Internasional

Setelah Ratusan Tahun, Ilmuwan Akhirnya Berhasil Identifikasi Identitas Jack the Ripper

Yopi Makdori — Asumsi.co

featured image
Flickr/Adrian Ace/Kolase Foto Korban Jack the Ripper

Seorang sejarawan mengklaim telah mengidentifikasi sosok pembunuh berantai yang dikenal sebagai Jack the Ripper. Dalam sebuah wawancara dengan program “Today” di Australia, sejarawan Russell Edwards mengungkapkan identitas yang diklaimnya sebuah nama yang telah lama dicurigai sebagai pelaku sebenarnya.

Jack the Ripper adalah pembunuh berantai terkenal yang membunuh lima wanita di distrik miskin Whitechapel, London, Inggris, pada tahun 1888.

Menurut laporan The Mirror, para korban, yakni Mary Ann Nichols, Annie Chapman, Elizabeth Stride, Catherine Eddowes, dan Mary Jane Kelly, dibunuh dalam rentang waktu sembilan minggu. Semua korban ditemukan dengan tenggorokan tergorok, mengalami luka pasca-mortem, dan beberapa di antaranya kehilangan bagian tubuhnya, yakni menimpa Chapman, Eddowes, dan Kelly.

Menurut Jack the Ripper Museum, pembunuhan ini mengejutkan dunia dan menginspirasi banyak teori, buku, serta film.

Nama “Jack the Ripper” berasal dari sebuah surat yang dikirimkan ke Central News Office di London, yang berisi klaim tentang pembunuhan tersebut dan ditandatangani dengan nama tersebut.

Edwards, yang telah menulis dua buku tentang Jack the Ripper, mengklaim bahwa pembunuhnya adalah “Aaron Kosminski”, seorang pria keturunan Polandia yang pindah ke London dan bekerja sebagai tukang cukur.

Kosminski berusia 23 tahun saat pembunuhan terjadi dan telah lama dicurigai sebagai pelaku. Ketika meninggal pada tahun 1919, ia berada di rumah sakit jiwa karena menderita skizofrenia. Ia telah dirawat secara paksa selama 28 tahun terakhir hidupnya.

Laporan polisi yang diungkap pada tahun 1894, menunjukkan bahwa penyelidik menduga Kosminski sebagai tersangka utama karena ia memiliki kebencian besar terhadap wanita, terutama dari kalangan pekerja seks, serta kecenderungan membunuh yang kuat.

Pada saat itu, polisi menyimpulkan bahwa semua korban adalah pekerja seks, tetapi hal ini belum sepenuhnya terbukti.

“Semua wanita kecuali satu dibunuh di tempat terbuka, dalam gelap, yang membuat polisi berasumsi bahwa mereka dibujuk oleh seorang pembunuh gila untuk berhubungan seks,” menurut laporan Penguin, dikutip melalui FOX 5 New York.

Namun, hasil pemeriksaan forensik menunjukkan bahwa Jack the Ripper tidak pernah melakukan hubungan seksual dengan para korbannya.

“Bahkan, tiga dari wanita tersebut sering tidur di jalanan, dan pada malam mereka dibunuh, mereka tidak memiliki uang untuk menyewa tempat tinggal. Pemeriksaan jenazah menunjukkan bahwa semua korban dibunuh dalam posisi berbaring dan tidak ada tanda-tanda perlawanan,” katanya.

Namun, alih-alih menyimpulkan bahwa Jack the Ripper membunuh wanita saat mereka sedang tidur, polisi tetap berpegang pada teori bahwa para korban adalah pekerja seks, sementara banyak media memanfaatkan kisah ini untuk keuntungan mereka.

Hampir 120 tahun setelah pembunuhan terjadi, Edwards mengaku membeli selendang berlumuran darah yang diduga ditinggalkan di tempat kejadian salah satu pembunuhan.

Metode Menarik Kesimpulan

Awalnya, Edwards meragukan keaslian selendang itu, tetapi setelah dilakukan tes DNA, sampel sperma yang ditemukan di kain tersebut dikaitkan dengan kerabat perempuan dari saudara perempuan Kosminski.

Edwards pertama kali menamai Kosminski sebagai pembunuh dalam bukunya yang diterbitkan pada tahun 2014. Namun, menurut laporan Science pada tahun 2019, saat itu, para ahli genetika meragukan klaim ini, karena hanya sedikit detail teknis tentang analisis sampel genetik dari selendang yang tersedia.

“Bukti ini kemudian diperkuat dengan sampel DNA dari cicit tertua dari saudara laki-laki Kosminski,” kata Edwards.

Edwards juga menyatakan bahwa hasil penelitiannya mengaitkan Kosminski dengan kelompok rahasia Freemason, yang mungkin menjadi motif dalam pembunuhan mengerikan ini serta membantu melindunginya dari hukum.

Edwards dan beberapa keturunan korban kini meminta Pengadilan Tinggi Inggris untuk melakukan penyelidikan resmi guna menetapkan Kosminski sebagai pembunuhnya.

Karen Miller, cicit-cicit-cicit dari Catherine Eddowes, mengatakan bahwa mengabadikan nama pembunuh dalam catatan resmi akan memberikan keadilan bagi para korban yang tidak pernah mendapatkannya pada masanya.

“Selama ini, perhatian selalu tertuju pada si pembunuh dan nama ikoniknya, tetapi orang-orang melupakan korban yang tidak mendapatkan keadilan,” kata Miller kepada The Daily Mail.

“Bagaimana dengan nama asli orang yang melakukan semua ini? Jika orang yang sebenarnya diidentifikasi secara hukum dalam pengadilan yang dapat mempertimbangkan semua bukti, itu akan menjadi bentuk keadilan bagi para korban,” tambahnya.

Menurut Miller, hal ini akan sangat berarti bagi dirinya dan keluarganya, dan banyak orang lainnya untuk akhirnya melihat kasus ini terselesaikan.

Baca Juga:

Peneliti ICW Lapor Bareskrim karena Dapat Ancaman Pembunuhan Usai Kritik Jokowi Masuk Nominasi Tokoh Terkorup OCCRP

Trump Janji Hukum Mati Pelaku Pemerkosaan dan Pembunuhan

Laporan Terbaru Ungkap Rincian Mengerikan Penyiksaan dan Pembunuhan Dokter Bedah yang Bertugas di RS Indonesia Gaza

Share: Setelah Ratusan Tahun, Ilmuwan Akhirnya Berhasil Identifikasi Identitas Jack the Ripper