Internasional

Haiti Dikuasai Geng Bersenjata, Status Darurat Diberlakukan

Manda Firmansyah — Asumsi.co

featured image
Kekerasan geng di Haiti. ANTARA/Xinhua/pri. (ANTARA/Xinhua)

Haiti memberlakukan status darurat 72 jam dan jam malam usai sedikitnya 10 orang tewas akibat pelarian massal dari penjara yang terletak di Port-au-Prince. Dilansir dari Antara, geng bersenjata menyerbu penjara terbesar di Haiti itu pada Minggu (3/3/2024) pagi dan membebaskan sedikitnya 3.600 narapidana. Geng bersenjata juga menyerang satu penjara lainnya yang lebih kecil.

Media setempat melaporkan kemungkinan jumlah korban tewas akan bertambah. Bahkan, pemerintah Haiti belum menginformasi apapun mengenai situasi kacau ini.

Pihak berwenang telah memerintahkan polisi untuk menggunakan segala cara yang legal untuk menegakkan jam malam.

Haiti telah lama berada dalam krisis politik dan sosial yang meningkat setelah pembunuhan Presiden Jovenel Moise pada 7 Juli 2021. Haiti mengalami peningkatan aktivitas kelompok kriminal yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sedangkan situasi kemanusiaan di Haiti semakin memburuk akibat bencana alam seperti banjir besar, hujan lebat dan gempa bumi.

Kondisi di Haiti semakin memanas sejak awal Februari 2024 akibat janji Perdana Menteri (PM) Haiti Ariel Henry untuk menyelenggarakan Pemilu ternyata tidak dilaksanakan dengan alasan situasi keamanan yang belum kondusif.

Sementara itu, Kedutaan Besar RI (KBRI) Havana merangkap Haiti melaporkan warga negara Indonesia (WNI) yang bekerja sebagai spa terapis di Port-au-Prince berada dalam keadaan aman dan tempat mereka bekerja jauh dari wilayah konflik. KBRI Havana mengimbau para WNI untuk waspada serta tetap berada di rumah mengingat kondisi politik dan keamanan di ibu kota Haiti tersebut.

KBRI Havana berencana melakukan evakuasi melalui jalur darat ke negara tetangga, Republik Dominika. KBRI Havana juga berencana akan mendorong para WNI untuk keluar dari Haiti dan mencari pekerjaan di negara Karibia lainnya yang lebih aman.

Dubes Indonesia di Havana, Nana Yuliana menyebut, geng bersenjata saat ini telah menguasai 80% wilayah ibu kota Port-au-Prince. Situasi di Haiti sangat mencekam. Terjadi pembunuhan acak dan tindak kekerasan terhadap masyarakat yang diduga anggota geng lawan. Penjarahan terhadap rumah dan toko warga terjadi di mana-mana. Juga terjadi penculikan serta pembakaran rumah warga hingga kendaraan polisi.

Geng bersenjata juga menembaki Bandara Port-au-Prince. Dampaknya, bandara, kantor pemerintah, sekolah, dan pertokohan di Port-au-Prince ditutup. Di beberapa tempat lingkungan masyarakat, warga melakukan pengamanan mandiri dengan mengangkat senjata, menutup jalan, dan pembakaran ban bekas untuk mencegah masuknya geng.

Geng terkuat di Haiti, Barbecue, bertekad menahan kepala polisi nasional dan para menteri kabinet PM Ariel Henry. Mereka akan mencegah Ariel kembali ke Haiti.

Pada 29 Februari lalu, Ariel Henry berkunjung ke Kenya untuk membahas kerja sama keamanan dan pasukan yang akan dikirim untuk menegakkan kondisi keamanan di Haiti di bawah pasukan keamanan multinasional PBB. Hingga berita ini diturunkan, keberadaan Ariel Henry masih belum diketahui.

Share: Haiti Dikuasai Geng Bersenjata, Status Darurat Diberlakukan