Pasukan keamanan Bangladesh telah menangkap 1.308 orang dalam “Operasi Perburuan Iblis”, yang diluncurkan pada Sabtu (8/2/2025) malam waktu setempat. Operasi ini dilakukan di tengah gelombang vandalisme nasional.
Pemerintah sementara berjanji akan terus melakukan penumpasan hingga “semua iblis” diberantas. Pemerintah sementara yang dipimpin oleh Penasihat Utama Muhammad Yunus memerintahkan operasi ini di hari yang sama, setelah aktivis mahasiswa terluka dalam aksi perusakan rumah seorang pemimpin Liga Awami di pinggiran Dhaka.
Beberapa media besar, termasuk The Daily Star, melaporkan bahwa pasukan gabungan yang terdiri dari tentara, polisi, dan unit khusus telah menangkap 274 orang dalam 24 jam pertama operasi tersebut. Sebagian besar dari mereka ditangkap di kota-kota metropolitan dan wilayah lainnya di seluruh negeri.
“Operasi ini akan menargetkan mereka yang berusaha menciptakan ketidakstabilan di negara ini… operasi ini akan terus berlangsung hingga semua iblis diberantas,” ujar Penasihat Urusan Dalam Negeri, Letjen (Purn) Jahangir Alam Chowdhury, seperti dikutip melalui The Hindu.
Menurut laporan media, 81 aktivis Liga Awami, partai mantan Perdana Menteri Sheikh Hasina, ditangkap di Gazipur, pinggiran Dhaka, tempat awal bentrokan yang menyebabkan otoritas mengeluarkan perintah untuk Operasi Perburuan Iblis.
Pada Jumat malam, 14 orang dari kelompok perusuh yang menyerang simbol-simbol Liga Awami terluka dalam bentrokan di daerah Dakshinkhan, Gazipur. Kekerasan ini terjadi ketika massa menyerang rumah mantan Menteri Urusan Perang Kemerdekaan, Mozammel Haque.
Haque adalah salah satu dari banyak pemimpin senior Liga Awami yang kini melarikan diri, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, sejak pemerintahan Hasina digulingkan dalam pemberontakan mahasiswa. Beberapa tokoh lainnya juga telah ditangkap.
Mantan Perdana Menteri Sheikh Hasina, yang kini berusia 77 tahun, didakwa dengan berbagai tuduhan, termasuk kejahatan terhadap kemanusiaan, karena melakukan penindakan brutal terhadap pemberontakan besar pada Juli 2024. Pemberontakan ini akhirnya menyebabkan kejatuhannya pada 5 Agustus 2024.
Baca Juga:
Etnis Bersenjata Diduga Bantai Ratusan Muslim Ronghingya ketika Akan Mengungsi ke Bangladesh
Peraih Nobel Muhammad Yunus Ditunjuk jadi Pemimpin Pemerintahan Sementara Bangladesh