Dilansir melalui News.com.au, studi ini mengumpulkan sampel darah dari 42 individu dengan PVS dan 22 individu sehat. Para ilmuwan lantas menemukan tingkat protein spike virus Corona yang lebih tinggi pada mereka dengan PVS. Namun, studi ini belum dipublikasikan dalam jurnal ilmiah.

Protein-protein ini juga ditemukan pada 134 subjek yang terinfeksi virus Corona dan mengalami gejala dalam jangka waktu yang lama.

Namun, kesamaan tersebut tidak berhenti di situ, karena kedua kelompok menunjukkan reaktivasi virus Epstein-Barr, yang berarti bahwa pasien dengan PVS terdampak negatif oleh vaksin dan mungkin akan terus mengalami masalah kesehatan selama bertahun-tahun.

“Itu mengejutkan menemukan protein spike masih bersirkulasi pada titik waktu yang begitu lama,” katanya.

Selain itu, penelitian ini mengamati perbedaan dalam profil imun antara individu dengan PVS dan kelompok kontrol, termasuk penurunan sel T CD4+ memori dan efektor, serta peningkatan sel T CD8+ yang memproduksi TNF-α.

Beberapa individu dengan PVS juga menunjukkan reaktivasi virus Epstein-Barr (EBV) dan keberadaan protein spike SARS-CoV-2 yang persisten dalam sirkulasi darah mereka. Bahkan lebih dari 700 hari setelah vaksinasi terakhir.

Temuan ini memberikan petunjuk awal tentang mekanisme potensial di balik PVS, meskipun penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami kondisi ini secara lebih mendalam dan mengembangkan strategi diagnostik serta terapeutik yang efektif.

Penting untuk dicatat bahwa penelitian ini masih dalam tahap awal dan belum melalui proses peer-review. Oleh karena itu, temuan-temuan ini harus ditafsirkan dengan hati-hati hingga penelitian lebih lanjut dapat mengonfirmasi hasil-hasil tersebut.

Baca Juga:

Melampaui COVID-19, WHO Sebut TB jadi Penyakit Menular Paling Mematikan

Mengenal Florona, Gabungan Flu dan Corona yang Terjadi di Israel

AstraZeneca Tarik Vaksin Covid-19 di Seluruh Dunia

Share: Ilmuwan Hubungkan Vaksin COVID-19 dengan Sindrom Baru yang Mengkhawatirkan